Tingkah Laku Pemotor Saat Melihat Razia Polisi, Miris Sekaligus Bikin Tersenyum

Tingkah laku para pemotor ketika bertemu petugas polisi di jalan raya suka bikin miris, ngelus dada tapi sekaligus bikin bibir ini senyum-senyum. Seperti yang terlihat pagi ini di seputaran kota Situbondo.

Jadi, ceritanya hampir tiap pagi menyambut pergerakan orang-orang berangkat kerja atau sekolah, Polres Situbondo menyebar anggotanya untuk mengatur lalu lintas di beberapa persimpangan jalan. Salah satunya di pertigaan arah rumah RA di sebelah barat Polsek Panji.

Pertigaan ini memang selalu ramai ketika pagi jelang jam 7. Banyak pekerja-pekerja, karyawan dan pelajar yang dari arah utara (Curah jeru, Tenggir, dll) menuju Situbondo kota yang melewati jalur ini. Nah, pagi tadi tidak seperti biasanya. Petugas polisi yang mengatur pagi ini cukup banyak (biasanya 1 atau 2).

Mereka terlihat tidak saja membantu pengendara menyeberangi jalan raya yang memang cukup lebar (4 lajur) tapi juga melakukan tindakan teguran hingga tilang untuk siapapun pengendara yang tidak patuh aturan. Seperti biasa, berhubung jalan desa, tidak sedikit pemotor yang melintas tanpa helm. Paling banyak tentu saja para pelajar (miris). Alhasil, yang keburu ngebut tidak melihat sekeliling langsung kaget saat ada polisi di depannya. Tidak bisa kabur dan pasrah. Kunci motor langsung dicabut dan tilang deh.

Tapi, yang bikin RA senyum-senyum (kebetulan lagi menunggu Ibu mertua yang beli sarapan nasi pecel) melihat beberapa pemotor yang menyadari ada polisi jauh di depan memilih berhenti masuk halaman rumah orang. Clingak-clinguk sambil mematikan motornya. Hahahaha… persis mirip orang bersalah (memang bersalah sih ya). Ada tiga motor yang berhenti, dua motor dengan bapak-bapak yang sepertinya hendak mengantar anaknya ke sekolah dan satu lagi pemotor dengan gerobak kanan-kiri membawa ayam.

Adegan selanjutnya adalah si bapak-bapak turun dan menyerahkan helm yang dipakainya untuk dipakai si anak (si anak tidak pakai helm sebelumnya) dan motorpun dibawa si anak. Si bapak? Jalan kaki sampai melewati petugas polisi yang melakukan razia. Setelah cukup jauh, formasi awal kembali terlihat. Si bapak nyetir motor dengan helm, si anak dibonceng tanpa helm. Duh pak… pak… berapa sih harga helm? Misal si anak celaka sampeyan juga yang akan sedih. Lalu, bagaimana dengan pemotor pembawa ayam? Dia berhenti terus sambil ngobrol dengan si pemilik rumah wkwkwkwkw… tentu saja mata si bapak berulang kali melihat ke arah petugas polisi. Terbuang percuma deh waktu untuk bekerja, gara-gara tidak pakai helm. Rugi sendiri bukan?

Budaya memakai helm di kalangan warga masyarakat memang masih cukup rendah. Ketika pakai helm pun alasannya karena takut sama polisi. Bahkan beberapa warga pemilik motor tidak punya helm. Lho, bukannya pas beli motor ada bonus helm langsung? Iya kalau beli baru bro. Kalau belinya seken, dapat motor gak rewel saja sudah syukur.

Yang bikin sedih adalah diantara mereka yang tidak peduli keselamatan kepala banyak merupakan anak sekolahan alias pelajar alias remaja yang mendapatkan pendidikan. Yang sekolah saja tidak peduli, bagaimana mau menyalahkan yang tidak sekolah?! Mereka adalah generasi muda yang akan berganti menjadi ibu atau bapak dengan anak-anak mereka. Kebayang dong jika orang tuanya saja tidak peduli dengan keselamatan berkendara, apalagi anaknya.

Ayolah, lengkapi motormu, lengkapi surat-surat motormu, lengkapi diri dengan piranti keselamatan saat berkendara. Otakmu ada di kepala lgo, bro bukan di dengkul apalagi panta*t!

*sorry, no picture but not hoax!

Advertisements