Pensiun Tidak Ada Dalam Kamus Balap Rossi Jika…

Pensiun Tidak Ada Dalam Kamus Balap Rossi Jika… Valentino Rossi menjadi pembalap tertua di MotoGP saat ini. Usianya telah mencapai 38 tahun. Ketika teman seangkatan dan rival semasa mudanya sudah pada pensiun, Rossi masih punya banyak energi dan semangat untuk terus beradu adrenalin dengan para pembalap muda. Hasilnya, tidak buruk bahkan cenderung melebihi ekspektasi seorang pembalap tua. Lalu, kapan Rossi mau pensiun?

Banyak yang menduga tahun depan adalah tahun terakhir the doctor memacu motor prototype paling kencang di kolong jagad itu. Pasalnya, kontrak sang juara dunia 9 kali itu akan habis di akhir musim 2018. Prediksinya adalah selesai masa kontrak, Rossi akan bergabung dengan manajemen Yamaha atau fokus ke tim yang telah dibentuknya, Sky Racing VR46. Namun, ternyata bagi Rossi sendiri usia hanyalah sebatas angka. Ketika Ia merasa fisiknya masih kuat, semangat mengejar kemenangan masih membara, dan peluang untuk kembali juara terbuka, pensiun adalah kata terakhir di halaman terakhir kamus balapnya. Yup, Rossi mulai berpikir untuk menambah ekstensi kontraknya andaikan musim ini berjalan mulus baginya.

Mulus di sini adalah masih kompetitif dan masih bisa menang. Itu artinya, selain kemenangan di Assen kemarin, beberapa kemenangan lagi dalam 10 seri tersisa plus kemenangan demi kemenangan lainnya di musim depan akan mempengaruhi keputusannya tentang masa depannya di dunia balap.
“Ketika saya mendatangani kontrak, saya pikir ini akan menjadi yang terakhir. Tetapi, ini tergantung banyak hal. Saya akan memutuskan untuk musim depan, atau paling tidak awal musim depan. Tetapi, jika saya masih berkompetitif dan berhasil menang, saya akan melanjutkan,” ujar Rossi seperti dikutip dari viva.co.id, Jumat (30/6/17).

Jika syarat yang dimaksud Rossi adalah seperti disebutkan di atas, maka posisi klasemen ketiga saat ini dengan 108 poin dan hanya berselisih 4 dan 7 poin dari posisi kedua dan runner up, maka buat kalian fans boy Rossi (FBR) bersiaplah untuk menerima kabar gembira. Sebaliknya jika brosis haters Rossi, maka berdoalah sisa musim ini dan musim depan akan menjadi musim terburuk Rossi agar Ia sadar bahwa dirinya sudah tua dan tidak mampu lagi bersaing dengan sang junior macam Marquez atau Vinales.

Memang masih menjadi tanda tanya, seperti apa masa depan MotoGP andaikan sang maskot tidak lagi turun berlaga. Yang jelas MotoGP tidak akan stop walau Rossi pensiun, tapi seperti apa greget tontonan MotoGP tanpa Rossi inilah yang menjadi kekuatiran Dorna.

Jika mengaca pada kompetisi balap mobil Formula 1, mungkin bisa menjadi sedikit gambaran bagaimana MotoGP ke depannya tanpa Rossi. F1 mencapai puncak kepopuleran ketika mereka punya sosok legenda bernama Michael Schumacher. Kala itu, Schumi dengan Ferrari-nya menjadi sebuah fenomena. Kemenangan demi kemenangan dan aksinya di lintasan mengundang decak kagum para penonton. Penonton rela membayar tiket mahal untuk menyaksikan langsung aksi sang idola di sirkuit. Stasiun televisi seluruh dunia juga berlomba menyiarkan aksi Schumi agar bisa dinikmati warga, termasuk Indonesia. Lalu, ketika sang maestro memutuskan pensiun, F1 perlahan dan pasti makin tidak populer. Memang, masih ada pembalap muda berkelas macam Kimi Raikkonen, Felipe Massa, Sebastian Vettel hingga Lewis Hamilton, namun daya magis semua nama itu masih di bawah Schumi. Alhasil, ditambah dominasi satu pabrikan, F1 makin ditinggalkan tidak hanya penonton namun juga tuan rumah penyelenggara.

Nasib MotoGP akankah serupa dengan F1 jika sang maestro pensiun nantinya? Bisa jadi yan jelas jika brosis penggemar Rossi, berdoalah agar the doctor bisa kembali menang di Sachsenring dan beberapa seri lainnya hingga akhirnya mencapai klimaks menjadi juara dunia ke-10 agar sang idola tidak memutuskan pensiun atau biarkan saja para pembalap muda satu demi satu menaklukkan Rossi. Pensiun Tidak Ada Dalam Kamus Balap Rossi Jika…

Advertisements