Sinetron Anak Jalanan Disanksi KPI, Sudah Seharusnya!

ktm indonesia

image

Sebenarnya tidak ada yang salah dari sebuah tayangan sinema elektronik (sinetron). Kreatifitas menjadi titik poin di sini. Namun, sinetron akan menjadi antiklimaks alias menjadi merugikan ketika isi atau materi yang terkandung mempengaruhi penonton dari sisi negatif. Salah satu contoh sinetron yang tengah naik daun namun juga banyak menimbulkan kontroversi adalah sinetron Anak Jalanan yang tayang di RCTI.

Sinetron Anak Jalanan begitu disukai pecinta sinetron khususnya anak muda seumur smp-sma mengangkat tema anak motor yang berkelompok dengan segala aktivitasnya. Bumbu konflik ya adalah antar kelompok anak motor yang berselisih. Tentu saja ada adegan adegan kekerasan seperti berantem,  pengelompokan hingga adegan yang sebenarnya tidak layak menjadi konsumsi umum, ciuman pipi misalnya. Hal itulah yang akhirnya membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mulai bersikap.

Hal-hal tidak pantas tersebut merupakan pelanggaran yang harus mendapat saksi. KPI mulai tegas dengan Anak Jalanan ini, terbukti mereka memutuskan untuk memberikan saksi administratif kepada sinetron Anak Jalanan.

Baca Juga:
[display-posts tag=”ragam” posts_per_page=”4″]

Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI Pusat) berdasarkan kewenangan menurut Undang-Undang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran), pengaduan masyarakat, pemantauan dan hasil analisis telah menemukan pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI tahun 2012 pada Program Siaran Anak Jalanan yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta nasional RCTI pada tanggal 31 Desember 2015 pukul 20.09 WIB :

1. Program tersebut menayangkan adegan seorang laki-laki berkelahi melawan sekelompok geng motor, pengeroyokan sampai pingsan.
2. Pada tanggal yang sama terdapat adegan seorang pria mengucapkan kata “tolol” dan “bego”.
3. Pada 26 Desember 2015 terdapat adegan seorang remaja wanita mencium pipi pasangannya.
4. KPI Pusat menilai adegan tersebut berpotensi ditiru oleh remaja yang menonton dan berdampak negatif.

Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas perlindungan remaja dan penggolongan program siaran. Sehingga saksi diberikan berupa teguran tertulis atau jika tidak merubah cerita,  maka sinetron Anak Jalanan harus pindah jam tayang ke jam 22.00-03.00 WIB alias jam tayang dewasa.

Saksi memang harus diberikan, namun sebenarnya jika diperhatikan lebih serius, tayangan sinetron Anak Jalanan ini seharusnya tidak lagi ditayangkan. Pengaruhnya lebih banyak buruknya dibanding baiknya bagi anak muda. Geng motor, gaya hidup baru, kesombongan, hingga ketidaksopanan pada orang yang lebih tua menjadi adegan yang sangat merusak. Semoga KPI lebih tegas melihat banyak sisi dampak buruk Anak Jalanan ke depan tidak hanya dari satu sisi saja.

Advertisements

Comments are closed.