Ducati, Kemenangan Yang Makin Menjauh!

image
Andrea Iannone dan Andrea Dovizioso sempat nyaris juara hingga akhirnya sulit podium

Di awal musim ini Ducati sangat optimis akan mampu setidaknya meraih satu kemenangan seri di 18 seri MotoGP musim ini. Di seri pembuka Qatar, target itu sepertinya akan terwujud dengan mudah. Dengan motor revolusionernya, Desmosedici GP15, duo Andrea sukses menapaki podium menemani sang juara, Valentino Rossi. Ducati podium 2 dan 3, dikit lagi podium 1.

Keinginan juara makin menggebu memasuki seri kedua. Kali ini, Austin menjadi next hope dari pasukan Italia ini. Hasilnya? Makin optimis satu seri bisalah dimenangkan. Austin menjadi saksi kehebatan Andrea Dovizioso menghadang laju M1-nya Valentino Rossi untuk mempertahankan podium kedua. Dua kali podium dua di dua seri awal. Dikiiit lagi podium satu…

Seri ketiga Argentina kayaknya bakalan menjadi next hope Ducati. Performa GP15 makin ciamik, kecepatan dan seluruh paket di dalamnya sudah bisa mengalahkan RC213V dan M1, harapannya tinggal nunggu waktu saja buat ke podium satu nih. Kembali, posisi runner up diamankan Dovizioso. Gokil, 3 seri 3 runner up. Potensi GP15 memang ciamik, kayaknya target juara 1 seri kurang nih.

Bahkan hingga seri keenam di Mugello, Italia Ducati sudah meraih 4 kali runner up dan 2 kali podium 3. Harapan untuk menjadi pemenang makin besar. Ibarat menyeberang di atas jembatan kayu, selangkah lagi nyampe seberang. Selangkah lagi. Selain faktor GP15 yang makin ciamik, keputusan Ducati untuk tidak lagi menjadi tim pabrikan 100% akibat adanya konsesi, semakin membantu peningkatan performanya. Hingga ketika keuntungan menjadi factory with concession mulai ditarik karena terbentur aturan poin, akhirnya Ducati mulai merasakan kepayahan. Praktis sejak terakhir di Mugello Iannone di podium dua di belakang Lorenzo, Ducati langsung anjlok. Podium semakin sulit di jangkau, apalagi juara. Ducati baru bisa merasakan podium lagi di seri ke-12 Silverstone dimana Dovizioso finish ketiga. Sepanjang seri ke-7 hingga ke-11 praktis tidak ada wakil Ducati di podium. Harapan menjuarai satu saja seri dari 18 seri perlahan menjauh. Di Silverstone saja sebenarnya podium Dovi berbau keberuntungan akibat kondisi balapan yang kacau gara-gara trek basah diguyur hujan. Selain faktor dicabutnya beberapa keuntungan sebagai pabrikan dengan konsesi, Ducati juga dihadapkan pada kenyataan bahwa lawannya adalah Yamaha dan Honda.

Yamaha dan Honda telah puluhan tahun berpengalaman dan tahu bagaimana membangun sebuah motor ketika musim tengah berjalan agar makin sempurna. Oke, pengembangan mesin difreeze aturan, namun meningkatkan kecepatan dan keseimbangan antara power dan handling tidak hanya dari sisi mesin. Alhasil, perkembangan pesat RC213V dan M1 plus rivalitas Rossi-Lorenzo-Marquez membuat GP15 makin tertinggal.

Ditambah penyakit yang baru diketahui dan dialami GP15 yakni pada sisi pengereman makin membuat target kemenangan makin menjauh. Akhirnya, hingga musim menyisakan 4 seri, Ducati belum juga berhasil memenuhi target juaranya. Malah tambah sulit untuk sekedar podium, sesuatu yang bertolak belakang dengan 6 seri awal lalu. Pertanyaannya, apakah target kemenangan minimal di satu seri masih relevan di sisa musim ini? Apakah di sisa musim ini Ducati mampu menghadirkan kejutan dengan menduduki podium satu oleh salah satu pembalapnya?

Entahlah…

Advertisements

1 Comment

Comments are closed.