Mereka Adalah Musuh Bersama Sepakbola Indonesia!

ktm indonesia

Halo kawan-kawan, tolong kalian ingat-ingat nama di bawah ini:
1. George Toisutta
2. Arifin Panigoro
3. Kelompok 78

Nih orangnya bro, George Toisutta. Ingat2 ya...
Arifin Panigoro. Jasanya terhadap pembinaan usia muda terhapus oleh kengototannya

Nama pertama adalah seorang TNI berpangkat Jenderal menjabat sebagai KASAD TNI 2010 ini. Dia mencalonkan diri sebagai Ketua PSSI periode 2010-2011. Sedangkan nama kedua adalah seorang pengusaha nasional yang ngakunya peduli terhadap per-sepakbolaan Indonesia. Arifin Panigoro mencalonkan diri sebagai Wakil Ketua PSSI mendampingi George Toisutta, yang lebih dikenal dengan sebutan pasangan GT-AP. Nah, kelompok 78 adalah sekumpulan penjilat-penjilat yang memiliki hak suara di kongres PSSI yang dengan membabi-buta mendukung dan mendorong kedua nama di atas untuk mencalonkan diri sebagai Ketua dan Wakil Ketua PSSI periiode 2010-2015.
Trus buat apa diingat?
Oke, begini….
Sebelum kongres PSSI di Pekanbaru, 23 Maret 2011, terdapat empat orang yang mencalonkan sebagai Ketua PSSI yaitu Incumbent Nurdin Halid (NH), Nirwan Bakri (NB), George Toisutta (GT) dan Arifin Panigoro (AP). Namun, oleh komite pemilihan dua nama terakhir tidak diloloskan untuk maju memperebutkan kursi nomor satu di PSSI tersebut. Alasannya adalah AP diduga ditolak karena kompetisi bentukannya yang tidak berafiliasi ke PSSI dan FIFA, Liga Primer Indonesia (LPI). GT ditolak berkas pencalonannya karena PSSI menilai GT tidak sesuai dengan statuta PSSI yang menyebutkan bahwa calon ketum PSSI harus aktif di dunia sepakbola minimal 5 tahun, dan GT tidak memiliki syarat itu. Akhirnya GT dan AP protes dan mengajukan banding ke Komite Banding yang diketuai Prof. Dr. Tjipta Lesmana. Sedangkan kongres sendiri akhirnya berjalan ricuh dan deadlock, tidak berhasil menetapkan ketum PSSI yang baru.
FIFA mengetahui kejadian ini sehingga mereka membentuk Komite Normalisasi (KN) yang diketuai Agum Gumelar, mantan ketum PSSI. FIFA memberikan deadline kepada KN untuk segera menggelar kongres sebelum 21 Mei 2011. Setelah melalui pertimbangan-pertimbangan diputuskan bahwa kongres pemilihan ketua dan wakil ketua serta anggota eksekutif komite (exco) akan dilaksanakan pada 20 mei 2011.
Dalam perjalanannya, Komite Banding pada akhirnya memutuskan untuk menolak semua banding dari GT dan AP serta juga menganulir status pencalonan NH dan NB. Artinya keempat calon ketum PSSI tersebut dilarang untuk maju mencalonkan kembali sebagai ketua dan wakil ketua PSSI periode 2010-2011 pada kongres 20 Mei 2011. Nah dari sini “the real terorism on Indonesian Football” tercipta. Masyarakat awam hingga pecinta Sepakbola Indonesia akhirnya tahu siapa sosok GT-AP sesungguhnya. Sosok yang gila kekuasaan, sosok yang merasa paling bisa memajukan sepakbola Indonesia (yang ternyata malah menjerumuskan).

Pentolan Kelompok 78. Tak tahu diri!

Saat kongres 20 Mei 2011 di Jakarta, lebih banyak orang yang mencalonkan sebagai ketua dan wakil ketua PSSI. Termasuk GT-AP (lho koq bisa, bukannya dah ditolak ya?). Itu dia, kenapa saya bilang mereka seperti ungkapan diatas.
Melalui kelompok pendukungnya, yang menyebut diri mereka Kelompok 78 (K78), dimana mereka adalah mayoritas pemegang hak suara dalam pemilihan PSSI (dari 101 suara). Mereka ngotot untuk tetap mencalonkan GT-AP padahal FIFA melalui suratnya kepada ketua KN mengatakan bahwa GT-AP tidak boleh mencalonkan diri sebagai ketua-wakil PSSI periode 2010-2011 (untuk periode setelah itu diperbolehkan). Tanda-tanda bahwa K78 memaksakan kehendak tampak dari kengototan mereka untuk tetap mengirimkan berkas pencalonan kedua jagoannya (ayam jago kali), walaupun telah ditolak, otomatis KN tetap menolak pencalonan mereka. K78 tidak kehabisan akal, mereka mengajukan banding ke komite banding. Anehnya, komite banding malah meloloskan mereka (ada apa ini, aneh bukan? hehehe…ga aneh mah bukan Indonesia namanya). Tetapi KN tetap bersikeras sesuai dengan mandat FIFA (karena KN merupakan kepanjangan tangan FIFA di Indonesia) untuk menolak mereka.

Kongres PSSI 2011

Ketika waktunya kongres dimulai, 20 Mei 2011, K78 mulai keluar sifat arogannya. Kongres yang memiliki agenda memilih dan menetapkan Ketua dan Wakil Ketua serta Anggota Exco PSSI 2010-2011 berusaha untuk mereka agendanya dengan memasukkan agenda mereka yaitu ingin menghadirkan dan mendengarkan alasan komite banding yang telah meloloskan ayam jago mereka GT-AP. Ketua KN, Agum Gumelar dengan tegas tetap menolak usulan itu (Hidup pak Agum). Setelah kongres sempat diskors, Agum Gumelar akhirnya menghentikan pelaksanaan kongres karena beliau menilai suasana sudah tidak kondusif untuk kelanjutan kongres. Dasarnya adalah telah lebih dari 6 jam tidak ditemukan kata sepakat, karena K78 dengan ngeyel membelokkan agenda kongres, selain itu menurut Agum Gumelar kondisi di dalam kongres semakin panas dan nyaris baku hantam. Perwakilan FIFA yang hadir, Thierry Regenass, juga menilai kongres sudah tidak mungkin untuk dilanjutkan. Dia menilai pemilik suara (siapa lagi kalo bukan K78) melecehkan PSSI dan FIFA karena berusaha membelokkan agenda kongres dan memaksakan kehendak terhadap Kn untuk meloloskan ayam jagonya.

Agum Gumelar, Ketua Komite Normalisasi. Yang ini tidak boleh dimusuhi bro

Well, sekarang, sampai tulisan ini saya buat (dengan emosi tingkat tinggi hehehe…) Indonesia sepertinya tinggal menghitung hari untuk mendapatkan sanksi dari FIFA yang artinya semua kegiatan dan aktivitas sepakbola Indonesia dibekukan dan tidak boleh mengikuti semua kegiatan sepakbola di bawah FIFA (nah lho, mau ikut dengan siapa kalo dah gitu). FIFA akan rapat eksekutif tanggal 30 Mei untuk membahas nasib Indonesia, jika tidak mendapatkan keputusan maka permasalahan PSSI ini akan dibawa ke agenda kongres FIFA 31 Mei 2011. Mati lo!!
GT-AP yang tadinya dianggap “pahlawan” oleh masyarakat bola Indonesia karena berani menentang rezim NH, kini mulai menjadi musuh nomor satu masyarakat bola Indonesia (termasuk saya!). Muka badak alias tidak tau malu dan tidak punya malu dari kedua orang ini bersama anj*ng2 pengikutnya di K78 akan membuat negara ini sakit! Indonesia siap-siap untuk dihukum FIFA!
Seandainya FIFA mem-banned Indonesia, apa yang akan terjadi dengan Persipura di AFC Challenge yang telah masuk perempat final? apa yang akan terjadi dengan Timnas Indonesia Sea Games 2011 di rumah sendiri, jadi penonton disaat negara2 lain bertanding di rumah kita? atau apa yang akan terjadi dengan Timnas U-13 yang hendak berlaga di Piala Asia 2011 ini? atau apa yang akan terjadi dengan tim SAD Indonesia di liga Uruguay? Semuanya akan sama, mereka dipaksa untuk keluar dari kejuaraan dan duduk manis di rumah alias jadi penonton.
Cuma ada di Indonesia!

Advertisements