Tidak Mengikuti Tren Karena Keinginan Konsumen, Konsumen Yang Mana? Gak Laku Ntar Tahu Rasa!

Dalam beberapa kesempatan peluncuran motor atau mobil baru, biasanya para pemerhati otomotif ada saja menemukan sesuatu yang dianggap kurang atau tidak lazim pada produk baru tersebut. Jika hadir dalam prosesi launching, hal itu bisa langsung ditanyakan ke perwakilan produsen. Nah, yang sering bikin mengernyitkan dahi adalah alasan yang dilontarkan produsen yang cenderung mengada-ada dan tidak transparan serta seperti menyalahkan selera konsumen.

image
Ertiga Dreza tanpa kamera parkir

Sebagai contoh RA ambil dua kasus pada peluncuran Suzuki Ertiga Dreza dan Yamaha New Fino 125. Satu mobil, lainnya motor. Ertiga Dreza adalah varian tertinggi dari Ertiga sehingga ekapektasi siapapun yang mendengarnya pasti mobil ini memiliki fitur yang lengkap, terlengkap dibanding varian Ertiga lainnya. Namun, ternyata ada satu fitur yang tidak ada di Dreza yakni kamera parkir, padahal kompetitor yang sekelas semuanya ada fitur itu. Lalu, apa reaksi Suzuki ketika disinggung ketiadaan kamera parkir seperti dikutip dari Kompas?
 

Tidak semua konsumen suka dengan fitur kamera parkir, sehingga diputuskan hanya menggunakan sensor parkir

Oke, noted! Konsumen tidak semua suka fitur kamera parkir di Ertiga Dreza.

Kedua, si peluncuran New Fino 125. Sebagai produk baru, New Fino diharapkan sudah mengadopsi teknologi atau fitur terbaru dari tren motor saat ini. Tren yang sedang ramai adalah pemakaian Light Emitting Diode (LED). Lampu LED seolah sudah menjadi fitur standar motor baru. Namun, ternyata New Fino tidak mengikuti tren itu. Ketika seorang Iwanbanaran punya kesempatan menanyakan hal tersebut saat bertemu petinggi YIMM, inilah jawabannya

Untuk New Fino 125 LED bukan keinginan mutlak konsumen

Oke, noted! Tidak semua konsumen ingin pakai LED di New Fino!

image
New Fino Belum LED

Semua karena keinginan konsumen. Saat konsumen tidak semua menginginkan fitur tertentu, maka produsen punya alasan tidak melengkapi fitur itu di produknya, padahal hal tersebut sudah dilakukan kompetitor. Pertanyaannya, konsumen mana sih yang disurvey? Pemakai produk itu sebelumnya? Tingkat pengetahuan otomotifnya bagaimana? Up to date tidak dengan perkembangan tren otomotif saat ini? Atau jangan-jangan yang disurvey malah konsumen yang loyal terhadap kompetitor (baca fans boy), jelas bukan hasilnya akan seperti apa?!

Selain itu, memang sebuah produk dibuat salah satunya atas dasar keinginan konsumen, namun ketika hal itu bertentangan dengan tren yang sedang in, bukannya berarti itu adalah suara minoritas? Tren bukannya adalah keinginan konsumen yang lagi booming? Lalu, mengapa harus mengikuti yang minoritas?

Mau jadi trend setter baru? Kalau urusannya desain, teknologi dan fitur masa depan okelah bisa membuat tren baru. Tapi, ini adalah soal fitur yang tengah digandrungi konsumen, masa gak mau diikuti? Gak laku dong nanti, atau minimal konsumen akan berpikir ulang dengan harga sama mending ambil yang lebih keren dan kekinian dong! Kalau sudah gak laku, apa masih akan mengatakan

Produk saya tidak semua konsumen ingin membelinya

Siapa yang rugi?

monggo mampir ke:
Twitter @karismapr
Faceebook Karis Mauyy
Blog sportupdate5 , rideralam , karismauyy.wordpress

Advertisements

Comments are closed.