‘Egy Messi’ Yang Dibenci Indra Sjafri!

Aksi Egy kala menghadapi Kamboja U-19

Julukan ‘Egy Messi’ atau Messi dari Indonesia untuk bintang Timnas Indonesia U-19 Egy Maulana Vikri ternyata mendapat respon negatif dari sang pelatih, Indra Sjafri. Bisa dibilang Indra benci julukan Egy Messi.

Indra menilai julukan itu tidak pantas disematkan kepada seorang Egy Maulana sebab menurutnya sepakbola adalah permainan tim. Seorang pemain tidak akan menjadi bintang tanpa bantuan rekan-rekannya di lapangan. Pun demikian dengan Egy. Indra menyebut Egy bukan siapa-siapa tanpa 10 pemain lain di lapangan.

Sebutan Messi dari Indonesia yang diberikan kepada Egy ramai terdengar sepanjang penampilannya di Piala AFF U-18 2017. Sebutan tersebut pertama kali terlontar dari presenter sepakbola yang kala itu menyiarkan langsung laga-laga timnas U-19 di Piala AFF U-18 tersebut, Valentino Simanjuntak. Bahkan, media Vietnam juga ikut memberikan predikat ‘Messi dari Indonesia’ buat Egy.

“Saya minta jangan hanya memuji satu pemain. Egy itu tidak ada apa-apanya kalau tidak dibantu pemain lain di tim. Ini sepak bola, bukan catur. Saya minta jangan lagi sebut itu ‘Egy Messi, Egy Messi’,” kata Indra seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (29/9/2017).

Menurut Indra, di dalam tim bentukannya itu tidak ada pemain yang superior atau inferior. Semuanya memiliki kemampuan yang setara dengan tugas dan peran masing-masing.

Namun, terlepas dari semua yang diucapkan Indra Sjafri, Egy memang memiliki talenta spesial yang tidak dimiliki pemain lain. Tidak mungkin Egy bisa masuk daftar 60 pemain muda bertalenta dunia versi the guardian jika kemampuannya biasa-biasa saja. Seperti misalnya kemampuan dribelnya yang lihai dan cepat serta insting golnya yang cukup tajam. Bahkan, di sebuah tim hebatpun akan ada satu pemain bintang yang paling menonjol. Sebut saja Lionel Messi di Barcelona, Cristiano Ronaldo di Real Madrid atau bahkan Comvalius di Bali United.

60 talenta muda terbaik dunia versi majalan the guardian

Memang benar, semua nama itu tidak akan berarti tanpa kehadiran 10 rekannya di lapangan saat berlaga, namun nama-nama itu tidak jarang dan nyaris selalu menjadi pembeda dalam sebuah laga yang berlangsung seimbang.

Egy memang belum sampai ke level itu. Di semifinal Piala AFF U-18 kemarin saja ketika Indonesia kalah adu penalti dari Thailand, Egy tidak mampu menjadi pembeda. Padahal jalan ke arah itu sangat terbuka mengingat beberapa peluang emas dimana dirinya sudah one on one dengan kiper yang ternyata sayangnya tidak mampu dikonversi menjadi gol.

Saat ini, biarkan Egy terus mengasah skill dan mentalnya untuk merintis jalan menuju kebintangannya. Egy sudah berada di tangan yang tepat untuk menjadi bintang. Indra Sjafri adalah pelatih yang tahu persis kemampuan para pemainnya. Lihat saja bagaimana dia mengorbitkan nama-nama seperti Evan Dimas, Hansamu Yama hingga Ilham Udin.

Advertisements