Review Motor Pinjaman Pabrikan Banyak Direspon, Awas Berlebihan Menanggapinya… Woles Saja!!!

image
Motor pinjaman dari dealer... Belum lunas 😀

Entah (mempe apa RA malemma) mimpi apa RA malam sebelumnya hingga tulisan ini menjadi kontroversi di jagad blogsphere otomotif. Sebenarnya tidak ada maksud menuduh si A begini atau si B begitu, hanya menyampaikan pendapat pribadi ketika membaca banyak review motor-motor baru oleh rekan-rekan blog. Review di sini soal performa dan build quality misalnya, bukan tentang desain yang secara kasat mata semua bisa menilai. Entah apakah hanya perasaan RA saja koq rasanya cukup banyak review motor baru yang nyaris semuanya positif, porsi kekurangannya minim. Apakah memang produknya bagus atau ulasannya yang kurang berimbang.

Sehingga muncullah artikel itu. Apalagi selama ini RA sering membaca sebuah majalah gadget yang dalam mereview smartphone keluaran terbaru selalu memberikan noted bahwa smartphone yang direview hasil beli sendiri bukan pinjaman vendor atau produsen. Salut…!!! Akhirnya, muncul pertanyaan di kepala botak ini, “yang dilakukan majalah ini keren nih, sangat serius, nah kira-kira kenapa tidak dilakukan juga di dunia blog permotoran”.

Apalagi selama ini review motor baru biasanya didominasi pinjaman dari pabrikan yang su’udzonnya bisa saja ada utak-atik di sisi mesin hingga mempengaruhi performa si kuda besi saat dilakukan test. Ujung-ujungnya tidak akan sama dengan versi massal untuk produsen. Masih ingat dengan unit tes motor baru yang speedometernya dimatikan? Ini test ride umum saja berani begitu, apa salah kalau logika mengatakan bagaimana kalau unit test ride pinjaman ke personal juga akan diakali? Siapa yang akan dirugikan? Jelas konsumen dan si blogger. Konsumen akan mendapat review “aspal” dan si blogger tanpa disadarinya memberikan informasi yang keliru (padahal si blogger sudah seobjektif mungkin), karena barangnya berbeda dengan yang jatuh ke konsumen, review jadi berbeda sekali dengan kenyataan di lapangan.. Dan bisa ditebak si blogger bakal jatuh imejnya tanpa pernah tahu kesalahannya. Lalu, bagaimana jika unit tes pinjaman memang seperti apa adanya? Ya Alhamdulillah, jika ini yang terjadi maka penentu mutlak ada di tarian jeri jemari si blogger dalam merangkai kata demi kata dalam mengungkap fakta sebenarnya.

Sebenarnya ada beberapa jalan keluar jika mau kondisi tersebut dihindari. Pertama, belilah motor sendiri. Review sendiri, ungkap apapun hasil reviewnya. Mau nulis sisi negatifnya saja monggo, sisi baiknya saja silahkan atau dua-duanya diulas, siapa yang akan melarang. Pembaca dan calon konsumenpun akan menerima informasi sebenarnya dan tentu akan lebih respek. Ujung-ujungnya nama si blogger akan moncer di kalangan calon konsumen. Konsekuensinya adalah bisa saja akan dijauhi pabrikan. Di sinilah mental si blogger diuji.

Cara berikutnya reviewlah motor teman, pokoknya bukan pinjaman pabrikan. Motor teman berarti motor massal yang lebih dipercaya kondisi apa adanya. Kecuali temenmu petinggi pabrikan ya hehehhee…

Sebenarnya dua cara di ataspun tidak menjamin tulisannya akan objektif, namun setidaknya ada kebanggaan tersendiri dari sisi si reviewer bahwa tulisannya murni dari hati bukan atas ketidaknyamanan gara-gara klausul kontrak dengan pabrikan misalnya.

Lalu, bagaimana kalau si blogger tetap melakukan review motor pinjaman pabrik? Kalau itu terjadi, monggo keputusan tetap ada di brosis. Percaya atau tidak dengan hasil reviewnya, sesuai fakta yang ada atau ada bungkusan rasa pakeweuh di dalamnya, brosis yang punya hak penuh untuk mengambil sikap. Monggo telusuri tulisan-tulisan si blogger tetang topik sejenis sebelum-sebelumnya. Jika brosis putuskan percaya, itu hak brosis sepenuhnya. Dan jikapun brosis ragu dengan kredibilitas si blogger dalam menulis tentang review motor baru, kembali itu adalah hak sepenuhnya brosis.

Sebenarnya mudah saja untuk menyikapi “tuduhan” di artikel RA tersebut. Jika memang si blogger merasa apa yang ditulis di artikel itu tidak benar atau tidak sesuai dengan apa yang telah ia lakukan selama ini, reaksi “penolakan” bisa dilakukan dengan tetap konsisten menghadirkan review-review jujur a la dirinya. Toh pembaca juga punya penilaian sendiri. Reaksi berlebihan dengan balik menuduh si penulis artikel sebagai pembela konsumen lah, pahlawan kesiangan lah atau blogger sok idealis lah, iri lah bla bla bla sampai membawa-bawa sebuah hadits Nabi Muhammad saw malah makin menimbulkan pertanyaan, kenapa dia?

Biasanya jika muncul bau kentut busuk di antara kumpulan orang yang tengah bercengkrama, maka yang paling kencang plus paling duluan bereaksi adalah si pelaku kentut. Ini soal kentut lho ya bukan lainnya hehehehe…

Advertisements

29 Comments

  1. Sebenarnya ujung masalahnya bukan tentang ini pinjam pabrik, ini pinjam teman, ini beli sendiri, review adalah dampak dari…nah kembali lagi, tujuan ngeblog cari duit apa murni berbagi info? Kalo cari duit ya ibarat kata masak ingin menjelekkan yg sudah kasi anda duit…itu godaannya.

    Kalo murni berbagi info, ngapain takut review barang jelek atau bagus, toh kan gak ada efeknya, sama aja kayak usaha sendiri, jual barang jelek dari brand A ternyata gak laku ya dibilang jelek gak ada org suka, coba kalo sales yg ditanya pabriknya, bisa jadi jawabannya krn pasar lesu, atau apalah yg bikin pabrik gak nyalahin dia.

    Nah balik lagi ke tujuan ngeblog, murni berbagj info apa cari duit, caei duit disini ya termasuk dari iklan, amplopan, bahkan gak akan nrima undangan makan2 dari pabrikan…maaf kalo saya salah

    http://verzasurabaya.com/2016/03/09/lampu-proji-mati-jangan-panik-cek-3-komponen-ini/

    • Baca sampe habis,,, klo ga mau beli bisa pinjem,,, klo ga mau juga ya udah lanjutkan review pinjeman ATPM, dengan artikel yg berusaha seobjektif mungkin,biar pembaca yg menilai…

  2. biasanya blogger otomotif yang gak dapet pinjaman motor dari pabrikan itu blogger yg ukuran badannya jumbo (takut motornya rusak), blogger yang jarang sikat gigi (takut reviewnya nyinyir)

  3. Yg saya heran, blogger yg review pinjaman dari pabrik kenapa gak tambah ciut pembacanya? Dan beberapa blogger yg idealis, kian hari tambah ciut hits-nya. Pertanyaannya, pembaca lebih suka review blogger yg idealis atau blogger yg pinjaman apm?

Comments are closed.