Motor Pujaan Kalah Dalam Komparasi Standar, Lalu Lari Ke Komparasi Balap Resmi… Fansboy Detected!

image
Sipio. Hanya ilustrasi, bukan motor balap koq hehehe...

Rideralam.com – Setiap ada motor baru yang sekelas sudah bisa dipastikan hasil komparasi berbagai versi dan berbagai pembanding bermunculan. Ambil contoh yang lagi seru, YZF-R25 yang baru saja hadir guna bersaing dengan pemain lama macam Ninja 250FI dan CBR250R atau kalau mau dimasukkan juga bolehlah Ninja RR Mono. Silahkan brosis googling dengan keyword komparasi motor 250 cc, dijamin bakal bejibun beritanya.

Wajar, namanya juga motor sekelas (harganya, spesifikasinya hingga powernya) pasti bikin penasaran, yang mana sih yang lebih dibanding yang lain. Lalu, apa selanjutnya kalau sudah tahu hasil komparasinya, si A lebih kencang dari si B atau si C lebih murah dari si D? Macam-macam dong, ada yang langsung ke dealer buat nebus tuh motor, ada yang “oo…jadi si X tho yang lebih bla bla…” dah gitu aja atau melakukan komparasi sendiri. Semua bisa saja terjadi.

Yang menurut RA agak aneh adalah jika ada yang melihat hasil komparasi (on dyno misalnya) lalu karena tidak suka motor kebanggaannya kalah kemudian malah membandingkan si motor kala di balapan resmi, IRS atau Indoprix misalnya. Mengapa agak aneh?

Yaa… yang namanya adu perbandingan motor di balapan resmi jelas kondisi motor sudah tidak standar lagi, minimal ya standar racing alias standar motor balap. Ubahan di sana-sini hingga akhirnya yang standar mungkin hanya tinggal merk motornya saja :D. Jelas, di sini menangnya motor ditentukan oleh banyak faktor, sebut saja kondisi trek, joki, mekanik, hingga kemampuan finansial tim balap tersebut untuk mendandani motornya hingga jadi lebih kencang dari yang lain.

Untuk kondisi normal, pemakaian harian, jelas adu komparasi di balap resmi tidak bisa dijadikan acuan. Emang harian lo ngebalap terus? Busyet dah… Untuk menentukan pemilihan motor mana yang akan dibeli paling tidak jauh dari soal harga, keiritan, model, jumlah silinder hingga miring tidaknya spatbor #eh

So, jangan heran kalau CBR250R walaupun kalah di test dyno namun unggul di balap resmi, tetap saja penjualannya kalah telak dari Ninja 250FI atau bahkan sebentar lagi akan kalah juga dari R25. Jadi, ketika tidak terima dengan adu komparasi on dyno lalu malah memilih adu komparasi on circuit (balap resmi) bisa dipastikan dia adalah fansboy fanatik merk itu! Hheheheh….

Baca Juga:
[display-posts tag=sport]

Silahkan dikoreksi dan didiskusikan, semoga bermanfaat!

Contact me on:
e-mail: karis.nsz@gmail.com
twitter: @karismapr
whatsapp: +628 77 1 2727 000

Advertisements

42 Comments

  1. lama g k blog ini,

    ya mgkn FB yg butuh “doktrin” pembenaran. jdnya mencari data2 untuk melegakan hatinya.

  2. kl ane mah gak masalah….malah nambah2in biar rame…namanya fans ya d bela ampe berdarah2….ngoahaha .
    contoh aja fans bola di indonesia ,fanatik berat….ke motor ya gak jauh beda kefanatikanny….yg pnting kl di serang siapin counter attack walau kadang opininya nyeleneh…yg pnting bisa counter balik …ngoahaha

  3. wkwkwk,
    tipikal efbeha bgt tuh,
    sllu bwa” IRS Lah, motogp lah,

    emg nya motor yg di bkin ngahaem di bkin bwt nyirkuit apa ?
    spek harian kok di bandingin ama spek balapan
    :v

  4. itu masih belum seberapa….ada juga saking anatiknya klo kalah ajak adu tabrakan….haha

  5. test dyno kan untuk melihat peak power dan torsinya berapa?
    kan ada namanya reduksi gearnya, kualitas materialnya, handling, komsumsi bensinnya. ngak bakalan kelihatan kan?

    makanya diuji diarena balap baru ketahuan,

    biar lebih adil uji balapan kondisi full standar. RRmono vs newCBR vs megali 250 kelas i silinder, N250 vs R25 vs inazuma vs hyosung gt250 kelas 2 silinder.
    diuji beberapa lap satu persatu siapa yang best lapnya paling cepat dan paling irit, kedua paramater penilaian tsb mempunya bobot yg sama….. gitu aja kok repot.

    • Nah, kalau diuji balapan dengan spek standar pabrikan masih oke tuh walaupun sebenarnya tidak perlu juga, riding harian gak bakal ngebalap terus

  6. rider sejati ialah seorang biker yg dapat mengharga rider lain, sekalipun itu motor hasil rakitan sendiri…

    apapun motornya minumnya teh botol s*sr*

    salam karet bundar..

  7. sama aja bos ente juga fanboy kan soalnya berat sebelah :mrgreen:
    namanya juga fanboy kan mikirnya ga logis klo sampean mempermasalahkan kelakuan fanboy yang ada ente yang stres bos :mrgreen:
    ga honda ga yamaha sama sahaja bosss…..
    salam 1 aspal :mrgreen:

  8. Yg bikin kaget lihat hasil Racelogic & Dyno motor 150cc DOHC 6Speed VS SOHC 5Speed. Justru yg msh pke SOHC yg paling unggul di Power Torsi serta TopSpeed walaupun akselnya kalah. Akhirnya nyangkut2 ke motor yg speknya balapan, emang motor spek balap itu dijual massal? Dgn adanya komparasi itu konsumenlah yg diuntungkan tanpa repot mengeluarkan biaya yg banyak.

  9. jelas beda lah bro, uji dyno kan mengetahui seberapa besar tenaga dan torsi. sementara uji running bertujuan untuk mengetahui kecepatan.
    faktor berat kendaraan, ukuran ban/pelek, reduksi gear/sprocket, transmisi, kopling, dsb sangat berpengaruh. belum tentu yang menang di dyno menang kalo diadu balap lurus. dan karakter utama mesin sangat berpengaruh. meski power kalah tipis tapi jika mesin overbore berkarakter cepat naik rpmnya kalo diadu drag, masih bisa mengungguli long stroke yang power n torsi lebih besar.
    begitu diadu buat narik beban berat, atau nanjak, yang overbore ampun-ampunan harus pake rpm tinggi sementara yang long stroke lebih nyantai rpm gak perlu tinggi-tinggi sudah laju. tiap mesin beda karakter.

Comments are closed.