Parkir Depan Rumah, Motor Dirobohin… Merokok Ketahuan, Diturunkan Dari Kereta… Awas Jangan Salah Bela!

Akhir-akhir ini sering kita baca di media sosial bagaimana perilaku atau sikap saudara-saudara kita, atau bahkan kita sendiri, yang cenderung mengabaikan sebuah kebenaran dan justru memihak pihak yang salah dengan alasan kemanusiaan atau kasihan.

Media sosial memang menjadi wadah yang paling cepat untuk menyebarkan sebuah informasi, bisa dijangkau kalangan masyarakat, dan yang pasti murah. Sehingga beberapa kejadian di belahan lain di luar rumah kita bisa kita ketahui hanya dengan sekali klik dari perangkat gadget yang kita miliki. Tidak jarang, kita ikut berkomentar atas apa yang kita baca, membela si A menyalahkan si B atau bahkan membully si C. Padahal, kita tidak tahu persis seperti apa kejadiannya, tahunya hanya berdasarkan caption yang diberikan.

Namun, terkadang sisi sosial kita, empati kita, rasa kasihan kita justru memburamkan sisi utama yang justru lebih penting untuk kita angkat, yakni sisi kebenaran. Yup, terkadang kebenaran yang terasa menyakitkan justru kalah suara, kalah perhatian oleh rasa kasihan yang muncul dari akibat perbuatan yang dilakukan hanya karena kita temannya, kita kenalannya, atau kita sekomunitas.

Beberapa kejadian yang diekspos di media sosial akhir-akhir ini bisa menjadi contoh ilustrasi di atas. Terbaru tentang sebuah foto yang memperlihatkan beberapa motor direbahkan gara-gara parkir di depan gerbang sebuah rumah. Kabarnya, si pemilik rumah kesal dengan ulah pemotor yang parkir depan gerbang rumahnya sehingga menghambat keluar masuk orang rumah, padahal di gerbang sudah ditempeli rambu-rambu P coret alias DILARANG PARKIR DI SINI.

Sontak, berbagai komentar tentang foto tersebut berdatangan. Yang berpikir logis, tetap menyalahkan si pemilik motor sebab parkir sembarangan depan rumah orang yang jelas-jelas ada rambu larangan parkir di pasang. Namun, tidak sedikit yang menyalahkan si pemilik rumah yang dikatakannya terlalu kejam sampai merobohkan motor segala. Si pemilik motor tentu saja membela diri dan pakai acara marah-marah mengatakan si pemilik rumah tidak punya rasa toleransi atau persaudaraan.

Melihat kasus di atas, sebenarnya cukup jelas apa mau si pemilik rumah agar orang-orang tidak parkir depan pintu gerbang rumahnya. Bahkan menurut RA si pemilik rumah sudah terlalu baik dengan memberikan informasi keinginannya itu dengan susah-susah pasang rambu larangan. Yang aneh justru yang membela si pemotor. Sudah tahu itu ada larangan parkir, sudah tahu itu rumah orang, kenapa masih parkir di sana. Pemilik rumah tega? kejam? Justru merekalah yang kejam terhadap motor sendiri. Mereka harusnya tahu resiko yang bisa diterima motornya jika parkir sembarangan. Untung tuh motor gak sampai dibakar, walaupun tindakan ini sudah masuk kategori berlebihan.

Sebelumnya, sempat ramai juga di media sosial dimana ada sekeluarga penumpang kereta api yang diturunkan paksa di stasiun terdekat gara-gara si bapak ketahuan merokok di toilet gerbong. Sontak menjadi viral.

Seperti biasa, ada yang pro tapi tidak sedikit juga yang kontra. Yang pro menganggap apa yang sudah dilakukan petugas KA sudah benar sebab sesuai peraturan yang berlaku. Juga demi kenyamanan dan keselamatan seluruh penumpang, termasuk si perokok sendiri.

Namun, kaum nyinyir justru membela si perokok. Alasannya terlalu kejam, diturunkan sebelum tujuan membuat si ‘korban’ jadi kesulitan menuju tujuannya. Apalagi ada ibu dan anak kecil yang juga turut diusir. Mereka rata-rata kasihan dengan si ibu dan anaknya. Tapi, sebelum kasihan dengan mereka, apakah pernah bertanya kepada si bapak perokok itu tentang kasihan kepada keluarganya? Tentang resiko melanggar aturan larangan merokok di kereta? Si bapak kasihan gak dengan anak istrinya jika kelakuannya merokok ketahuan dengan sanksi sudah jelas tersebut, diturunkan di stasiun terdekat?

Kita boleh membela siapapun dengan dalih kemanusiaan, tapi jangan sampai karena kasihan justru yang salah dibela dan malah menyalahkan si benar. Semua tindak tanduk kita sehari-hari mengandung konsekuensi, mengandung resiko yang bisa kembali kepada kita efeknya. Tidak usahlah menyebut tindakan melanggar aturan hukum yang sudah jelas ada sanksinya, bahkan aktivitas rutin kita seperti makan atau tidur saja ada resiko dibaliknya. Makan tak terkontrol resikonya gemuk, dendut bin kolesterol tinggi. Tidur nyenyak resikonya ruh kita tidak kembali, alias kita bisa meninggal. Jadi, siapkah kita dengan resiko atas perbuatan kita? Jika tidak siap ya jangan lakukan, jika siap silahkan lanjutkan.

Seperti dua contoh kasus di atas, kita memang tidak mengalaminya sendiri. Tapi, semua komentar kita haruslah tetap mengedepankan menjunjung tinggi kebenaran. Tidak hanya sekedar kasihan atau berlindung di balik hak asasi manusia. Biarkan yang salah menanggung resiko perbuatannya, janganlah kita sebagai penonton justru salah menilai mana yang benar mana yang salah.

Advertisements

2 Comments

  1. Saya sangat setuju kalau ada orang merokok di kereta lalu diturunkan dari kereta, tapi jangan diturunkan dari pesawat terbang, menambah biaya saja.

  2. Setuju banget mas. Zaman sekarang emang aneh.
    Gara2 kemanusiaan atau kasian, bahkan ada juga yang berdalih toleransi, jadi bela yang salah. Padahal peraturanya sudah jelas. Apalagi daerah Jakarta, yang kayak gitu sudah biasa, pasti ujungnya yang disalahkan pihak yang benar

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*