Kantong Plastik Bayar? Baca Ini Yuk Sebelum Menolak!

plastik
pic. indopos

Lagi ramai nih soal kantong platik berbayar. Ada yang setuju, tak sedikit pula yang ngaronyam (ngedumel). Wajar, ini Indonesia sebuah negara yang kebebasannya mulai kelewat batas. Kalau RA setuju atau yang ngaronyam? Nah, seneng nih kalau ditanya beginian (padahal nanya sendiri heuheuheu...) sebab RA mesti senyum-senyum saja. Dibilang setuju, sangat setuju malah kalau prinsip dasar diberlakukannya kebijakan ini adalah untuk mengurangi populasi sampah plastik di Indonesia, namun juga jadi kuatir hal ini akan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memeras masyarakat dengan dalih menyelamatkan lingkungan padahal ujung-ujungnya duit.

Tidak usah heran, ini Indonesia yang kejadian apapun dari wajar hingga susah diterima logika nyaris selalu terjadi. Al Quran saja dikorupsi, mosok sekelas plastik akan dibiarkan. Kira-kira begitu pikiran buruk RA saat ini. Tapi, ya sudahlah biarkan yang seperti itu akan menerima sendiri balasannya, entah di dunia ini langsung atau yang pasti di akherat nanti. Allah mboten sare. Wuih, aliimm… haghaghag...

Sebelum kebijakan ini diberlakukan per-21 Februari 2016 lalu, secara pribadi RA sudah melakukan penghematan penggunaan plastik dalam bentuk apapun. Prinsip RA, jika masih bisa dipegang atau dimasukkan tas bawaan, maka plastik pembungkus yang mesti diberi atau ditawarkan akan RA tolak. Bukan sok-sok-an tapi ya buat apa sih menerima plastik untuk kemudian dimasukkan ke tempat sampah. Selain mubadzir juga akan makin menambah jumlah sampah plastik. Siaaa… kan cuma selembar plastik. Eits… selembar kalau setiap hari maka setahun bisa 365 lembar plastik. Itu baru dari satu orang, padahal penduduk bumi saat ini sudah lebih dari 7 miliar orang, hidup pula, berapa tuh jadinya sampah plastik yang diterima bumi? hitung sendiri ya…

[display-posts tag=”kelestarian-lingkungan” posts_per_page=”4″]

Nah, ketika kebijakan harus membayar di setiap plastik yang akan kita peroleh setiap belanja di minimarket ataupun supermarket bahkan hypermarket (Situbondo gak ada hypermarket hiks hiks…) diberlakukan, RA jadi tidak kaget lagi. Bahkan, sudah terbiasa menolak. Program ini bagus sebab masyarakat akan “dipaksa” membayar sekian rupiah untuk setiap plastik yang mereka gunakan dan kemudian menjadi sampah. Namun, pemerintah harus menjelaskan kemana uang yang dikutip dari setiap lembar plastik itu. Apakah masuk ke minimarket dan supermarket yang menjadi project percontohan ini, masuk kas negara, atau dikembalikan ke konsumen. Dan paling penting adalah pengawasan aliran dana hasil kutipan ini, siapa yang mengawasi.

Fakta Masalah Konsumsi Sampah Plastik

  • setiap transaksi akan menghasilkan 3 lembar kantong plastik
  • setiap hari terjadi 100 transaksi per-gerai/toko dengan jumlah gerai setidaknya 100 toko
  • jika setahun 365 hari, maka jumlah kantong plastik yang tersebar ke masyarakat sebanyak 10.950.000 lembar
  • maka sehari produksi kantong plastik adalah 300 kantong plastik per-gerai/toko

Negara-negara dengan jumlah produksi sampah plastik terbesar di Dunia tahun 2015

  1. China 262.900.000 ton
  2. Indonesia 187.200.000 ton
  3. Filipina 83.400.000 ton
  4. Vietnam 55.900.000 ton
  5. Sri Lanka 14.600.000 ton

Pertanyaan-Pertanyaan Seputar Kebijakan Plastik Berbayar

  • Kapan kebijakan kantong plastik berbayar dimulai? JAWABAN Ujicoba pertama 21 Februari 2016
  • Kota mana saja yang memberlakukan kebijakan ini? JAWABAN Jakarta, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Palembang, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Ambon, Papua, Jayapura, Pekanbaru, Banda Aceh, Kendari, dan Yogyakarta
  • Mengapa harus ada kebijakan kantong plastik berbayar? JAWABAN agar jumlah sampah kantong plastik berkurang plus survey KLH membuktikan bahwa 87,2 responden setuju kebijakan ini diberlakukan
  • Di toko mana saja berlakunya kebijakan ini? JAWABAN Minimarket, Supermarket dan Hypermarket
  • Berapa yang harus dibayar untuk 1 kantong plastik? JAWABAN belum ada kesepakatan antara pemerintah dengan asosiasi peritel, namun saat ini di beberapa minimarket (Indomaret dan Alfamart) dikutip 200 Rupiah
  • Bagaimana dengan kantong plastik ramah lingkungan? JAWABAN tetap dikutip biaya alias tidak gratis
  • Bagaimana mekanisme kutipan biaya kantong plastik? JAWABAN tagihan biaya kantong plastik yang diminta konsumen dimasukkan ke struk tagihan belanja
  • Dana hasil kutipan kemana larinya? JAWABAN dana hasil kutipan termasuk DANA PUBLIK dengan harapan (hanya harapan lho ya) pelaku peritel bekerja sama dengan organisasi non pemerintah untuk kegiatan pengelolaan sampah
  • Apa yang bisa saya lakukan? JAWABAN pertama, bawalah tas atau tempat belanja dari rumah. Kedua, hargai peritel yang mendukung kebijakan. Ketiga, dorong pemerintah daerah untuk ikut memberlakukan kebijakan ini

Jadi, yang tidak mendukung kebijakan ini dengan alasan apapun cobalah baca-baca referensi tentang plastik dan permasalahannya bagi lingkungan agar mulai mempertimbangkan alasan penolakannya. Tidak usahlah ngamuk-ngamuk, ngomel-ngomel apalagi sampai marah-marah ke kasir di minimarket, supermarket dan hypermarket yang telah memberlakukan kebijakan ini. Kalau tidak setuju untuk bayar kantong plastik, solusinya bawalah kantong plastik sendiri dari rumah. Tidak usah seperti yang di bawah ini ya..

Ayo Lawan Kedzaliman Penguasa Meski Hanya Dengan Menolak Bayar Kantong Keresek 200 Perak

Saya biasanya menunggu di motor, tapi barusan setelang menunggu satu menit, lalu menyusul istri masuk ke Indomart.

“Saya tidak mau bayar yang Rp 200 untuk kantong kereseknya Mbak!” ujar saya begitu membaca pengumuman di kassa sejak Ahad 21 Pebruari pembeli yang memakai kantok plastik dari Indomart diharuskan membayar Rp 200 untuk mengurangi sampah plastik.

“Itu sudah aturan dari pemerintahnya Pak…” ujar pelayan Indomart di kassa.
“Justru itu, saya tidak mau… pemerintah dzalim!” tegas saya.

“Lihat,” ujar saya sembari menenteng sabun cair pencuci piring Sunlight yang saya sabet dari rak pajangan, “plastiknya tebal, butuh waktu ratusan tahun bagi tanah untuk mengurainya! Tapi mengapa kita malah harus bayar kantong keresek yang mudah diurai?”

Pembeli yang di kassa melihat saya sambil senyum, pelayan Indomart yang laki-laki menghampiri dan mendampingi pelayan perempuan. Pelayanan lainnya sambil mengelap kaca memandang ke kassa.

Mendengar saya berbicara dengan nada tinggi (nada tinggi itu versi istri ya, versi saya itu biasa saja, hee.. he..) di kassa, istri langsung menghampiri. Saya lalu  merebut minyak goreng yang berbungkus plastik tebal yang dipegang istri, Sovxxx.

“Ini juga butuh ratusan tahun! Tapi kenapa kita yang malah disuruh mengurangi penggunaan kantong plastik! Bukannya perusahaan-perusahaan itu yang dilarang menggunakan kemasan plastik? Di kantong plastik Indomart kan ada tulisan go green, pertanda mudah diurai, mengapa penggunaannya harus dikurangi dengan harus membayar Rp 200 bila tetap ingin memakainya tetapi…  lihat, itu… Coca Cola, botolnya dari plastik, butuh waktu ratusan tahun untuk diurai!”

Lalu saya memegang mie instant Indomie yang disodorkan pembeli lain ke kassa yang hanya senyum-senyum saja melihat saya, “ini juga plastik, butuh waktu yang jauh lebih lama untuk diurai daripada kantong keresek go green!”

“Tapi ini sudah aturannya ya Pak,” ujar pelayan laki-laki.

“Justru itu, Mas lapor ke atasan Mas, saya tidak mau bayar, bukan saya tidak mampu, tapi saya tidak mau menaati kebijakan pemerintah yang dzalim itu! Kalau tetap harus bayar 200 saya tidak jadi belanjanya. Biar Indomart lapor juga ke pemerintah, rakyat tidak mau didzalimi terus!” tegas saya.

“Kalau berbicara lingkungan,” lanjut saya, “Mengapa lima anak perusahaan Sinar Mas yang membakar hutan dibiarkan? Mengapa perusahaan-perusahaan minyak, minuman, sabun, dibiarkan menggunakan plastik tebal? Kenapa kita, rakyat ini, mau pakai plastik go green saja harus bayar Rp 200? Apa karena mereka yang membiayai kampanye pemilunya?”

hehehehe….

Advertisements

8 Comments

  1. bapak yg bikin status itu jg dzalim
    1. dzalim kepada karyawan toko,, kasian karyawan tokonya, dia cuma pegawai, gaji kecil tp harus menanggung biaya kresek untuk bapaknya, bayangin kalau semua orang kyk gitu makan gaji apa itu kasirnya
    2. dzalim kepada lingkungan,, membiarkan resiko kemungkinan orang membuang sampah plastik seenaknya,, dan sebenernya tujuan dr tarif ini sebernya untuk mengubah mindset warga untuk mengurangi penggunaan kantong plastik
    3. suudzon kepada pemerintah, iya kalo bener, kalo gak y fitnah itu namanya
    4. menghambat negara untuk berkembang seperti negara2 lain

    dan akhirnya bapak yg bikin status ini sudah hilang kyknya diblokir, atau mungkin malu karena dibantah oleh anak SMP

Comments are closed.