Formula One Yang Kembali Menarik Disaksikan

image
Tim dan Pembalap Favorit di F1

Brosis, sebelum menyimak segala hal tentang MotoGP, RA sebenarnya lebih suka ajang balap Formula One (F1). Sebab kala itu tim jagoan RA yakni Ferrari begitu digdaya setelah dipegang pembalap legendaris Michael Schumacher. Kira-kira sekitar awal milenium hingga pertengahan tahun 2000an. Apalagi saat itu F1 ditayangkan live sepanjang musim di TV Nasional, seperti MotoGP saat ini. Namun, itu cerita masa lalu.

Kecintaan akan tontonan balap F1 memudar seiring pensiunnya sang legenda di tahun 2006. Walau sempat comeback di tahun 2010, semangat nonton F1 sudah kadung anjlok. Apalagi di comebacknya itu Schummi tidak lagi membela si kuda jingkrak. Plus prestasi Ferrari yang makin menukik, tambah males saja nonton. Entah, kapan terakhir ajang F1 disiarkan TV Nasional, RA sudah tidak mengikutinya. Apalagi di pertengahan tahun 2011 memutuskan ngeblog seiring dengan pembelian New Scorpio Z akhir 2010 praktis sebagai kebutuhan akan materi blog, RA “terpaksa” berpaling ke MotoGP. F1 entah seperti apa, hanya mendengar sekilas kalau kala itu dominasi Red Bull Renault bersama Sebastian Vettel sulit dibendung. Pembalap yang akhirnya musim lalu membela Ferrari.

Dan, di tahun 2016 ini RA mencoba kembali membangkitkan semangat untuk mengikuti perkembangan F1. Bukan karena Schummi comeback lagi, sang legenda masih berjuang melawan cedera kepalanya akibat kecelakaan saat ski es beberapa waktu silam, bukan pula soal Ferrari yang punya pembalap fantastis sekelas Vettel. Namun, gairah itu bernama Rio Haryanto (gairah menonton lho ya, bukan “gairah” yang itu tuh hiiii…).

image
Rio Haryanto saat juara Formula BMW Pasific 2009

Yap, anak muda ajaib kelahiran Solo inilah yang nampaknya harus membangkitkan semangat dalam diri ini untuk menyaksikan F1. Atau minimal akan lebih sering diangkat di blog rideralam ini dengan mengikuti pemberitaannya. Maklum, hingga saat ini belum ada TV Nasional yang woro-woro bakal menyiarkan langsung ajang balap jet darat itu ke hadapan masyarakat tanah air.

Kembali ke Rio. Anak muda ini memang ajaib. Indonesia patut bangga punya pembalap muda sekaliber Rio. Selain punya skill handal plus pengalaman di berbagai ajang balap sebelum F1, Rio juga seorang laki-laki yang soleh. Walaupun “hanya” bergabung ke tim gurem sekelas Manor Racing, tapi ini F1 lho. Sebuah event balap mobil nomor wahid di kolong jagad dengan peminat luar biasa banyak. Untuk sekedar bermimpi menjadi pembalap F1 saja susahnya minta ampun. Dan ketika mimpi itu mulai hadir, jalan panjang masih harus dilalui sebelum akhirnya bisa antri untuk menuju pintu masuk F1. Baru antri untuk menuju pintu masuk lho, belum menuju gemerlap F1 sebenarnya.

[display-posts category=”formula-one” posts_per_page=”4″]

Sebut saja Formula Asia, Formula BMW Eropa dan Pasific, Asian Formula Renault, GP3 Series dan GP2 adalah tangga yang kudu dinaiki Rio sebelum menuju F1. Gelar juara Formula BMW Pasific tahun 2009 seperti membuka jalan terang karir Rio. Hingga akhirnya tahun lalu tampil impresif dengan beberapa kemenangan di GP2, seolah menjadi stimulus semangat bahwa F1 sudah makin dekat. Muluskah?

image
Rio berpose depan mobil Manor Racing

Bukan Indonesia kalau mulus-mulus saja. Harus ada drama yang terjadi. Ketika kesempatan sudah dibuka selebar-lebarnya bergabung dengan pembalap elit dunia melalui tim Manor Racing, bahkan rasanya lebih pengen Manor Racing yang menggaet Rio dibanding Rio yang pengen ke F1. Bahkan seorang runner up GP2, Alexander Rossi, yang notabene berprestasi lebih baik dari Rio ditolak oleh Manor hanya demi menggaet Rio. Itupun seperti belum cukup membuka mata hati pejabat negeri ini. Dana yang dibutuhkan Rio memang sangat besar untuk berlaga di F1,namun angka itu bukanlah apa-apa jika dibanding APBN negeri ini yang telah mencapI ribuan triliun Rupiah. Padahal Rio “hanya” butuh ratusan miliar saja untuk mengangkat harkat dan derajat negera bernama Indonesia di level dunia. Mimpi Rio berlaga di F1 nyaris sirna akibat birokrasi pencairan dana APBN yang ribet. Beruntung, masih ada pengusaha muda yang dipimpin Sandiago Uno dkk yang mau membantu melengkapi bantuan Pertamina selama ini.

Dan akhirnya sejarah baru negeri ini resmi tercatat. Indonesia punya pembalap di F1. Pembalap itu bernama Rio Haryanto. Tim yang dibela pembalap kelahiran 22 Januari 1993 ini  adalah Manor Racing, tim ini juga akan tercatat dalam sejarah olahraga Indonesia nantinya sebagai pintu masuk pembalap Indonesia pertama di F1. Jika brosis beruntung bisa menyaksikan live F1 2016, baik langsung di sirkuit atau via layar kaca, yang akan dimulai 20 Maret di Sirkuit Melbourne, Australia maka silahkan perhatikan mobil hitam-merah-putih bernomor 88. Di dalam kokpit mobil itulah sepotong ayat kursi dan pembalap muda Rio Haryanto berjuang mengharumkan nama Indonesia.

Merinding bro… Sudah lama negeri ini tidak bisa bangkitkan nasionalisme di dalam tubuh ini, saatnya rasa itu kembali menggelora bersama Rio Haryanto dan F1.

Musim pertama adalah musim adaptasi. Bisa finish saja sudah raihan luar biasa. Bukan pesimis, namun melihat track record Manor musim lalu yang DNF 16 kali dari 21 seri, rasa-rasanya sangat realistis target bisa finish saja. Syukur-syukur 1-5 poin bisa diraih Rio di musim ini, apalagi kalau bisa podium, bisa geger negeri ini. Namun, sekali lagi bisa melihat Rio di kokpit mobil MRT05 saat di garis start saja sudah bangga, capaian lainnya adalah bonus.

So, tidak sabar menunggu musim balap F1 tahun ini segera bergulir. Setuju, bro?

Advertisements

Comments are closed.