Rio Haryanto Akan Disponsori Malaysia? Ambiiill… Negerimu Sedang Sakit!

image

Rio Haryanto memang sudah pasti mendapat kursi di Formula One (F1) bersama tim Manor Racing. Namun, bukan berarti kendala hilang sama sekali. Justru hambatan terbesar soal finansial kembali menjadi handicap Rio untuk terus berlaga di ajang balap jet darat itu. Sebab, Pemerintah dan Swasta terkesan tidak sungguh-sungguh dalam mendukung soal finansial.

Prosedur birokrasi yang njlimet untuk penggunaan uang negara, seperti APBN misalnya, menjadi kucuran Rupiah ke Rio tersendat. Padahal ini adalah sejarah baru yang ditorehkan bangsa ini. Rio menjadi satu-satunya dan pertama dari Indonesia yang sukses menembus eksklusivitas F1 yang terkenal sulit dan mahal.

Hingga kemudian permasalahan Rio ini seperti dibaca oleh negeri seberang, Malaysia. Pemerintah Malaysia dengan program Visit Malaysia-nya berkeinginan untuk membantu Rio dari sisi finansial sekaligus untuk promosi program mereka. Sebuah “tamparan” untuk pemilik kekuasaan negeri ini, pemilik uang terbanyak negeri ini dan perusahaan-perusahaan yang mengeruk uang di negeri ini. Ironis bukan, pembalap Indonesia disponsori negeri tetangga dengan tujuan mengajak wisatawan dunia berkunjung ke Malaysia.

Itu jika dilihat dari sisi nasionalisme dan pemanfaatan peluang bisnis negara. Namun, jika ditinjau dari sudut karir Rio Haryanto itu adalah peluang yang sangat bagus. Aliran dana besar jelas dibutuhkan di olahraga satu ini, sedangkan Ia sudah berjuang selama ini mengharumkan nama negaranya Indonesia, namun justru ketika Ia membutuhkan bantuan negerinya, hingga saat ini belum didapatkan. Apakah jika menerima dana dari Visit Malaysia maka nasionalisme Rio berkurang?

Sangat picik jika sampai berpikiran seperti ini. Apa yang Rio berikan untuk negeri ini sejauh ini sudah lebih dari cukup. Berjuang mengharumkan nama Indonesia sejak ajang balap sekelas Formula BMW Asia sendiri hanya dengan bantuan orang tua yang gila balap, baru kemudian negara mulai membantu lewat BUMN sekelas Pertamona ketika memasuki balapan GP3, rasa-rasanya saat ini pemerintah Indonesia-lah yang harus mulai mengambil alih bantuan finansial Rio. Apalah arti uang 100-200 miliar Rupiah dibanding branding Indonesia yang menjadi lebih kuat di dunia Internasional. Birokrasi telek negeri inilah yang menyebabkan putra terbaiknya harus “menggadaikan” nasionalismenya padahal Ia sangat nasionalis dan cinta negerinya sendiri.

image

Jadi, biarkan saja Visit Malaysia membiayai Rio. Biar tahu dan melek mata penguasa negeri ini bahwa putra terbaiknya justru lebih dihargai negara lain dibanding ibu pertiwinya sendiri. Seperti yang sudah banyak terjadi selama ini. Tentu saja brosis masih ingat kasus mobil listrik Ricky Elson yang akhirnya diambil alih (lagi-lagi) Malaysia atau penemu penyembuh kanker fenomenal Dr. Warsito P. Taruna yang akhirnya lebih memilih Finlandia sebagai destinasi pengembangan terapi kankernya itu dibanding di sini yang justru dihambat sana-sini dengan dalih birokrasi.

Bagi negeri ini sepertinya APAPUN YANG MUDAH HARUS DIPERSULIT, BAHKAN KETIKA HARUS KEHILANGAN PUTRA-PUTRI TERBAIKNYA SEKALIPUN. Semoga Rio dan manajemen menerima pinangan Malaysia dengan Visit Malaysia-nya sebab Indonesia sedang sakit!

Advertisements

12 Comments

  1. gapopo rio, jupuk wae, ngemis ngemis ke pemerintah cuma dpat php. prefesional skalian aja, sponsor dri negra ttgga ambil, yg di mari pada merem kok, cuma pertamina doang yg mau. bank bank besar di indo jg gk peduli. mreka untungnya gede lo.

Comments are closed.