Kilas Balik Piala AFF U-19 Tahun 2013, Perjalanan Garuda Muda Meraih Puncak Kejayaan!

Dalam dua hari ke depan Timnas Indonesia Usia di bawah 19 (Timnas U-19) akan memulai petualangannya di turnamen remaja tingkat ASEAN, Piala AFF U-19 di Myanmar, 4-7 September 2017. Timnas U-19 tahun ini kembali dinakhodai pelatih Indra Sjafri. Pelatih yang membawa timnas usia yang sama menjadi juara di turnamen yang sama 4 tahun silam.

Yup, pada gelaran Piala AFF U-19 edisi ke-9 tahun 2013 silam, Indra Sjafri sukses membawa Indonesia menembus tembok kokoh penghalang prestasi timnas merah putih selama ini di level ASEAN dengan gelar juara. Itulah satu-satunya titel yang berhasil dimiliki Timnas U-19 pada turnamen yang digelar sejak 2002 itu.

Bagaimana perjuangan Evan Dimas dkk. Sejak babak penyisihan grup hingga meraih mimpi di puncak kejayaan di Sidoarjo, home turnamen tahun 2013 silam? Kita flashback sejenak yuk…

Babak Penyisihan: Grup Maut!

Indonesia berada dalam grup maut di grup B babak penyisihan. Menyandang status sebagai tuan rumah, Indonesia tergabung bersama juara 4 kali Thailand, juara 1 kali Vietnam dan Myanmar serta runner up 3 kali Malaysia dan tim terlemah Brunei Darussalam. Indonesia-Thailand-Vietnam-Myanmar-Malaysia dalam satu grup, kebayang dong kerasnya pertarungan. Kebayang juga akan seperti apa nasib Brunei?

Indra Sjafri sudah mempersiapkan timnas U-19 ini sejak mereka masih di kelompok umur di bawah 17 tahun. Dalam sebuah turnamen di Hongkong, Evan Dimas dkk. Kala itu berhasil meraih gelar juara. Publik menaruh harapan tinggi pada garuda muda. Apalagi setelah melihat pola permainan mereka yang tidak sama dengan timnas-timnas sebelumnya, pola permainan sepakbola modern dengan mengandalkan penguasaan bola.

Oke, kita simak hasil laga Indonesia di grup ini.

Laga pembuka, Indonesia menghadapi Brunei pada 10 September 2013. Indonesia menghajar Brunei dengan skor 5-0. Laga kedua menghadapi Myanmar sang kuda hitam, Hargianto dkk. kembali menang namun dengan skor tipis 2-1. Pertarungan sesungguhnya hadir di laga ketiga. Menghadapi Vietnam yang tengah dalam kondisi terbaik, garuda muda kalah 1-2 walau sempat unggul cepat di menit pertama melalui kaki Evan Dimas.

Posisi Indonesia di klasemen sedikit mengkhawatirkan sebab di laga berikutnya harus menghadapi raksasa ASEAN, Thailand. Tidak mau malu di kandang sendiri, garuda muda tampil kesetanan. Thailand yang sudah 4 kali juara turnamen ini dihajar 3-1. Alhasil, papan klasemen lebih bersahabat menyambut laga pamungkas menghadapi Malaysia. Sementara itu, di pertandingan lain Vietnam terus melaju tanpa sekalipun seri atau kalah. Di klasemen akhir, Vietnam meraih hasil sempurna, 5 kali main 5 kali menang mencetak 15 gol kemasukan 5 gol sekaligus tampil sebagai juara grup. Sempurna!

Sementara, Indonesia harus bertarung melawan Malaysia di laga pamungkas untuk memastikan tiket ke semifinal. Indonesia hanya butuh hasil seri sedangkan Malaysia harus menang untuk mendampingi Vietnam. Hasilnya, tampil terus menekan sepanjang babak pertama, Indonesia justru kecolongan gol di babak pertama. Memasuki babak kedua, gol cepat Evan Dimas di awal babak kedua membuat pertandingan menjadi di bawah kontrol timnas. Walau tidak mampu mencetak gol di sisa waktu, Indonesia akhirnya memastikan posisi runner up dan akan menghadapi tim kuda hitam, juara grup A Timor Leste yang secara mengejutkan berhasil menyingkirkan Singapura dari persaingan.

Hasil Indonesia di Babak Penyisihan Grup B

10 September 2013 : Indonesia 5-0 Brunei Darussalam
12 September 2013 : Myanmar 1-2 Indonesia
14 September 2013 : Indonesia 1-2 Vietnam
16 September 2013 : Indonesia 3-1 Thailand
18 September 2013 : Indonesia 1-1 Malaysia

Klasemen Grup B

1. Vietnam 5 5 0 0 15-5 15
2. Indonesia 5 3 1 1 12-5 10
3. Malaysia 5 2 2 1 9-4 8
4. Myanmar 5 1 2 2 13-10 5
5. Thailand 5 1 1 3 16-12 4
6. Brunei 5 0 0 5 1-30 0

Semifinal: Hadapi Kuda Hitam Turnamen

Di babak knock out kali ini Evan Dimas dkk. harus menghadapi kuda hitam Timor Leste. Negara bekas bagian Indonesia itu punya striker tajam bernama Adelino Trindale yang sepanjang penyisihan mencetak 5 gol. Namun, layar terkembang, sudah kadung tampil luar biasa, Timnas U-19 tidak mau menyisakan penyesalan. Mumpung sebagai tuan rumah, kapan lagi bisa merasakan nikmatnya juara, Timor Leste harus dihajar.

Benar saja, dengan permainan lebih baik dari lawan, satu gol di masing-masing babak menjadi pembeda. Indonesia menang 2-0 melalui gol penyerang sayap lincah Ilham Udin Arbain dan gelandang tengah M, Hargianto. Garuda muda menembus final. Final pertama sejak turnamen ini digelar tahun 2002. Sebagai catatan, sejak 2002 prestasi terbaik Indonesia hanyalah sampai di penyisihan grup, tidak pernah lolos ke semifinal. Di final, pertemuan berbau balas dendam menyeruak, sebab Vietnam lawan yang akan dihadapi adalah Vietnam. Tim yang di babak penyisihan mengalahkan garuda muda.

Final: Bertemu Tim Rekor Sempurna

Inilah final perdana Timnas U-19 di ajang Piala AFF U-19. Tangan dingin dan kejelian Indra Sjafri memilih pemain yang disukainya dengan melakukan tur nusantara mulai berbuah hasil. Permainan Evan Dimas sebagai motor bersama M. Hargianto dengan back up Paulo Sitanggang di lini tengah membuat aliran bola mengalir indah untuk disaksikan. Inilah timnas yang dirindukan selama ini. Di depan ada sayap-sayap lincah nan mematikan pada sosok Ilham Udin dan Maldini Pali atau Septian David Maulana sedangkan lini pertahanan ada Hansamu Yama dan kiper Ravi Murdianto.

Vietnam yang punya striker tajam Nguyen Van Than, selanjutnya menjadi top skor turnamen dengan 6 gol menjadi momok menakutkan. Kecepatan dan nafas kuda pemain Vietnam begitumeneror pertahanan lawan. Namun, ini final. Yang dihadapi adalah Indonesia, garuda muda yang sudah punya tekad harus juara di rumah sendiri. Bisa dipastikan laga akan berlangsung ketat.

Benar saja, silih berganti serangan mengalir deras. Kecepatan pemain-pemain Vietnam mampu diimbangi koordinasi tingkat tinggi yang digalang Evan Dimas. Hansamu Yama dan rekan-rekan di lini pertahanan mati-matian menjaga keperawanan gawang Ravi. Sementara Ilham Udin dan Maldini Pali terus meliuk-liuk di lini pertahanan lawan untuk menciptakan peluang bagi striker tunggal Muchlis Hadining atau Dimas Drajad sebagai pengganti. Babak pertama tanpa gol, babak keduapun berakhir tanpa gol. Pertandingan dilanjutkan dengan perpanjangan 2×15 menit. Sama saja, gol enggan tercipta hingga akhirnya juara harus ditentukan dari titik putih. Adu Penalti!

Eksekutor pertama Fathurrachman sukses membobol Vietnam, Vietnam pun demikian. Timnas di ujung tanduk saat penendang kedua dan ketiga gagal. Evan Dimas dan Zulfiandi gagal menyarangkan si kulit bundar ke gawang lawan, sebaliknya Vietnam hanya gagal pada penendang kedua. Saat Vietnam mendapat kesempatan juara jika penendang kelima masuk, mereka justru gagal. Skor penalti sama kuat 3-3. Angin kemenangan berbalik arah untuk garuda muda. Empat penendang tambahan sukses mengeksekusi. Hansamu yama, Putu Gede, Maldini Pali dan terakhir Ilham Udin tidak mau menjadi biang kegagalan. Dan Vietnam juga sukses untuk 3 penendang tambahan. Akhirnya, penendang tambahan keempat Vietnam menjadi kabar gembira bagi Timnas dan seluruh rakyat negeri. Kegagalan menyarangkan si kulit bundar ke gawang ravi Murdianto sontak membuat seluruh pemain dan official timnas berlari ke tengah lapangan. Garuda muda juara! Penantian 11 tahun untuk mengangkat trofi terbayar lunas. Tangan dingin Indra Sjafri berandil besar atas keberhasilan ini.

Itulah satu-satunya gelar yang dimiliki Indonesia di Piala AFF U-19 bahkan hingga edisi terakhir 2016 silam. Selepas juara, PSSI nampaknya ‘tidak suka’ dengan kiprah Indra Sjafri. Kegagalan menembus Piala Dunia U-20 setahun kemudian (usai gagal menembus 4 besar Piala Asia U-19) menjadi alasan PSSI memecat pelatih juara itu. Padahal lawan yang dihadapi di Piala Asia tidaklah enteng, banyak macan asia dengan pembinaan usia muda dan liga yang sudah terstruktur dengan baik di sana.
Para pemain timnas U-19 kemudian terpencar melanjutkan karir dengan bergabung di klub-klub Liga Indonesia. Mereka tidak lagi disatukan dalam sebuah Timnas usia di atasnya. PSSI kembali melakukan kesalahan yang sama yang terus diulang-ulang, gagal target, rombak skuad, gagal target, bongkar pasukan.

Alhasil, dalam 3 edisi Piala AFF selanjutnya timnas kembali babak belur. Jangankan mempertahankan juara, sekedar lolos dari gurp sudah menjadi hal yang mustahil. Ditambah pada tahun 2015 FIFA menghukum PSSI atas carut marutnya pengelolaan sepakbola negeri ini. Komplit!

Kini, 4 tahun setelah gelar perdana dipersembahkan Indra Sjafri dengan ‘bantuan’ Evan Dimas, Hansamu Yama, M. Hargianto hingga Ilham Udin Arbain, misi juara kembali dicanangkan. Pelatih sang juara kembali dirangkul. Indra Sjafri menjadi tumpuan untuk membentuk timnas U-19 yang solid layaknya generasi 2013 silam. Tanda-tanda itu mulai terlihat. Sejumlah calon bintang timnas masa depan lahir dari polesannya.

Ada Asnawi Mangkualam dan Saddil Ramdani yang mulai mencuri perhatian publik tanah air pasca tampil impresif ketika mereka ‘dipinjam’ timnas U-22 di SEA Games. Juga bek tengah tangguh pada diri Rahmat Irianto, anak legenda Persebaya Bejo Sugiantoro serta tentu saja Egy Maulana Vikri, pemain terbaik turnamen Toulon, Prancis. Mereka dan 19 pemain lainnya siap untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini.

Juara bukanlah target yang ringan walau tentu saja juga bukan hal yang mustahil. Myanmar yang menjadi lawan di laga perdana harus dihadapi dengan mental pemenang. Masih ada Vietnam yang selalu menyulitkan di setiap turnamen apapun yang juga harus disingkirkan jika memang ingin juara. Lolos dari grup neraka dengan minimal menjadi runner up adalah target terbaik pertama yang harus diselesaikan sebelum memikirkan titel juara. Bisa?

Advertisements

1 Trackback / Pingback

  1. Rekor Pertemuan Indonesia U-19 vs Myanmar U-19 Di Piala AFF: Saling Mengalahkan! | rideralam.com

Comments are closed.