Situbondo Kembali Masuk Daerah Tertinggal Di Indonesia, Ada Kekuatan Siluman Yang Maunya Begitu?

image

Setiap 5 tahun sekali Pemerintah mengumumkan daerah-daerah tertinggal di Indonesia. Hal itu termaktub dalam Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang penetapan daerah tertinggal 2015-2019. Untuk periode tersebut, terdapat 122 daerah tingkat dua yang masuk kategori tertinggal di Indonesia. Dan, untuk Jawa Timur ada 4 daerah kabupaten tertinggal.

Keempat daerah itu adalah Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang dan Kabupaten Situbondo. Hadeuh… Situbondo masuk lagi. Di periode 2011-2015 Situbondo juga masuk, dan Jawa Timur ada 5 daerah tertinggal selain 4 kabupaten di atas satu lagi adalah Pamekasan. Pamekasan sudah berhasil lepas dari predikat tertinggal di periode ini.

Baca: Situbondo… Daerah Dengan-Panjang Pantai 150 Km Itu Termasuk Daerah Tertinggal. Tanya Kenapa?

Sungguh miris membacanya. RA yang sedari kecil sudah menghirup udara Situbondo memang merasa perkembangan pembangunan infrastruktur (yang paling terlihat) tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Sepanjang jalur Pantura, bangunan-bangunan sentra bisnis nyaris gak ada. Pertokoan juga begitu-begitu saja. Pusat perbelanjaan, kalau ini Brosis sebut mall, maka siap-siaplah kecewa sebab gak ada satupun mall berdiri di sini. Pusat perbelanjaan terbesar hanya sekelas Karunia Darma Sentosa (KDS). Pabrik-pabrik paling sekelas pabrik tahu dan pabrik kerupuk dengan daya serap pekerja di bawah 20 orang. Paling besar pabrik pengalengan udang di wilayah Landangan.

Siapa yang salah? Mencari penyebab tertinggalnya Situbondo lumayan sulit walau sebenarnya mudah andaikan semua pihak mau terbuka.

Banyak beredar selentingan kabar yang termasuk massive bahwa sebenarnya investor dari luar Situbondo ada beberapa yang bermaksud menanamkan modalnya di Kora Santri ini. Namun, hal itu terbentur dengan sebuah kekuatan siluman yang sepertinya “menghambat” berkembangnya Situbondo. Pemimpin yang dipilih secara langsung oleh rakyat hanya sebagai simbol bahwa Situbondo punya pemimpin yang diakui secara hukum ketatanegaraan. Alhasil, beberapa kebijakan penting terkait investasi yang akan masuk ke Situbondo menjadi mentok di hadapan kekuatan siluman itu.

Sebagai contoh, beberapa tahun silam ada isu di daerah Mangaran akan dibangun pabrik pengilangan minyak bumi, entah mengapa sampai detik ini itu hanya sampai tingkat isu. Kabarnya investor tidak mau meneruskan investasinya karena situasi tidak kondusif dari sisi finansial perusahaan. Isu yang lain menyebutkan bahwa di daerah pasar buah Panji sebenarnya akan dibangun pusat perbelanjaan Matahari Mall. Lahan sudah ada dan siap dibangun, akhirnya juga gagal. Kabarnya penyebabnya adalah perijinan dari kekuatan tidak terlihat itu yang tidak turun. Dan mungkin masih ada beberapa isu lain yang RA tidak mendengarnya.

Sebenarnya potensi Situbondo ada di sektor wisata laut. Situbondo punya Pantai yang sudah terkenal se Indonesia, Pantai Pasir Putih. Pantai yang terletak pas di jalur pantura Jakarta – Bali punya posisi strategis sebagai destinasi wisata bagi siapapun yang hendak bepergian dari Jakarta – Bali atau sebaliknya. Tempat transit yang sempurna sebelum melanjutkan perjalanan. Namun sayang, entah apakah pengelola Pasir Putih tidak melihat potensi itu atau memang belum sampai ke sana pemikirannya, alhasil Pasir Putih makin ditinggal pelancong. Miris…

Alhasil, sejak RA masih sekolah tingkat pertama sekitar akhir tahun 90-an hingga kini mau beranak dua di tahun 2016, kondisi Situbondo nyaris sama saja. Bahkan sampai berganti pemimpin beberapa kali hasilnya sami mawon. Dan, koq pikiran negatif RA mengatakan bahwa kondisi ini akan tetap begini siapapun pemimpinnya jika kekuatan siluman itu masih sangat besar. Jadi, agak mengejutkan jika di periode 2019-2023 nanti Situbondo tidak lagi menjadi daerah tertinggal andai kondisinya tetap begini. Pesimis? Bolehlah dikatakan begitu, tapi ini lebih ke arah relistis dengan kondisi yang ada.

Tapi, jika Brosis tinggal di Situbondo hal yang menyenangkan adalah gak ada macet, kecuali pas lampu merah nyala, polusi udara minim walaupun masih tetap panas khas daerah pesisir dan barang-barang konsumsi masih relatif murah. Itu mungkin ya efek belum majunya sebuah daerah.

monggo mampir ke:
Twitter @karismapr
Faceebook Karis Mauyy
Blog sportupdate5 , rideralam , karismauyy.wordpress

Advertisements

23 Comments

        • Sayang pak, yg kmrn itu wakilnya tengil banget. Saya ilang respek sejak debat kedua atau ketiga gitu pas dia bilang “urusan investasi di situbondo gampang, saya banyak kenalan di pusat”. Maksudnya baik, tapi semua ada aturannya, kalau dia begitu modelnya, bukan tdk mungkin untuk urusan lain akan menggampangkan juga sehingga menabrak aturan. Kita memang butuh pemimpin revolusioner tapi bukan yg hanya menonjolkan kesombongannya seolah2 ia menguasai semua hal. Padahal hanya mengandalkan kekuasaannya saja. Andai wakil nya bukan itu, misalkan saja pak rahmat (misal lho ya) saya dukung deh. Yg terpilih bukan karena faktor P1 tapi P2 yang lebih baik

  1. coba kita gunakan sudut pandang lain mas. sudut pandang islam. maka akan kita temui beberapa faktor sbb: secara jawa timur penganut islamnya sangat menjaga prinsip2 syariat / akidahnya kuat sehingga jauh dari memprioritaskan sektor yang malah menjauhkan dari agama. dengan religiusnya masyarakat di sana membuat alat ukur tingkat kesejahteraan suatu penduduk berbeda sehingga di sana masyarakatnya sudah merasa sejahtera (bisa makan, meraih pendidikan, berobat, dan bekerja). doa orang2 religius adalah dijauhkan fitnah dunia, maka bisa jadi hal2 yang terlalu nikmat membuat mereka lalai sehingga yang Maha Ghaib mengilhamkan untuk mengkondisi negeri situbondo begitu saja lantaran belum siapnya masyarakat menerima nantinya (kalo aspal mulus bsa lahir alay bahaya kan). sebagai masyarakat yang religius dan kuat akidahnya, maka patut lah seorang hamba beriman menerima ujian yang ujian itu akan menambah iman mereka (sebab tuhan sendiri yang memaksudkan bahwa ‘aku beriman, padahal dia belum diuji keimanammya sebagaimana orang dulu diuji (ujian orang dulu adalah digergaji kepalanya apakah dia teguh dengan imannya)) maka jangan liat zohirnya situbondo saja tapi dalamnya. mungkin itu mas RA sudut pandang lainnya.

    • sepakaaat. Disinilah harga yang tidak tergantikan, ibaratnya Situbondo sudah punya sistem sendiri yang lebih baik dari pemerintah.

      Kadangkala kita berpikir apakah ketika industri maju pesat, Situbondo masih menjadi kota Santri, apa justru mudharatnya lebih banyak.

      Tetap pertahankan pertanian karena sektor pertanian lebih menguntungkan banyak rakyat. Pendidikan agama sudah cukup baik, tinggal ditambah lifeskill untuk wirausaha.

  2. mungkin pemimpinnya perlu impor dari luar, kang..?
    yg lebih bisa melihat potensi ekonomi suatu daerah malah orang luar biasanya..

  3. Ohh pro lilur ya?
    Kekuatan siluman? Maksut anda kyai” situbondo?
    Astaghfirullah tobat mas
    Kalau pengen tau birokrasi yg sebenarnya ayo share sama saya ..saya hanya mahasiswa yang dr kelas 2 SMA terjun langsung d birokrasi Bumi Shonar
    Situbondo tdk akan lepas dr status itu jika org”nya seperti situ semua ..yang bisanya hanya mengkritik namun tidak action dlm mengembangkan kota ini
    Share sama saya yuk .. email nomernya situ ya

  4. wah wah disini jadi ajang curhat warga situbondo ya

    memang benar yang saya rasakan disini selama 2 tahun bebas macet, begitu pindah ke Jakarta sangat kontras.

    saya agak beda pendapat, karena saya merasakan sendiri sulitnya investor masuk. Tapi saya merasa pelan tapi pasti disinilah kekuatan Situbondo yang tak tergoyahkan pengaruh investor luar.

    Kuat karena ga bergantung pemerintah.

    Maksimalkan potensi pertanian yang ada. Sudah ada dana desa mestinya cukup untuk membuat program pertanian yang maju.

    ingatlah, semakin bergantung pada investor, semakin hilang kemandirian, semakin mudah dijajah.

    Saya ingat waktu penimbunan sawah dengan material yang entah diambil darimana, setahun kemudian bencana longsor terjadi, semoga saja bukan karena bukit yang dikeruk batunya hehe.

  5. Saya orang pendatang dari Kutai kartanegara lebih tepatnya Tenggarong, saya pindah ke situbondo tahun 2010, ikut ortu karena ortu di dinaskan ke kabupaten ini, awal saya melihat situbondo terkesan bakal hebat kabupaten ini suatu saat nanti, tahun 2010-2014 ternyata yang saya lihat begitu-begitu saja gak ada perubahan di bandingan dengan kota asal saya, dari saya tinggalkan dan pada tahun 2014 saya kembali untuk liburan kesana karena sudah 4 tahun gak pulang, betapa takjubnya saya melihat kota kebesaran saya, sektor pariwisatanya benar2 mereka kelola dengan serius, saya sebagai orang borneo melihat potensi situbondo sebenarnya besar cuma yang jadi kendala adalah mainset orang2nya yg gak mau memajukan kota nya sendiri terkesan “ah situbondo” “apa rah situbondo kota tak maju2” coba ubah mainset semacam itu jadi “bagaimana kalo saya merubah kota ini lebih baik” “bagaimana kalo saya fokus untuk mengelola sektor pariwisata”
    cintai lah kota kalian kalo kota kalian ingin maju, maaf jika saya membandingkannya tp ya!!! inilah yang saya lihat di lapangan, saya cukup prihatin dengan orang-orangnya dan saya punya temen dekat disini, ekonomi keluarga mereka benar2 pas-pasan, saya tinggal di situbondo hampir 5 tahun lebih, yang saya lihat hidup orangnya gak berubah sama sekali dari segi ekonominya, kalo kalian ingin tahun kota saya sekarang seperti apa? bisa lihat di website ini
    https://tuanisianipar.blogspot.co.id/p/potensi-pariwisata.html
    ini murni dari pemikirian orang2 dari asal daerah saya bukan orang luar maupun pendatang yang mengelola, disana ekonomi kreatif bergerak dikelola dengan benar2 roda ekonominya bergerak, saya hanya ingin menunjukkan suatu usaha orang2 yang sugguh2 menglola daerahnya tidak ada niatan saya untuk menjelek-jelekkan, Mohon respon komentar saya dengan kepala dingin, sekian.

    • Setuju bro… mungkin kita blm sadar potensi yg dimiliki, justru mengembangkan yang sebenarnya bukan sisi terbaik Situbondo. Belum lagi faktor non teknis yg sangat besar pengaruhnya di balik semua yg terjadi di Situbondo

    • Setuju bro… mungkin kita blm sadar potensi yg dimiliki, justru mengembangkan yang sebenarnya bukan sisi terbaik Situbondo. Belum lagi faktor non teknis yg sangat besar pengaruhnya di balik semua yg terjadi di Situbondo. Btw, skrg tinggal di stbd sebelah mana bro? Salken ya

1 Trackback / Pingback

  1. Situbondo Kembali Masuk Daerah Tertinggal Di Indonesia, Ada Kekuatan Siluman Yang Maunya Begitu? | Pojok Situbondo

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*