Mereview Motor Baru Hasil Pinjaman Pabrikan? Mending Gak Usah Deh…

image
Ilustrasi motor baru

Perkembangan blog-blog bertema otomotif khususnya roda dua di tanah air makin dinamis. Bagi pembaca, tidak jarang blog-blog terkenal menjadi rujukan informasi sebelum membeli. Termasuk rujukan review motor tersebut oleh si blogger. Sehingga, peran blog di sini sangat vital, menjadi penentu bagi calon konsumen dalam memutuskan pilihan. Namun, di sinilah terkadang masalah timbul.

Review oleh blogger-blogger cenderung tidak objektif. Banyak faktor yang membuat kondisi ini terjadi, salah satunya adalah perasaan tidak enak dari si blogger yang sudah dipinjamin motor oleh pabrikan atau produsen. Pakeweuh istilah asingnya. Mosok sudah dipinjemin koq masih mau menjelek-jelekkan. Apalagi jika si blogger diberi penghidupan oleh pabrikan tertentu, mustahil kejelekan produk pabrikan itu akan diulas. Kalaupun ada jeleknya, biasanya tidak diulas atau kalaupun diulas paling hanya punya porsi 10% dari total review. Maka, muncullah bahasa-bahasa halus dalam memunculkan kejelekan si produk yang pembahasannya sangat minimalis. Tenggelam oleh bahasa-bahasa bombastis bagusnya produk itu. Lebih banyak review positifnya yang diangkat.

Konsumen atau pembaca blog tidak semuanya teliti dan detil membaca sebuah review. Karena di review tersebut dominan mengatakan si motor baru itu bagus, maka di mindset calon konsumen bahwa motor itu baik. Diambillah keputusan, beli motor itu. Namun, apa yang terjadi, setelah pemakaian sekian ratus km, sekian bulan baru muncul ketidak-beresan si motor. Padahal masih masuk kategori motor baru. Akhirnya konsumen kecewa, produsen? Bodo amat, yang penting produknya kebeli. Blogger si pereview secara tidak langsung sebenarnya ikut andil membuat si konsumen kecewa gara-gara review pakeweuh-nya dulu. Masih ingat artikel kang Amama yang ngamuk-ngamuk gara-gara review bagus blogger tentang motor itu sehingga beliau memutuskan membelinya?

Lalu, bagaimana menghadapi situasi begitu? Sulit memang untuk benar-benar objektif, pun ketika si blogger berusaha seobjektif mungkin tetap saja masih ada rasa pakeweuh dan sebagainya. Salah satu cara untuk membuat review yang benar-benar objektif adalah dengan membeli setiap produk yang baru launching dengan dana sendiri, kemudian dilakukan “pemerkosaan” terhadap motor baru itu dari sisi manapun. Lalu buatlah review-nya dengan mendalam tanpa ada maksud membela pabrikan tertentu. Jadi, si blogger pure membela kepentingan konsumen.

Sebenarnya hal itu sudah dilakukan blogger-blogger di luar blog otomotif, seperti review smartphone yang dimana si blogger membeli setiap smaryphone keluaran terbaru kemudian diulas tanpa harus ketakutan dengan reaksi produsen. Jadi, si blogger memposisikan sebagai corong konsumen bukan produsen. “Lhaaa… Harga HP kan tidak semahal motor”. Benar, memang benar HP lebih murah dari motor, namun ini bicara soal blogger sejati yang benar-benar serius turun gelanggang blogsphere tertentu. Karena dia memang mengkhususkan bahas gadget, maka dia sangat serius dengan itu. Salah satunya adalah dengan membeli gadget sendiri dan kemudian direview. Dijamin, jika ada blog gadget model begini para pembaca akan lebih memilih membaca artikelnya dibanding blog gadget lain yang hanya mereview gadget hanya dari katanya-katanya.

Artinya, jika memang ingin memberikan review sebuah motor baru, belilah motor itu, review sesuka hati, katakan yang bagus ya bagus yang jelek ya jelek dengan porsi berimbang. Jika memang lebih banyak sisi bagusnya di motor itu, katakan saja memang bagus, pun sebaliknya. Namun, kalau belum bisa melakukan itu tidak usahlah menulis review sebuah produk, apalagi jika produk itu hanya boleh pinjaman dari pabrikan.

RA rasa blog-blog papan atas dengan omset wordads puluhan juta per-bulan plus puluhan juta dari iklan plus pendapatan-pendapatan lainnya, untuk membeli motor baru untuk khusus direview bisalah. Toh produsen ngeluarin motor baru tidak tiap bulan. Apalagi usai direview bisa dijual lagi. RA pikir kalau motor itu bekas blogger papan atas pasti ada saja yang antri mau menerima lungsurannya. Artinya pengeluaran dana untuk review motor baru bisa lebih sedikit.

Bagaimana, bisa? RA sih belum bisa hehehe

Advertisements

93 Comments

  1. aye doain RA pendapatannya bisa sebesar bloger- bloger itu,bisa review actual.
    # pernah kecewa seperti yg diulas RA

  2. Josss ane sangat setuju…klo cm motor seharga 15-30jeti mereka sangat mampu…apalagi klo kenal baik bs dpt diskon lah… Lebih leluasa reviewnya…cmiuw

  3. ketika ulasannya terlalu melebih-lebihkan atau membagus-baguskan suatu produk karena cenderung sungkan tadi, menariknya adalah, saat ingin mengutarakan keburukan si motor pun jadi tidak leluasa pula karena dikhawatirkan ada sentimen pribadi terlibat dalam penilaian di sana.

    misalnya, ada yang bilang jok vario 125 (lama) keras banget, padahal belum tentu, karena aslinya kan seempuk papan penggilasan cucian #eeehhh 😆

  4. hehe, punya temen aja masih ada rasa sungkan mang, gile lu ndro udah gw pinjemin lu jelekin juga motor/mobil/barang gw hehehe..

    Bicara ideal, pasti ada idealnya, hanya gak semua bisa ideal.. karena banyak faktor. Seperti ay bilang, ide dan prinsipnya sih setuju.

  5. urun pendapat juga kang karis…. kadang dari beli pun gak bisa objektif,..ada sisi, wah masa motor udh tak beli saya jelek jelekin, ntar di kira blogger gak tahu apa apa lagi, udah tahu motor jelek di beli aja…

    tapi emang repot juga ya..masalah pelik kyk gini ,… berti intinya bukan dari mana motor itu di dapat, tapi dari sisi diri kita sendiri kudu bisa bertanggungjawab sebagai blogger, krn mnyangkut kputusan org2 yg mau beli motor juga…

    #tumbenkomenkuapikrek

  6. Biaa di beli, cuma pajek progesivnya gmn? Bisa bisa mencret mereka sama pajek progesiv.

    Kayanya opsi terbaik ya pinjem / sewa motor, tapi ya susah. Kalo pinjem pabrikan? Ya biasanya di tune up dulu

    Kecuali pinjem, dengan aturan, pinjemnya bebas mau nyomot di dealer mana, yg penting ada surat pengantarnya dan unit gak di tukar

    Masalah obyektivitas sama rasa gak enak itu cuma prsepsi, kalo konsumen ngangep blogger yg review itu gak jujur, cuma jualan manisnya, lama lama mereka di tinggal pengunjung, hitsnya turun

    Kalo dah turun ya sudah, nganggur

    https://jildhuz.wordpress.com/2016/03/07/pelacuran-profesi-guru-dalam-mlm/

  7. cocokkkkkk!!!!!!!!. blogger blogger yang itu dan sang sana, takut ngga dapat uang saku mungkin, dan ngga di ajak lagi klo ada lounching. wakakakaka

  8. Setuju dengan opini situ, kalau alasan harus belibya sih mungkin susah anget karna alasan harga n pajak progresif??? Kan bisa cuma beli off the road?? Trus usahain dapet izin khusus mungkin di kepolisian berupa surat jalan…. begitu surat jalab habis…. review sebulan cukuplah yaa, tinggal jual lagi, paling turun dkit *gakrugi2amatlah
    atau bisa sewa sebulan mungkin dengan ketentuan2 ke pemilik motor unit baru itu *kalosekota , apakah tuker pinjem motor plus sewa…. paling berapa sih *ttep banyakan gaji dari apm n iklan2 lah
    kalo gak salah review2 diluaran biasanya pinjem dri user deh *cmiiw , takut gk enak juga kalo hasil reviewnya jelek stelah dipinjemin??ngapain?… tuh user juga pas baru beli paling juga gak ngerti plus minus kendaraan itu kok

  9. Kalo di mobil ada autonetmagz yg berani mengkritisi mobil (lebih dari 10% dari artikel review) walaupun pinjaman dari pabrikan, di tunggu deh di motor siapa yg berani, om RA jadi inisiator dong

  10. saya hanya bisa mendo’akan semoga RA masuk jajaran bloger atas ,,, dan ,, bisakah RA menerapkan idenya sendiri pada diri sendiri ,, jadi bisa merasakan sendiri bagaimana ide itu diterapkn ,,, beli tiap mau review motor baru ??,, pertama pabrikan Y seminggu/sebulan kemudian dari pabrikan H dua minggu/bulan kemudian dari pabrikan K ,, so ,, ?? #hanyaberpikirrealistis

  11. salam blogger, saya penulis blog juga, saya tertarik dengan bahasa tulisan ” para pembaca akan lebih memilih
    membaca artikelnya dibanding blog gadget lain yang hanya
    mereview gadget hanya dari katanya-katanya”

    kurang lebih apa yg saya tulis di blog juga empiris, bedah aplikasi dengan melakukan fitur apa aja kemudian saya share dengan bahasa yg sederhana.

    thanks rider alam, saya pemilik blog: http://www.koboikibot.net

  12. Bisa berkata demikian mungkin karena kesempatan untuk dapat pinjaman dari pabrikan juga susah atau belum tahu caranya. Review dari motor blogger sendiri atau pinjaman teman juga tidak menjamin akan obyektif.

  13. sependapat om RA, tp g masalah sebetulnya mereview motor pinjaman pabrikan asalkan si blogger bisa objektif, masalahnya berani apa tidak, kalo g berani lalu apa valuenya menjadi seorang blogger?? blog itu alternatif ato second opinion dari brosur/iklan pabrikan, lha kalo blogger ga berani nulis apa adanya trus apa bedanya sama iklan pabrikan?? Blogger dan Pabrikan harusnya punya kedudukan yang SEIMBANG kalo g seimbang ya yang satu pasti akan jadi pihak yang NGEMIS ke pihak yang lain dan pastinya posisi tawar pihak yang NGEMIS akan kalah lemah serta rendah dan nurut aja kepada pihak yang kuat….lanjutkan om RA

  14. ada benernya sih RA.. baca blog blog ternama mereview produk baru seakan g berimbang antara kelebihan kekurangan(lebi condong ke kelebihaan).

  15. Emangnya kalo review hasil beli sendiri juga dijamin objektif?? Trus kalo blog rideralam review lalu dianggap 100% objektif?

    Triatmono dan Satar masing2 beli NCB/ NVA trus mereview.. Review yg mana yg dijamin objektif??

    Situ kan cuma menduga2 doank kalo blogger2 besar cenderung menutupi kelemahan produk.. Bisa jadi memang objektif ga ada kelemahan yg berarti.

    Bisa jadi juga seorang blogger yg ngaku2 objektif, indepen, mereview motor pinjaman teman/ beli sendiri lalu berdusta mengarang2 kelemahan yg sebenarnya ga ada.. Bisa jadi juga kan?

    Kan saya juga berhak menduga2 seperti anda.

  16. Saya ngutip tulisan mas kharis diatas :

    Review oleh “blogger-blogger” cenderung tidak objektif. Banyak faktor yang membuat kondisi ini terjadi, salah satunya adalah perasaan tidak enak dari si blogger yang sudah dipinjamin motor oleh pabrikan atau produsen.

    Maaf, Yang dikasih tanda kutip itu digeneralisasi ya ?

      • Kalau memang cuma buat yang merasa, which is tertentu, Ya sekedar saran kudunya bisa lebih bijak lah nulisnya kangmas… Kalau digeneralisasi semua blogger demikian, Jatohnya koq saya nganggepnya : “cuma saya nih, RA yang objektip / jujur” ya ?

        Tapi dibalik itu santai ae mas, Saya juga pernah bikin artikel beginian koq, bhahahaa. . . Cuma kata2 dari paragraf diatas aja yg kerasa ngeganjel, nganggep semua yang jujur, termasuk yang beli sendiri sebagai tukang kibul.

  17. pokoke joget… ehh nulis . pokoke nulis om.. om Rideralam.com tolong di cek blog saya… udah objektif belum? yang objektif kriterianya apa ya?

  18. jgn suudzon vrohh, blogger yg suka test ride produk baru saya kira udah objektif… coba baca pasti tercantum kekurangan dan kelebihan si produk tsb,

    anda ngiri aja kali, gk pernah di ajak test ride oleh ATPM, #ehh

  19. memang ada yang ewuh pakewuh kang, namun balik lagi ke bloggernya.. dia profesional atau tidak.. harusnya kalo profesional ya berani ngungkapin jeleknya, asal nggak dibuat-buat.. toh masih ada pabrikan lain yang minjemin kalo dia diblacklist.. tapi kalo dia bisa dibeli ya tim marketing saat ini masih minjemin, kalo lama-lama ganti timnya bisa-bisa blogger tsb tersingkirkan.. ini menurut saya kang.. jadi balik ke bloggernya lagi.. memang sih kalo boleh jujur, ada beberapa oknum blogger yang sudah punya nama tapi sangat sedikit ulasan kekurangannya, jadi kesannya blogger seperti itu.. ini yang bikin citra blogger lain yang obyektif tercoreng.. 😀

  20. Sentilin sentulun…. hahahaha…. ini mah ‘membakar kampung’ namanya 😀
    Siap2 serangan balik… bebas berpendapat…ojo nesuuuu… :melet:

  21. Blogger sakit hati nih Kayaknya…mungkin juga iri gak pernah dipinjemin hahaaa artikelnya juga mengaandung suudzan berlebihan terhadap blogger2 yang dimaksUd…kalo boleh bilang ini namanya buunuh diiri sihh…

  22. Wah nyerang teman2 blogger lain nih…gak gini caranya kalo mau jadi orang besar…banyak suudzan sama temen2 yang udah sukses…

  23. Haduh ga ngerti saya sama jalan pikiran anda mas, masa iya blogger harus beli motor cuma buat di review, sekarang anda punya motor apa mas? Apa alasan anda membeli motor itu? Buat kebutuhan sehari- hari? Buat usaha? Atau cuma buat di review? Nyuru orang buat beli dulu kalo mau review? Gendeng ente mas, bilang aja ente ga pernah di kasih pinjem motor buat di review sehingga timbul rasa iri dengki terhadap blogger2 lain yg sering di beri pinjaman, kalau soal review dari blogger yg motor nya pinjaman dari atpm setiap reviewnya pasti beda2 mas dari masing2 blogger nya, pembaca juga ga bodoh ko, kalo ada orang yg langsung beli motor setelah dia baca review dari suatu blog terus dia ngeluh ternyata ga sesuai harapan dia yaa itu dia nya aja yg ga mikir panjang ga berpikir dengan matang, jangan nyalahin blogger nya blogger juga manusia setiap manusia pasti ber beda2, jadi ber sikap dewasa lah mas jangan kaya bocah kecil ingusan, saya disini sebagai pembaca blog2 otomotif saya pure pembaca jarang sekali berkomentar saya tidak membela siapapun tapi mana yg benar menurut saya pribadi jadi wajar lah kalu ada yg kurang setuju saya juga manusia mas tapi insyaallah berpikir jernih,….mau review produk harus beli dulu? review aje nasi padang sono!

  24. Artikel ini sangat megkerdilkan para bloger otomotif, seakan para bloger yg memperoleh unit pinjaman dari ATPM adalah bloger yg diragukan kenetralannya. Memang tidak menutup kemungkinan adanya ketidak netralan para bloger yg di support unit oleh pabrikan, namun juga tidak ada jaminan seorang bloger akan netral dengan unit yg dibelinya sendiri. Terserah mreka mereview unit pinjaman atau unit milik pribadi itu sah sah saja.

    Setiap orang punya perspektif yang berbeda2, bukan berarti anda bilang istri anda cantik, saya akan menganggap anda tidak netral karena saya tidak setuju tentang pendapat anda. Bukan berati anda bilang motor A jelek karena joknya keras, bikin pegel, lemot dll, saya menganggap anda tidak kredibel karena saya tidak sependapat dg anda. Smuanya adalah opini pribadi penulis kita sebagai pembaca wajib cerdas mencernanya.

    Seharusnya sesama bloger saling dukung dong karena sama2 mendedikasikan waktu, tenaga serta pikiran untuk berkarya dan berlomba-lomba memberikan informasi yg akurat dan bertanggung jawab, demi kepuasaan pembaca

  25. hmm iya kalo yang bersangkutan punya dana lebih buat beli motor untuk direview. kalo terpaksa minjem pabrikan masa gk boleh direview? walaupun blogger papan atas yang terkenal pun penghasilan dari ngeblog untuk beli motor masih kurang menurut ane kalopun pabrikan gk tiap bulan ngeluarin produk baru. tapi apa cuma satu pabrikan yang minta di review motornya? ada bnyak pabrikan motor di indonesia yang mulai melirik blogger otomotif untuk mencoba motor keluaran terbarunya sampai rela buat minjemin untuk di test segala. masalah reviewnya sih tergantung blogger otomotifnya sendiri mau komentar bagus apa jelek :v
    nah kalo tiap pabrikan ngeluarin produk apa harus beli juga satu per satu buat di review? hmm ane kira si ngga. kalo dijawab ( ya gampang beli merk ini selesei testride dijual terus beli yang itu lagi dan siklus berulang :3 )hmm mana nyampe penghasilannya dari ngeblog. walaupun banyak iklan banner gede2 pabrikan gede yang bayarannya wah itu emang berapa sih mentoknya? itu juga setahun sekali bayarnya dan pasti ngaret juga pembayaran iklannya dari pabrikan gede karena emang sistemna yang panjang dan ribet untuk ngeluarin dana dari perusahaan.

    biaya server tiap bulan, tagihan internet,modem pulsa gk cukup 1jt/bulan, belom lagi alat2 pendukung seperti hp, kamera, safetygear , biaya transport , biaya bbm buat motor pinjeman hm. . . . kalo motor hasil beli sendiri . . . .memberatkan blogger juga hehehe
    intinya sih relatif lah ya antara motor pinjeman sama penilaian blogger tentang produk yang dipinjemin sama pabrikan. masing masing punya gaya bahasa sendiri untuk mengkritik dan memuji. . . jadi gk usah diambil serius lah . . . . . .

  26. Media luar negeri semacam MCN, motorcycle.com dalam bahasannya gak pernah bilang tuh kekurangan suatu produk terang2an. Misal mau bilang topspeed r125 gak kenceng paling diganti “the topspeed is fast enough for 125 cc engine…bla bla bla dll” atau bilang shockbreaker terlalu empuk gak pernah bilang “it is too bumpy” tp malah lbh milih bilang “it is a little bit soft” atau apalah.

    Jadi sebenernya itu cuma bahasa cerdas yg berusaha diungkapkan reviewer terhadap suatu produk. Dan yg perlu diinget, feel tiap orang terhadap sesuatu beda2 bos. Si A bilang motor X getarannya kenceng, mungkin si B bilang itu biasa aja. Jd dalam suatu review produk, yg harus cerdas juga si pembaca/calon konsumen. Selama ini pembaca kita cuma bisa nerima info mentah2 dan gak punya pendirian mantab kenapa milih suatu produk.

    Jd inget, dulu review blogger terhadap r15 terkesan bahwa ini motor “nyiksa” yg terlalu bungkuk lah, sportylah. Tp toh ujung2nya saya seneng2 aja pale ini motor. Karena emang udh tekad pingin beli ini motor dan make ini motor. Terlepas dari review bagus, jelek atau apalah.

    Jadi pesennya jadilah pembaca yg smart dan berpendirian. Malu sama orang luar negeri yg begitu aktif diskusi di kolom komen ttg review suatu produk, sementara kalo baca review blog sini isi komennya perang dan ejek2an dgn bahasa yg kurang pantas.

  27. Orang miskin dilarang jadi blogger otomotif brooh .. Mending review macam2 pletokan bambu aje yg kebeli ..
    Termasuk top gear juga sma redaksi otomotif, tar ane usul juga ke KPI biar acara otomotif yg mke barang minjem ga boleh tayang ..ngoahahaha

    Oh ya 1 pertanyaan .. Klo barang bru launching blom ada di pasaran, apa hrus nunggu dijual dlu buat di review ?
    Kasian orang yg mau beli gak punya referensi

    Karena kadang walaupun sesat tapi karena udh percaya banget jadinya di anggap enak aja.. Banyak contohnya termasuk yg golongan terpelajar juga

    Salam tampan

  28. Kalo ini artikel buat yg ngerasa, seharusnya sih dikasih kata “oknum”. Jadi gak menyinggung semua blogger yg pernah dipinjemin. Yg saya lihat masih ada kok yg objektif dlm review pinjaman atpm, meski gak sempurna karena ukuran objektif setiap kepala pasti beda.

  29. berpikirlah luas..hargai perbedaan..sudut pandang masing2 orang beda beda…fanatik itu pasti ada..itu manusiawi…semua kembali pada niatnya…toh para blogger yg dapat pinjaman ga ada yg nyuruh tuk beli produk itu…cuma ngasih gambaran…semua kembali pada konsumen masing masing..wong tiap pabrikan punya filosofi sendiri sendiri…coba blogger yg pada akur…pada diskusi..kn enak mbacanya..

  30. KABAR BAIK!

    Untuk benar memperkenalkan diri,
    Saya NADIRA MUHAMMAD dari [NADIRA MUHAMMAD PINJAMAN PERUSAHAAN]

    Saya seorang pemberi pinjaman pribadi, perusahaan saya menyediakan pinjaman dari semua jenis dengan tingkat bunga 2% saja. Ini adalah kesempatan keuangan pada langkah pintu Anda, berlaku hari ini dan mendapatkan pinjaman cepat Anda.

    Ada banyak di luar sana mencari peluang atau bantuan keuangan di seluruh tempat dan masih, tetapi mereka tidak mampu untuk mendapatkan satu. Tapi ini adalah kesempatan keuangan pada langkah pintu Anda dan dengan demikian Anda tidak mampu untuk lewatkan kesempatan ini.
    Anda disarankan untuk mengisi dan mengembalikan rincian di bawah ini ..

    Namamu: ______________________
    Alamat Anda: ____________________
    Negara: ____________________
    Tugas Anda: __________________
    Jumlah pinjaman yang diperlukan: ______________
    Jangka waktu pinjaman: ____________________
    Pendapatan bulanan: __________________
    Nomor ponsel: ________________
    Apakah Anda mengajukan pinjaman sebelumnya: ________________

    Jika Anda telah membuat pinjaman sebelumnya, di mana Anda diperlakukan dengan jujur

    Layanan ini membuat kedua individu, perusahaan, bisnis pria dan wanita.
    Jumlah pinjaman berkisar tersedia dari setiap jumlah pilihan Anda untuk informasi lebih lanjut hubungi kami melalui email:
    Nadiramuhammadloancompany@gmail.com

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Blogger Me-Review Motor Pinjaman ATPM Jadi Pembicaraan…..Wah Menarik Nih | motorgoodness
  2. Review Motor Pinjaman Pabrikan Banyak Direspon, Awas Berlebihan Menanggapinya… Woles Saja!!! | rideralam.com

Comments are closed.