Pelatihan Safety Riding, Tapi Motor Tanpa Spion?

Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba tertarik dengan gambar atau foto-foto dari pelatihan safety riding yang dikirim bersama press release AHM. Beberapa penampakan foto peserta pelatihan safety riding dengan berbagai jenis motor namun punya satu kesamaan, yakni sama-sama tanpa pakai spion.

Ketika coba tanyakan ke dulur-dulur Jatimotoblog di grup whatsapp, jawabannya malah jadi seru beratus-ratus notif. Seperti biasa, ada yang nanggapi serius tapi tak sedikit pula yang guyon sampai melebar hingga soal banner. Kalian memang luar biasa kawan!

Jadi bertanya, apakah pabrikan lain mengadakan pelatihan safety riding sama dengan yang dilakukan AHM dalam hal spion motor. Coba deh brosis gugling dengan keyword SAFETY RIDING YAMAHA dan bandingkan dengan SAFETY RIDING HONDA. Beruntung, salah satu dulur Jatimotoblog menemukan sebuah gambar pelatihan safety riding Yamaha dengan motor tanpa spion. Jadi, maksudnya ini bukan soal Honda atau Yamahanya, tapi soal standardisasi motor di pelatihan safety riding.

Pertanyaannya adalah apakah dibenarkan menggunakan motor tanpa spion saat pelatihan safety riding? Kalau benar boleh, apa alasannya? Kalau tidak boleh, kenapa ada yang tanpa spion?
Itu pertanyaan dalam diri sebagai orang yang awam pelatihan safety riding. Jujur, sampai saat ini RA belum pernah mendapat pelatihan safety riding. Jadi, bisa saja pertanyaan di atas sebenarnya sudah ada jawabannya bagi mereka yang pernah ikut atau bahkan sering ikut pelatiha safety riding.

Cuma, logika mengatakan mengapa di tingkat pelatihan safety riding soal spion motor seolah-olah (ini logika RA lho ya, gak harus sama dengan yang brosis punya) tidak dipentingkan. Buktinya tidak selalu dipasang ketika peserta safety riding sedang tes atau berlatih skill dengan motor.

Jadi gini, pelatihan safety riding bisa diartikan melatih skill berkendara motor yang aman dan selamat di jalan raya dan dilakukan di sebuah tempat atau area tertentu di luar jalan raya. Artinya kondisi di pelatihan safety riding dibuat semirip mungkin dengan kondisi sebenarnya di jalan raya, termasuk kelengkapan motor. Sepakat untuk ini? Lalu, bukannya spion adalah kelengkapan motor, kenapa tidak dipasang?

Memang benar, pelatihan safety riding tidak dilakukan di jalan raya, jadi tanpa spion tidak masalah tidak ada yang harus dilihat di belakang atau harus salipan atau mau belok, tetapi apakah tidak sebaiknya dipasang di motor pelatihan agar peserta terbiasa dengan perangkat satu itu saat sudah berada di kehidupan jalan raya sebenarnya?

Apakah memang tidak ada standar baku dalam pelatihan safety riding soal kelengkapan motor misalnya. Yang penting perlengkapan safety ridingnya komplit seperti helm, jaket, celana, sepatu, sarung tangan, knee protector, rompi penutup dada dan penutup telinga?
Ada opini mengatakan bahwa di pelatihan safety riding itu yang dilatih skill berkendara seperti slalom, melalui jalan titian, dan melalui jalan bergelombang, jadi tanpa spion gak masalah. Timbul pertanyaan lagi, bukankah dengan spion terpasang lalu si peserta dibiasakan berlatih skill sambil melatih kebiasaan “hey… ini lho ada spion di motormu, jangan diabaikan” akan lebih baik?

Lagipula apa susahnya sih latihan skill safety riding dengan spion terpasang? Nambah bobot motor 10 kg gitu? Motor jadi berat gitu? Trus susah dikendalikan gitu?

Nah, buat teman-teman, brosis sekalian yang pernah punya pengalaman ikut pelatihan safety riding, atau pernah meliput kegiatan pelatihan safety riding bisa menjelaskan atau berbagi pengalaman di sini terutama soal motor tanpa spion seperti gambar di atas.

RA

Advertisements

9 Comments

  1. Om, kemana aja? Ini pernah dibahas tahun lalu di beberapa blog sahabat..

    Singkatnya, di Jepang pun ya ga pake spion di pelatihannya, lebih karena alasan safety kalau jatuh itu (kaca) spion gak menciderai peserta.. di safety riding Juga diberikan kebiasaan untuk selalu menengok ke kiri, Kanan, Dan belakang kiri Kanan sebelum jalan.. diharapkan dengan adanya spion pun kebiasaan itu tetap terjaga.

    • Masuk akal juga, tapi bukannya di kehidupan jalanan sebenarnya resiko itu mmg sudah harus dikenalkan. Jatuh, spion pecah, cedera, dll jadi lebih ke menjadikan kebiasaan bahkan sejak sesi latihan. Sudah lama tahu dan sampai skrg blm ada jawaban yg memuaskan hehehhehee…

      • nah kalau prinsip awalnya kenapa.. kudu nanya langsung ke yang dulu bikin itu training…
        cuma infoin aja kalau di jepang pun pelatihan safety riding nya gak pake spion dengan alasan ya itu tadi.. safety buat peserta. Beberapa basis safety riding disini mengacu ke sana soalnya..

  2. spion gak dipasang itu tidak pilihan, mengapa….saat team safety riding melatih di luar arena resmi honda, misal di sekolah, kampus bahkan di instansi, spion bisa dipasang atau dilepas.

    Mengapa dilepas…jadi gini pak, kan pak Karis belum pernah ikut pelatihan safety riding, sebenarnya nulis artikel ini seperti melihat buah jatuh dari pohon berwarna hitam lalu dinilai bosok, padahal hitam karena apalah itu…

    Didalam pelatihan safety riding ada namnya Check Point, apakah itu, simplenya yaitu menengok kanan kiri sebelum riding.

    biasanya….rider jika menengok kekanan dan kiri selalu dengan spion, padahal di spion ada ruang blind spot (maaf kalo saya keliru, mohon dicaci maki) seringnya hanya melirik spion.

    harapannya mengapa gak dipasang spion, agar rider membiasakan diri saat berlatih untuk menengok kanan dan kiri sebelum riding, sehingga saat di jalan raya pembiasaan itu juga tetap dilakukan.

    (kalo seumpama salah, kirim saja SOMASI kepada All Team Pabrikan Safety Riding pak, biar ada pembenaran jika keliru)

    https://otobalancing.net/2017/03/30/dealer-delta-sari-agung-sidoarjo-buka-jasa-modifikasi-untuk-konsumennya/

Comments are closed.