Alasan Utama Balap Liar Dilegalkan Bikin Miris, Tapi Daripada Tidak Biarin Lah…

image
Ilustrasi balap liar

Lagi ramai soal Pemda DKI bersama Polda Metro Jaya dan IMI yang akan melokalisir atau melegalkan kegiatan balapan liar di beberapa area jalan di Jakarta. Sebuah hal positif sebagai upaya mengurangi korban jiwa di jalan raya sekaligus untung-untungan siapa tahu ada bibit pembalap seperti Valentino Rossi. Lalu, apa sih sebenarnya latar belakang rencana tersebut? Mengapa baru saat ini, padahal balap liar sudah sejak lama berlangsung?

Latar belakang akan dilegalkannya balap liar di beberapa lokasi di ibukota menurut Jeffrey JP, pelaksana tugas (plt) sekretariat dan olahraga pengurus pusat IMI adalah adanya sentilan dari Federation Internationale de Motocyclisme (FIM). FIM menyebut Indonesia dengan jumlah penduduk ratusan juta plus pasar motor salah satu yang terbesar di dunia tidak punya pembalap sekaliber Marc Marquez dan Valentino Rossi. Nampaknya, IMI kesindir juga dengan sentilan FIM itu.

[display-posts category=”ragam” posts_per_page=”4″]

Bagus juga mau dengerin sentilan pihak lain, namun ini juga jadi ironis plus miris. Hal itu seolah-olah menyiratkan pendapat bahwa selama ini mati sia-sianya para generasi muda bangsa akibat balapan liar di jalan raya seperti dianggap biasa atau bahkan mungkin disyukuri beberapa pihak, “itung-itung ngurangi kepadatan penduduk, bro” begitu kali ya. Padahal mau satu atau seribu, nyawa tetaplah berharga. Dan hal itu menjadi konsumsi biasa bagi pengelola bangsa ini. Teriakan orang tua, guru, pengguna jalan lain soal balapan liar seolah hanya menjadi suara nyamuk dekat telinga bagi penegak hukum di tanah air. Mengganggu namun biasa. Razia dilakukan anget-anget tai ayam, apalagi kalau ternyata pelaku balap liar anak seorang yang berkuasa, selesai masalah.

[display-posts category=”otomotif” posts_per_page=”4″]

Hingga akhirnya ada pihak di luar Indonesia yang justru bukan peduli soal kematian generasi muda, namun lebih ke prestasi yang miss, akhirnya petinggi negeri ini mulai tergerak untuk mengurangi efek buruk balapan liar. Sebenarnya inisiatif pihak IMI melegalkan balapan liar untuk menjaring pembalap berbakat tidaklah salah, karena memang domain mereka ke arah prestasi. Namun, menjadi miris jika selama ini pihak penegak hukum hanya seolah-olah diam saja menyaksikan fenomena balapan liar. Baru ketika ada inisiatif dari IMI mereka mau bergerak. Mosok dari sekian juta jumlah penegak hukum gak ada satupun punya ide untuk melegalkan balapan liar dengan maksud menghindari banyak korban jiwa? Kudu nunggu sampai ada pihak lain berinisiatif, itupun gara-gara disentil pihak asing.

Andaikan FIM tidak menyindir IMI, apakah balap liar akan terus abadi menjadi balap liar yang meresahkan? Apakah kalau yang nyentil sekelas guru, orang tua atau LSM peduli anak akan didengarkan?

Sumber

Advertisements

Comments are closed.