Horor Bangku Deret Ketiga

Horor Bangku Deret Ketiga. Brosis, kemarin Jumat RA dan keluarga melakukan perjalanan mudik menuju kampung halaman di Trenggalek. Sudah lima tahun terakhir mudik ke Galek menggunakan mobil pribadi (baca mobil sewaan), alasan utama sih praktis tidak usah naik turun bus AKAP. Maklum, sudah berkeluarga dengan buah hati masih balita. Nah, mudik kali ini mobil yang kita dapat adalah mobil terlaris di negeri ini. Bagaimana impresinya? Hororrr…

Sebelumnya, sebagai informasi semobil terisi 5 orang dewasa; 1 sopir, RA dan Istri, Ibu dan Adik, dua krucil. RA duduk dibangku deret ketiga. Dengan TB 193 cm, masuk ke deret ketiga lewat pintu tengah kiri adalah perjuangan, lebih-lebih saat keluar. Antara butuh kelenturan dengan ganjelan perut plus panjangnya badan sukses membuat ngos-ngosan begitu keluar. Pokoknya, jangan sampai di luar lagi banyak orang yang melihat (GR amat ya), malu-maluin deh.

Ketika duduk, posisi kaki masih aman walau mentok. Tidak harus menekuk kaki dengan posisi badan duduk tegak. Kepala tidak mentok atap, ada sisa 1-5 cm jarak ubun-ubun ke atap. Dibanding produk sekelas dari suzi, mobil terlaris ini lebih lega. Tapi, jangan pernah membayangkan lega itu nyaman. 193 cm bro!

Oke, dengan kondisi fully loaded baik penumpang maupun barang bawaan, meluncurlah si mobil terlaris ini menyusuri jalan pantura Situbondo ke arah barat menuju Trenggalek. Perjalanan sekitar 10 jam untuk jarak sekitar 330 km. Lama? Cepat? Standarlah…

Melalui aspalan mulus, si mobil terlaris melaju kencang. Melirik speedometer, jarum ada diantara angka 80-90 kpj. Lumayan lah, walau tetap posisi duduk paling tidak enak adalah deret ketiga alias paling belakang. Dibanding duduk di bagasi gimana bro? Dezzzziiiigg*#^×%÷££.

Yang jelas, badan terasa diombang-ambingkan ketidakpastian jika duduk di posisi ini. Ketemu jalanan bergelombang dikit saja, alamat kepala bakal kejedog. Tapi rute Situbondo-Probolinggo masih relatif aman lah, aspalan walau tidak semulus wajah raisa tapi masih okelah. Pun demikian Probolinggo-Pasuruan, walau tidak senyaman rute sebelumnya, masih dimaafkan. Kurang baik apa coba.

Hingga akhirnya masuk wilayah Watukosek. Jalan mulai bergelombang. Penghuni deret ketiga mulai terancam nasibnya, horor mulai terasa. Puncaknya adalah di daerah Mojokerto-Jombang. Jalan dibagi 2 lajur dengan pembatas jalan di tengah. Sebenarnya di rute ini bisa menggenjot mobil hingga batas maksimal, namun kondisi jalan yang luar biasa hancur memaksa kecepatan mobil maksimal 70-80 kpj. Kondisi jalan memang tidak ada lubang (95% aman lah-no riset just asumsi) tapi masalah lain adalah jalan sangat tidak rata. Bekas tambalan aspal menghias. Belum lagi aspal-aspal hasil tambalan yang membentuk gundukan-gundukan akibat meletet dilindas kendaraann. Kondisi ini menurut RA lebih parah dari jalanan berlubang. Jika jalan berlubang, driver akan lebih waspada dan pelan saat melewatinya. Nah, kondisi jalan seperti Mojokerto-Jombang ini adalah jebakan betmen. Terlihat rata, kecepatan cukup tinggi, akhirnya kebanting-banting dah tuh mobil. Bagaimana rasanya duduk bangku deret ketiga? Remuk brosis, horor itu nyata!

Kepala kejedog, badan terhempas, pantat terjerembab, hati terjatoh, jantung kejang-kejang, dan lain sebagainya. Lebay sih tapi memang mirip-mirip gitulah. Deret ketiga adalah horor untuk mobil terlaris ini. Andaikan suruh memilih, mending naik bus deh. Kalau ada pilihan lain, mending naik jeng ipah aja. Beda kelas sih…

Tapi, dibanding ertri suspensi mobil terlaris ini meredam jalan rusak masih kalah. 2 tahun lalu RA sekeluarga dengan formasi sama (minus si bungsu) mendapatkan ertri untuk mudik. RA juga di deret ketiga. Tidak senyaman jeng ipah tapi masih jauh lebih baik dari si mobil terlaris ini. Redaman suspensi bekerja sangat baik. Kebanting-banting di deret ketiga sudah wajar, tapi efek bantingannya masih bersahabat dengan badan.

Sampai sekarang masih heran aja kenapa nih mobil masih menjadi paling laris saja. Boleh jadi nama besar si yoyot yang sangat membantu. Jaringan aftersales terluas dan ketersediaan spare part bejibun adalah jawabannya. Namun, untuk urusan kenyamanan khususnya di deret ketiga hanya satu kata, horor! Horor Bangku Deret Ketiga.

Advertisements

1 Comment

  1. Skrng pake lio punya hon2 jauh lbh enak, baris ketiga lbh nyaman, diakui oleh ponakan yg lbh tinggi dari saya … Pengaruh suspensi juga mgkn. Dapatlah kenyamanan khas hon2

Comments are closed.