Gara-Gara Irene, 50 Ribu Melayang… Hiks… Gak Lagi Deh!

Ini pengalaman kedua kena tilang. Blogger otomotif koq kena tilang hehehehe… ampun bro, gak lagi deh. Semuanya berawal dari rasa penasaran merasakan performa dua silinder seperempat liter naked bike Yamaha, MT-25. Akhirnya, karena mengabaikan aturan main di jalan raya, apes ketemu razia, tilang deh.

Kejadiannya bulan lalu, ketika juragan tomar dengan motor barunya mampir ke news room rideralam.com (halah news room segala). Baru pulang dari ‘ngerjain’ banyak model di Bali, pemuda dari mars dengan inisial JH ini mampir ke Situbondo, kunjungan keduanya di rumah RA. Thanx bro. Nah, dengan MT-25 yang dimodif stang jepit dan knalpot racing dengan suara menggelegar khas modif a la JH inilah tilang akhirnya jatuh.

Juragan tomar dari simo

Ceritanya, pagi-pagi sebelum berencana berangkat ke Surabaya menghadiri acara Yamaha Jatim (idenya mau nebeng ke beliau), RA sempatkan pinjam si kuda besi untuk ke rumah mertua ambil perlengkapan. Jarak tempuh sekitar 10 km ke arah kota. Berangkat sekitar jam 6 jalanan lengang, nafas panjang khas mesin DOHC, 2 silinder pula benar-benar menggoda tangan kanan untuk gaspol. Beruntung, helm oblak dan tanpa jaket sedikit bisa menahan nafsu itu. Alhasil, hanya 115 kpj top speed yang bisa dikail. Padahal menurut penuturan JH, Irene (nama si MT) bisa mencapai 162 kpj dengan gas belum mentok.

Masalah muncul ketika perjalanan balik. Sekitar jam 7.30 wib RA melaju dengan kecepatan 80-100 kpj di jalanan pusat kota ke arah barat. Nah, tepat di depan Kantor Kementerian Agama Kab. Situbondo ada operasi tertib lalu lintas. Padahal itu trek lurus ratusan meter, kenapa RA tidak bisa melihat puluhan polisi ya. Bisa jadi, karena RA rada nunduk fokus ke jalan sambil geber si Irene. Dongak-dongak dah sekitar 10 meter dari razia. Ya wis, gak bisa menghindar. Pasrah. RA kan warga negara yang baim #tsah

Pasrah sebab RA baru ingat kalau tidak bawa STNK si Irene (lupa mau pinjam). Belum lagi knalpot yang berisik membahana. Komplit.

Si Irene a.k.a. Yamaha MT-25 dengan lubang buangan tidak ori lagi

Sidang di tempat, di surat tilang warna biru yang RA dapat, pasal 288 adalah pelanggaran yang RA lakukan. Beruntung, soal knalpot hanya diberi nasehat untuk dicopot dan diganti yang standar. “Hei JH, baca nih hahahaha…” Jadi, hanya melanggar 1 pasal saja. Yang cukup mengejutkan RA, menurut petugas polisi sidang dilakukan hari Jumat (seminggu hari kemudian) di Kejaksaan. Lho, bukannya di pengadilan ya? (Dalam hati sih).
Benar saja, setelah sempat bertanya kepada seorang teman yang kerja di pengadilan bagian administrasi tilang, baru tahu kalau sekarang (entah sejak kapan) proses pembayaran tilang sekaligus pengambilan jaminan tilang dilakukan di kejaksaan. Beliau juga memberi tahu bahwa untuk pelanggaran pasal 288 besaran biayanya sekitar 50 ribu Rupiah. Satu lagi, “jangan ambil di hari Jumat, setelahnya saja”. RA iyain aja deh. Tidak tanya apa alasannya.

Nah, hari Rabu (5 hari setelah waktu yang ditentukan) baru RA menuju kejaksaan. Sepi. Langsung menuju loket. Eh di sebelah ternyata sudah ditempel daftar nama pelanggar alias yang kena tilang. Wuih… jumlahnya nyaris 300 orang ckckckck… dan nama RA paling panjang hiks hiks… paling mudah dikenal. Ya sudahlah, semoga ini terakhir.

Denda pelanggaran pasal 288 tentang kelengkapan surat motor (STNK) adalah 49 ribu Rupiah plus 1.000 Rupiah (entah lupa biaya apa ini) berarti total 50 ribu Rupiah. Oh iya, kenapa tidak ambil di hari Jumat, karena Jumat kemarin RA lewat antrian pengambilannya membludak.

Jadi, di kejaksaan tidak ada sidang tilang lagi, pelanggar hanya tinggal menyerahkan surat tilang, membayar denda dan bisa langsung mendapatkan jaminan tilang yang disita saat razia. Mudah, simpel, gak pake ribet tapi tetap tidak mau mengulanginya. Hehehehe… Gara-gara Irene 50 ribu melayang.

Advertisements

3 Comments

Comments are closed.