Owi/Butet Hidupkan Kembali Tradisi Emas, Inilah Prestasi Indonesia Dalam Ajang Olimpiade!

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir raih emas Ganda Campuran di Rio 2016

Tradisi emas olimpiade kembali dihidupkan di Brazil 2016. Bulutangkis masih menjadi andalan. Kali ini ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang ‘mendapat’ giliran mempersembahkan emas bagi merah putih. Di final, Owi/Butet berhasil mengandaskan perlawanan wakil Malaysia. Sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia di olimpiade, inilah emas ketujuh yang ditorehkan putra-putri terbaik tanah air. Berikut prestasi Indonesia di Olimpiade.

Indonesia pertama kali mengikuti ajang olimpiade tahun 1952 di Helsinki, Finlandia. Berkekuatan 3 atlet, Indonesia pulang tanpa medali. Tahun 1956 Indonesia kembali berpartisipasi di Olimpiade Melbourne 1956. Masih tanpa medali, namun kekuatan sepakbola Indonesia mencuri perhatian dunia. Lolos ke semifinal menantang Uni Sovyet dan sempat menahan imbang 0-0, namun akhirnya kalah 0-4 di pertandingan reply.

Munchen 1972 sempat menorehkan rekor bagi Indonesia. Salah satu atlet angkat besi Charlie Dheptios menorehkan rekor dunia, sayang Charlie melakukannya di angkatan ke-4 sehingga tidak tercatat di olimpiade. Selanjutnya di olimpiade Moskow 1980 Indonesia tidak ikut tampil. Boikot terhadap Moskow 1980 banyak dilakukan negara AS dan Eropa sebagai protes invasi Sovyet ke Afghanistan.

Olimpiade 1984 di Los Angeles, AS sempat memunculkan prestasi lumayan dari atlet atletik. Atlet Indonesia, Purnomo berhasil lolos ke babak perempat final. Sebuah prestasi baru yang belum pernah diukir atlet merah putih sebelumnya. Namun, sayang perempat final menjadi akhir perjalanan Purnomo. Medali masih belum berhasil diboyong atlet-atlet merah putih.

Trio Srikandi Indonesia membuka kran medali Indonesia di Olimpiade

Akhirnya, medali pertama berhasil diraih Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Tiga pemanah wanita Indonesia, yang dikenal sebagai tiga srikandi, berhasil menyumbang medali perak. Ketika itu Nurfitriyana S. Lantang, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani mengalahkan tim panahan AS.

Alan-Susi pasangan emas Indonesia

Prestasi Indonesia terus meningkat. Setelah sukses meraih medali pertama, perak di Seoul 1988, Barcelona 1992 mencatatkan sejarah baru. Emas pertama Indonesia sukses diraih. Pelakunya adalah Susi Susanti, pebulutangkis tunggal putri. Tidak hanya satu, emas Indonesia kembali bertambah melalui tunggal putra Alan Budi Kusuma. Susi dan Alan dinobatkan sebagai pasangan emas Indonesia. Dan akhirnya dilanjutkan menjadi pasangan hidup setelah keduanya menikah hingga kini. Selain 2 emas, Indonesia juga meraih 2 perak (Ardy Wiranata dan Eddy Hartono-Rudi Gunawan) dan 1 perunggu (Hermawan Susanto) yang seluruhnya dari bulutangkis. Barcelona 1992 merupakan prestasi terbaik Indonesia di Olimpiade hingga kini.

Ricky/Rexy emas Atlanta 1996

Olimpiade 1996 di Atlanta, AS kembali bulutangkis menyumbang medali emas. Kali ini melalui ganda putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja. Selain emas, 1 perak juga berhasil disumbangkan Mia Audina dan 2 perunggu dari Susi Susanti dan ganda putra Antonius Ariantho/ Denny Kantono.

Chandra/Tony di Sydney 2000

Tradisi emas berlanjut di Sydney 2000. Masih dari bulutangkis, kali ini giliran ganda putra Tony Gunawan dan Chandra Wijaya yang berhasil mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Di ganda campuran Tri Kusharjanto dan Minarti Timur meraih perak, begitu pula Hendrawan di tunggal putra. Sydney 2000 menjadi tonggak kebangkitan lifter-lifter Indonesia. Angkat besi sukses untuk pertama kalinya menyumbang medali, tidak 1 atau 2 tapi 3 medali sekaligus yakni Raema Lisa Rumbewas (perak, angkat besi 48 kg putri), Sri Indriyani ( perunggu, angkat besi 48 kg putri), dan Winarti Binti Slamet (perunggu, angkat besi 53 kg putri).

Taufik Hidayat lanjutkan tradisi emas di Athena 2004

Bulutangkis kembali meneruskan tradisi emas di Olimpiade Athena 2004. Tunggal putra Taufik Hidayat sukses menyumbang emas diikuti Sony Dwi Kuncoro dan ganda putra Eng Hian/Flandy Limpele dengan perunggu. Angkat besi kembali menyumbang medali. Lagi-lagi Lisa Rumbewas mempersembahkan medali perak untuk kelas 56 kg.

Hendra/Kido sukses lanjutkan emas Indonesia

Tradisi emas bulutangkis secara estafet sukses dilanjutkan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan di Olimpiade Beijing 2008. Ganda campuran Nova Widianto/Liliyana Natsir perak dan perunggu oleh tunggal putri Maria Kristin. Angkat besi masih konsisten dengan medali melalui Eko Yuli Irawan di kelas 56 kg dan Triyatno pada 62 kg, keduanya meraih perunggu.

Triyatno menjadi penghibur dengan medali peraknya. Tradisi emas kandas

London 2012 memutus tradisi emas Indonesia. Olimpiade kali ini Indonesia hanya meraih 1 perak dan 1 perunggu. Pelakunya adalah Eko Yuli Irawan (perunggu, angkat besi 62 kg putra) dan Triyatno (perak, angkat besi 69 kg). Bulutangkis yang biasanya menjadi ‘penyelamat’ hanya mampu mencapai babak semifinal melalui ganda campuran Owi/Butet. Dalam perebutan medali perunggu, Owi/Butet gagal menang. Praktis London 2012 menjadi titik nadir prestasi bulutangkis nasional.

Owi/Butet hidupkan lagi tradisi emas olimpiade di Rio 2016

Akhirnya, Owi/Butet membayar lunas ‘kesalahan’ mereka di London 2012 dengan emas di Rio 2016. Tradisi emas Olimpiade kembali hidup setelah Owi/Butet menaklukkan wakil Malaysia di final. Owi/Butet yang menjadi satu-satunya wakil Indonesia di final, satu-satunya tumpuan emas, berhasil menang straight set 21-14 dan 21-12 dari Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Hingga artikel ini diturunkan, Indonesia telah meraih 1 emas dan 2 perak. Perak Indonesia diraih dari cabang angkat besi melalui lifter Sri Wahyuni kelas 48 kg dan Eko Yuli Irawan kelas 62 kg.
Semoga di Olimpiade berikutnya tahun 2020 di Tokyo, Jepang angkat besi bisa menyumbang emas dan bulutangkis terus konsisten. Juga semoga ada cabor lain yang bisa muncul menghadirkan medali-medali bagi merah putih. Amin…

Credit: bbc.com, badminton.org, google

Advertisements