Ternyata Yamaha MX 150 Sudah Disuntik Mati, Ini Alasannya?

Tahun 2015 silam Yamaha melakukan upgrade besar-besaran untuk moped supernya, Jupiter MX 135LC. Dengan menaikkan kapasitas mesin, Jupiter MX 135LC bertransformasi menjadi MX 150 dan MX King 150. Kini, 2 tahun kemudian eksistensi klan MX makin tenar, khususnya MX King 150, sebaliknya nasib buruk menimpa MX 150 tanpa embel-embel ‘King’. Ada apa?

Melalui blog iwanbanaran.com, Kamis (21/9/2017) diketahui bahwa MX 150 ternyata sudah dihentikan produksinya oleh Yamaha Indonesia alias disuntik mati. Parahnya, itu sudah terjadi sejak bulan Mei alias 4 bulan lalu! Woi blogger motor kemana aje lu? #ngomongamacermin #maafkandaku.

MX 150

Motor dihentikan produksinya punya beberapa alasan, salah satunya kurang peminatnya alias tidak laku sesuai target sehingga akan mempengaruhi biaya produksi jika diteruskan penjualannya. Dan, MX 150 ini besar kemungkinan memang tidak laku. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa bisa tidak laku padahal ‘saudaranya’ si MX King 150 justru jadi bebek super terlaris saat ini?

Untuk menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita tahu dulu apa perbedaan dari dua motor kembar ini. Masih dari sumber yang sama, setidaknya ada 11 perbedaan mendasar dari MX 150 dan MX King 150. Apa saja? Cekidot…

1. MX King lampu menggunakan model halogen HS1….MX150 bulb
2. Lampu sein MX King model NVL sedang MX biasa mengadopsi milik old Vixy atau Byson
3. MX King dijejalin lampu senja sedang MX150 tidak. Dan posisi tersebut diganti semacam casing berbentuk jaring
4. MX King Handle seat warna silver….kecuali warna hitam
5. MX King jok kombinasi dua bahan dengan jahitan. Sedang MX150 tanpa King menyatu satu bahan
6. MX King speedometer LCD warna putih plus hadir MID control. MX150 LCD merah dan Odometer digital
7. MX King suspensi dan velg warna kuning….MX150 hitam
8. Foot step depan King model underbone dan layaknya sport tulen yang bisa ditekuk. Sebaliknya untuk MX reguler dari karet biasa dan fix mode (bebek banget)
9. Pelk MX King dibekali list merah. MX biasa nihil
10. Ujung Cover knalpot MX King dikelir silver. Begitu pula behel kecuali varian warna hitam. Untuk MX 150 semua hitam
11. Tuas handle rem MX King dilabur hitam sementara MX 150 tanpa painting.

Dari 11 perbedaan di atas, kita bisa menebak atau istilah kerennya menganalisa faktor mana yang sangat signifikan mempengaruhi pilihan konsumen cenderung lebih ke MX King. Kira-kira yang mana nih bro?

Kalau menurut RA pribadi nih, setidaknya ada 4 faktor yang membuat konsumen lebih memilih MX King dibanding yang tanpa king. Keempat faktor itu adalah ada di poin nomor 1, 6, 7 dan 8. Mengapa? Ayo kita bahas satu persatu, tentu saja versi RA nih.

Poin 1. Lampu LED kini telah menjadi sebuah tren, bahkan sejak 2 tahun lalu. Jadi, bisa ditebak konsumen akan lebih memilih varian dengan lampu LED dibanding yang bulb, kekinian, awet dan hemat energi yang akhirnya hemat biaya perawatan.

Poin 6. Sama halnya dengan lampu LED, konsol speedometer juga tengah beralih ke tren digital alih-alih bertahan di versi manual. MX 150 yang masih mengadopsi speedometer manual akan terasa hambar ditengah desain bodi yang sudah futuristik.

Poin 7. Suspensi dan velg warna kuning membuat MX King terkesan lebih keren, sporty, gaya dan mahal dibanding jika berwarna hitam. Walaupun ini soal selera, tapi nyatanya MX 150 dengan velg dan suspensi hitam tidak semenarik MX King.

Poin 8. Ini lebih ke soal keserasian. Baik MX 150 maupun MX King sudah punya desain yang tidak seperti bebek kebanyakan, sudah lebih sporty dan futuristik. Kebayang gak kalau desain sudah futuriatik, serba beraura balap eh footstep dari karet. Makjleb… ibarat lo ganteng, macho, gagah, perlente tapi pakenya sandal jepit swallow. Lanjutkan sendiri…

Namun, dibalik semua itu ada satu faktor yang menurut RA tidak kalah penting yakni perbedaan harga keduanya. Kala dirilis Maret 2015 silam, MX dan MX King hanya berjarak 500 ribu lebih mahal MX King. Dengan selisih setipis itu, dan perbedaan sebanyak itu, masuk akal jika kemudian ada kalimat ‘nambah dikit sudah dapat yang lebih keren’. Alhasil, MX King menjadi pilihan utama.

MX King

Sebenarnya ini tidak lepas dari kebiasaan konsumen, baik mobil maupun motor, di Indonesia. Jika produsen melepas satu produk dengan beberapa varian dari yang terendah dan termurah hingga yang tertinggi, terlengkap dan termahal, justru yang varian tertinggi paling laris. Tidak semua, tapi hampir sebagian besar.
Jadi, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan kasus MX dan MX King akan menimpa Vixion dan Vixion R, setuju?

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*