Polda Jabar Bantah Penilangan Motor Bawa Tas Ransel, Ya Iyalaaahh…

image

Bahas insiden tilang ajaib bin aneh yang sering dilakukan polisi (baca oknum juga boleh) masih seru. Bikin greget soalnya. Bagaimana tidak, contoh yang terakhir soal biker yang ditilang gara-gara bawa tas ransel di dek depan Hobda BeAT saat melintas di wilayah Cirebon, malah dibantah oleh pihak kepolisian Polda Jabar. Katanya, si biker memang salah tidak ada STNK dan tidak pakai helm, padahal menurut si biker SIM dan STNK ada, helm ada sebab razia di Karawang dia lolos. Adu komentar ini mah…

Adalah Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono yang membantah pernyataan si biker. Kombes Pol Sulistyo menyatakan bahwa pemotor yang dihentikan petugasnya jelas melanggar aturan.

“Pelanggarannya yang pertama dia (pemotor) enggak bawa STNK dan kedua tidak menggunakan helm. Akhirnya oleh anggota Kami dilakukan penilangan”, ujar Sulistyo saat dikonfirmasi merdeka.com.

image

Namun, pernyataan si kombes layak untuk diragukan, sebab di postingan facebook si biker justru membantah hal itu dengan mengomentari pemberitaan di merdeka.com tersebut di akun facebooknya.

“Percayakah masyarakat Infonesia dengan karangan bpk polisi yang terhormat…. Yang katanya sudah bertemu dengan pemotornya? SILAHKAN ANDA NILAI MENGARANG D BAWAH INI… DAPAT NILAI BERAPA???”

image

Wew… Siapa yang benar? Sorry to say nih, RA lebih percaya si bro biker itu. Bukan karena kenal si biker atau benci polisi, namun melihat rekam jejak instansi satu itu rasa-rasanya sulit untuk mempercayai setiap pernyataan mereka, apalagi jika ada indikasi mereka sendiri yang salah. Serasa berat sekali mengaku salah dan meminta maaf. Padahal itu jauh lebih dihormati dibanding keukeuh dengan kebohongannya sendiri.

Mau contoh? Masih ingat dengan insiden yang melibatkan sopir taksi dan polisi dimana si sopir ditilang gara-gara berhenti di sebuah lokasi yang didekatnya ada rambu larangan parkir di sebuah tayangan acara stasiun televisi swasta nasional? Padahal jelas-jelas pihak kepolisian yang salah membedakan antara berhenti dan parkir. Bahkan, ketika pihak stasiun TV tersebut mengucapkan permohonan maaf ke publik perihal kesalahan itu, mana suara yang sama dari pihak kepolisian? Gak ada, bro! Yang begitu itu mau disebut berubah ke lebih baik? Lha mereka sendiri yang tidak mau berubah.

[display-posts tag=”tilang-aneh” posts_per_page=”4″]

Kembali ke kasus tas ransel di atas, memang untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang mengada-ada sangat sulit. Kejadian penilangan tidak ada bukti otentik selain surat tilang, yang tidak bisa dijadikan bukti siapa yang salah. Bisa saja kan pak polisinya menulis kesalahan si biker sesuai yang dia tuduhkan, padahal nyatanya tidak. Tidak ada rekaman CCTV atau sejenis di insiden tersebut sehingga posisi si biker lemah, si polisi sangat kuat berkat kerjasamanya dengan rekan-rekan sesama petugas di kejadian. Satu-satunya cara untuk mrlihat siapa yang salah ya dengan pengakian jujur si polisi yang menilang, tapi itu adalah masalah besar. Mau tidak? Salut kalau dia mau, tapi kalau gak mau ya biasa, dhimma bedhe maleng ngako, posaak penjara. Dan jelas sudah si kombes akan melindungi nama besar korpsnya, apalagi tidak ada bukti bahwa anggotanya salah atau tidak. Kalau si kombes hanya melihat bukti surat tilang, ya seperti di media itulah bunyi pembelaannya.

Atau jangan-jangan (dugaan ngawur) bahwa di internal korps ada semacam kompetisi antar kepolisian wilayah untuk banyak-banyakan surat tilang? Kalau iya, hadeeuuhh… Cirebon mah nomor hiji. Kapolresnya bangga tuh kayaknya…

Credit: aripitstop.com, merdeka.com

Advertisements

15 Comments

  1. Misalnya klo semua silup dr bawahan sampe atasan kena kpk, bs2 indonesia gak punya silup krn kena semua….cmiiw…

  2. Saya juga lebih percaya pernyataan biker

    TIDAK mungkin pengendara melakukan perjalanan jauh tanpa kondisi mongtor dan surat2 kelengkapan yg layak…
    Jika perjalanan dekat bisa masuk akal tanpa STNK dan helm

Comments are closed.