Baru Tahu, Ternyata Sean Gelael Yang Diajak Gabung Toro Rosso Dan Karena Hal Ini

Tahun lalu, Indonesia punya wakil di ajang balap mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1. Dia adalah Rio Haryanto yang menjadi pembalap reguler tim Manor Racing. Selain skill semua paham bahwa kesempatan Rio menembus F1 berkat statusnya sebagai pay driver alias pembalap yang membayar ke tim untuk membalap. Namun sayang, kemesraan Rio dan Manor hanya berlangsung separuh musim plus 1 seri alias total 10 seri dari 19 seri muaim 2016. “Perceraian” itu terjadi karena manajemen Rio tidak mampu melunasi sisa dana yang harus ditransfer ke rekening Manor. Nah, tahun ini kita kembali memiliki wakil di F1. Statusnya memang di bawah Rio yakni “hanya” sebagai test driver alias pembalap penguji di tim Toro Rosso. Dia adalah Sean Gelael. Tapi ada yang spesial dari status test driver ini. Pertanyaannya adalah apakah pintu masuk Sean ke F1 membayar ke tim? Ternyata tidak!

Anggapan bahwa Sean juga berstatus pay driver mengemuka sebab usia Sean masih sangat muda, 20 tahun, dan prestasinya di ajang balap Formula 2 (tahun lalu GP2) juga masuk kategori biasa-biasa saja. Dari 22 kali balapan musim lalu, Sean hanya 2 kali finish top 10, dimana salah satunya naik podium. Secara total Sean mengumpulkan 24 poin dan berada di posisi 15 klasemen akhir. Sehingga wajar jika banyak menduga Sean membayar Scuderia Toro Rosso untuk menjadi test drivernya.

Menanggapi isu itu, Team Principal Toro Rosso, Frank Tost membantah hal itu. Tost dengan tegas menjelaskan bahwa status test driver Sean Gelael bukanlah dari paydriver. Justru, Tost menyebut pihaknyalah yang pertama kali menawarkan Sean untuk bergabung sebagai test driver.

Semua berawal dari bergabungnya Sean di tim F2 Pertamina Arden. Tim Arden ini merupakan milik Garry Horner, ayah dari bos tim F1 RedBull Racing. Nah, di F1 RedBull Racing ini punya “saudara” bernama Scuderia Toro Rosso. Toro Rosso ini mirip dengan tim satelit kalau di MotoGP. Tugasnya adalah membina pembalap muda dan jika mentereng bisa direkrut menjadi pembalap utama RedBull Racing. Dua tim ini punya simulator balap.

Nah, berhubung antara RedBull, Toro Rosso dan Pertamina Arden masih berhubungan, maka Sean juga ikut memanfaatkan simulator itu untuk melatih skill balapnya di F2. Di sinilah peran Tost dimulai. Ia mempromosikan banyak pembalap muda kepada bos tim RedBull Racing Christian Horner, termasuk salah satunya Sean. Tost menyebut Sean sangat bagus dalam simulator.

Dan berkat hal itu, Sean ditawari untuk bergabung dengan Toro Rosso sebagai test driver di tiga kali ujicoba; Bahrain, Hungaria dan Abu Dhabi. Jadi, kesempatan Sean masuk lingkaran elit F1 kali ini berkat kemampuannya. Walaupun itu masih sebatas test driver, tapi posisi ini sudah sangat ditunggu oleh banyak pembalap muda di luar sana. Urusan nanti ada peluang menjadi pembalap reguler, biarkan waktu yang menjawab seiring makin meningkatnya skill, performa dan pengalaman Sean di F2.

Soal kesempatan Sean menembus pembalap reguler F1, Tost menyebutkan bahwa semua itu bergantung performa Sean di F2 musim ini.

“Saya berharap dia tampil bagus dulu di balapan Formula 2 karena itu juga penting dan masih harus menjalani tes di Hongaria dan Abu Dhabi, kami ingin melihat perkembangannya dari situ. Lalu di akhir musim nanti, (hmm) saya penasaran dengan tes di Abu Dhabi nanti. Tentunya akan menarik pasti,” ujar Tost dikutip dari detiksport, Kamis (20/4).

Beberapa pembalap F1 tercatat pernah bergabung bersama Arden seperti duo pembalap Toro Rosso, Daniil Kvyat dan Carlos Sainz Jr; Heikki Kovalainen; Bruno Senna; Sebastien Buemi; Sergio Perez; dan Jolyon Palmer. Jadi, kesempatan Sean jadi pembalap reguler F1 sangat terbuka lebar.

Oke deh, sekarang biarkan saja dulu Sean menikmati statusnya sebagai test driver Toro Rosso. Adaptasi dengan dunia F1 sangat diperlukan bagi Sean yang masih muda. Tidak usah dibebani target hsrus masuk F1 lah dan tetek bengek lainnya yang dikuatirkan justru menghambatnya. Kita dukung Sean menjalani musim penuh keduanya di F2 (GP2) tahun ini. Sebab, seperti yang sudah dijabarkan Tost, hasil bagus Sean di F2 akan menjadi pertimbangan baginya menembus pembalap reguler F1.

Tes pertamanya di Sirkuit Sakhir, Bahrain, Selasa (18/4), dijalani Sean dengan mulus. Dia melakukan 78 kali putaran dalam sesi yang berlangsung selama sekitar sembilan jam dengan catatan waktu terbaik dengan catatan satu menit 33,885 detik menempati posisi kedelapan dari 12 pembalap yang turun. Bahkan catatan laptime Sean ini unggul dari pembalap Ferrari Sebastian Vettel.

-RA-

Credit: detiksport.com, tempo.co

Advertisements

8 Comments

Comments are closed.