Ternyata Marquez Hanya Bohong Anggap Rossi Idolanya! Nah Lho… Kata Siapa Sih?

image

Hubungan mesra Valentino Rossi dan Marc Marquez telah berakhir. MotoGP musim balap 2015 menjadi titik balik hubungan berbeda keduanya. Sepang adalah saksi betapa keduanya benar-benar mencapai titik nadir. Tidak ada lagi Rossi sang idola atau Marquez si fans berat. Kini, Rossi telah menganggap Marquez adalah the big enemy, musuh besar yang harus ditaklukkan di lintasan.

Sekali lagi hanya di lintasan! Rossi memang telah menganggap Marquez sebagai biang keladi kegagalannya sebagai juara dunia 2015. Rossi bahkan menyebut pembalap HRC dengan dua titel juara dunia di tangan itu adalah pengkhianat. Balasan atas perlakuan Marquez adalah dengan mengalahkannya di lintasan. Namun, Rossi masih berharap keduanya masih ada rasa saling hormat di luar lintasan.

“Setelah apa yang terjadi di antara kami, saya kira tidak akan ada lagi hubungan baik. Namun kami hanya musuh di atas lintasan. Saya harap kami tetap saling menghormati satu sama lain. Itu adalah sesuatu yang penting,” ujar Rossi, seperti yang dilansir dari Crash, Minggu (13/3).

image

Seperti yang kita ketahui, jauh sebelum nama Marquez mendunia, dia mengaku sebagai fans seorang pembalap asal Italia dengan nomor khas 46. Bahkan, Marquez kecil sempat foto bareng dengan Rossi yang kala itu memang sudah menjadi nama besar di MotoGP. Rossi pun seperti halnya orang lain yang diidolai, nampaknya juga menyambut antusias fansnya itu. Hingga Marquez bergabung ke kelas MotoGP, Rossi seolah-olah menganggap Marquez sebagai rekan di lintasan, namun rekan yang harus ditaklukkan. Bahkan, hubungan Rossi – Marquez terlihat jauh lebih akrab dibanding Rossi – Lorenzo yang notabene rekan setim. Bisa dilihat selepas balapan usai atau di podium bagaimana Rossi selalu memberikan salaman hangat ke Marquez namun biasa saja ke Lorenzo. Tapi itu dulu, sebelum musim 2015.

Kini, di MotoGP 2016 hampir bisa dipastikan tidak akan ada lagi salaman hangat itu. Rossi sudah menganggap Marquez sebagai pengkhianat, pembohong dan telah mempermainkannya.

“Saya telah membiarkan diri saya diperdaya oleh Maquez. Dia telah mempermainkan saya. Dia mengatakan bahwa dia penggemar saya, namun itu semua bohong. Saya hampir percaya dengannya. Kini saya siap bersaing dengan dia, saya akan berikan kekuatan 100 persen di atas lintasan,” ujar Rossi.

image

Kini, musim balap 2016 tidak lama lagi dimulai. Semoga kebencian Rossi terhadap Marquez akan diluapkannya di lintasan. Tidak hanya 100% kemampuan yang akan dikeluarkan Rossi, demi mengalahkan Marquez bisa saja Rossi akan melampaui kemampuannya. Jika itu sudah terjadi, siap-siap saja sebagai penikmat tontonan MotoGP, kita akan disuguhi beberapa kemungkinan di lintasan.

Pertama, Rossi akan kesetanan membalap demi mengalahkan Marquez. Gaya Marquez yang “serampangan” akan bertemu gaya balap Rossi yang baru itu. Jika kepala Rossi masih adem, ini akan menjadi epik bagi MotoGP.

Kedua, jika Rossi tidak mampu meredam emosinya bisa jadi di lintasan nanti hanya yang ada di pikirannya, boleh kalah dari siapapun asal jangan dari Marquez. Jika ini yang terjadi, gelar juara tidak lagi menjadi prioritas. Yang penting mengalahkan Marquez. Finish posisi ke-10 tidak apa-apa asal Marquez di peringkat 11 atau di bawahnya lagi. Namun, apakah Rossi akan melakukan hal ini?

Ketiga, aksi saling sikut, saling tendang, saling senggol hingga merugikan keduanya akan lebih sering kita saksikan. Jika di musim 2015 lalu hanya Sepang yang “beruntung” menjadi saksi, bisa jadi di musim ini akan ada lebih banyak lagi sirkuit yang akan menjadi saksi brutalnya pertarungan Rossi vs Marquez. Sekali lagi, apakah Rossi mau melakukannya?

[display-posts tag=”rossi-vs-marquez” posts_per_page=”4″]

Tentu saja, tulisan di atas hanya opini RA saja. Jelas, cara paling elegan untuk membungkam Marquez dan menunjukkan ke dunia bahwa Rossi still a life adalah dengan menjadi juara dunia MotoGP 2016. Setuju?

Btw, kalau kemungkinan ketiga benar-benar terjadi, gimana bro!? Xixixixi….

image
Bakalan banyak "keseruan"seperti ini
Advertisements

Comments are closed.