Si Genza Makin Gesit Dengan Pertalite, Bye Pertamax!?

Beberapa waktu lalu si Genza alias NMax hitam non ABS lansiran 2015 akhir habis mengalami ‘pemerkosaan’. Semua dilucuti dan dilakukan pembersihan, termasuk bagian CVT. Pembongkaran dilakukan karena muncul bunyi ‘grek… grek… grek…’ di bagian yang entah dimana, sampai saat ini tidak diketahui. Nah, seusai dibongkar (tentunya dipasang lagi) bunyi tetap ada, malah nambah performa jadi berat tarikannya. Boros dong? Jelas!

Jika biasanya rataan konsumsi bahan bakar 38-40 kpl, usai pembongkaran malah main di angka 35-36 kpl bahkan pernah menyentuh angka 34 kpl. Jadi kayak konsumsi Jupiter MX edisi 2010 yang pernah RA pakai. Gak benar nih…

Akhirnya diputuskan dibongkar lagi di Bengkel Resmi satunya (pembongkaran dilakukan di BeRes Yamaha lainnya). Tapi, sambil menunggu dibongkar lagi, RA pikir sekalian lah ganti tensioner pakai punya Jupiter Z1 yang produksi Thailand. Kodenya 2SUxxxx. Ok, jelas harus online ini nyarinya, di toko-toko part motor seputaran kota gak bakal ada, lha wong ban NMax saja jarang koq tensioner, begitu logikanya.

Tokopedia dan Bukalapak menjadi tujuan. Sempat menemukan si 2SU dan sudah transfer, ternyata si penjual malah adanya 2ND (padahal dia upload foto tensioner dengan kode 2SU, parah). Ok, batal… barang tidak jadi dikirim, duit dibalikin bukalapak. Dua hari kemudian nemu penjual di tokopedia, di foto barang yang dijual kodenya 2SU. Sip nih… belajar dari sebelumnya dimana RA transfer duluan sebelum chit-chat dengan si seller, kini RA chat duluan. Sejam, 12 jam, sehari eh no respon padahal terlihat dia online. Niat jualan gak sih?!!!

Dua hari masih belum ada balasan, positif batal! Nyari dimana ya? Akhirnya melipir ke Facebook grup NMax Indonesia. Spik-spik status dan alhamdulillah ada yang merespon dengan mengarahkan kepada sebuah akun (tag mode on). Japrian dan akhirnya deal, beliau sempat memberi pilihan 2SU atau 2ND. Yakinlah 2SU pilihanku (coblos ya). Harga 120ribu Rupiah saja.

Nah, balik ke awal. Sambil menunggu tensioner 2SU dapat, terpaksa RA pakai Si Genza apa adanya. Tarikan berat biarin saja lah, motor satu-satunya buat nyari seonggok berkah dunia. Bahan bakar masih pertamax, as usually. Suatu saat dibawa ke Jember dengan mantan pacar, bobot total kami berdua nyaris 200kg! Tambah menjadi lemotnya si Genza. Padahal sebelum ‘sakit’ begini, ecess banget lah bawa bobot segitu, malah enak shock belakang Genza jadi empuk. Sudah lemot, boros pula. Tidak RA ukur dengan pasti, hanya membandingkan saat diisi full, ketika normal untuk menghabiskan 1 strip indikator bbm butuh 75-80 km, kini belum juga 70 km eh sudah hilang strip teratas.

Nah, ketika mau isi pertamax lagi, ternyata antrian panjang banget (pemandangan yang jarang terlihat selama ini) lha koq tumben banget. Eh ternyata premiumnya habis hahahaha… beralih ke pom lainnya, antri juga (tidak kepikiran pakai pertalite). Hingga akhirnya indikator bbm sampai kedip-kedip petanda hampir habis belum nemu juga pertamax, RA putuskan pakai pertalite di pom selanjutnya. Alhamdulillah sepi, antrian pertamax juga sepi sih, tapi entah kenapa tetap ke pertalite. Isi 30 ribu saja dapat pas 4 liter. Nothing to loose lah, mau tambah berat tarikan ya wis, tambah boros bodo amat.

Sekilo, dua kilo, 5 kilo perjalanan… lho koq ada yang aneh. Si Genza koq jadi entengan gini tarikannya. Lemot juga gak lagi. Padahal masih boncengan lho. Tambah lama tambah enak, mendekati pemakaian kondisi Genza yang normal. Waahh… efek pertalite-kah?

Dan hingga kini, seminggu kemudian Genza masih dengan pertalite dan makin enak saja. Tarikan makin enteng, konsumsi bbm pun kembali ke kisaran 39-40 kpl. Kemarin pesanan tensioner 2SU sudah datang, hari ini rencananya mau dipasang, otomatis bongkar lagi. Oke, jadi penasaran seperti apa performa 2SU ini dan performa Genza secara keseluruhan pasca di bongkar lagi. Apakah akan kembali normal dengan pertamax atau permanen dengan pertalite? Tunggu ceritanya di seri Genza berikutnya ya, yang entah kapan ditulisnya hahahaha…

Advertisements

1 Comment

  1. Honda tigerku yg mesin jadul kalo diisi pertalite lemotnya minta ampun. Lari 80 km/h susah sekali. Begitu diisi pertamax enteng aja. Fix pake pertamax terus. Pertalite produk gagal. Pembodohan oleh pertamina.

Comments are closed.