Pengalaman Berhadapan Dengan Debt Collector Perampas Motor, Andai Saat Itu Tahu UU Fidusia Ya…

image

Lagi blog walking eh kesasar ke warung penunggang macan lawas eh nemu artikel tentang debt collector yang diuber-uber polisi eh jadi ingat pengalaman beberapa tahun silam. Hah? Pernah diuber polisi? Jadi debt collector? Ketangkep gak? Diapain? WoiiiSabarrr….busyet dah berondongan pertanyaan kayak muntahan peluru AK 47 ih. Pengalaman di sini maksudnya pengalaman berhadapan dengan debt collector di jalan raya. Dirampas gitu motor yang lagi kita naikin, bujug dah kayak maling aja kita diuber-uber 5 orang pakaian jaket hitam dengan 3 motor.

image

Jadi, ceritanya begini. Kejadian sekitar tahun 2000an awal, lupa pastinya. Lokasi di Jember. RA sedang menuju Jember dari Situbondo bersama sahabat dengan mengendarai Vario gen awal. Selama berangkat menuju Jember sih aman-aman saja. Nah, pulangnya saat sampai di depan terminal Arjasa, RA dan teman RA curiga koq rasa-rasanya ada yang mengikuti. Benar saja, baru berpikiran begitu tiba-tiba di sebelah kanan melaju motor MegaPro primus sejajar kami. Busyet… Jangan-jangan perampok nih, demikian RA bisik-bisik dengan teman yang nyetir. “Ngebut-ngebut” RA bisikin teman. Namun, kami hanya lolos sekitar 1 km saja, setelah itu dua motor lainnya nyalip dan memperlambat lajunya pas depan kita. Kita dikepung, bro… Ya sudahlah, pasrah. Kita berhenti.

image

Kemudian terjadi komunikasi. Intinya kita diminta ikut ke kantor mereka di daerah Jember kota. Helloo… Kita mau pulang, sudah keluar dari kota harus balik lagi. Sudah sore jelang maghrib lhoo… Tapi, akhirnya kita ikuti saja mereka. Berlima je, kita berdua dah gitu serem-serem tampangnya. Debt collector mang harus gitu kali ya… RA dibonceng si Debt Collector penunggang MegaPro Primus, sedangkan teman RA dibonceng dengan motor Vario dia. Eh iya, Vario nya milik nyokab teman RA itu.

Sampai di kantornya, lokasi dekat-dekat Mall Matahari, kami menerima penjelasan bahwa motor yang kami naiki tengah bermasalah. Nunggak kredit selama 6 bulan. Dan harus ditarik oleh pihak leasing. Apa yang kami alami tadi merupakan bagian dari proses penarikan itu. Teman RA ngotot tidak mau dan harus tetap kami bawa pulang tuh Vario. Namun, lagi-lagi kami kalah. Akhirnya, Kami diajak bertemu pemilik motor itu sebenarnya yakni paman dari teman RA itu di daerah Bondowoso. Singkat kata, urusan kredit macet menjadi urusan paman teman dan pihak leasing. Nasib kita? Dengan masing-masing pegang helm, kita disuruh pulang naik bus. Untung diongkosis si paman itu. Duuhh

image

Akhirnya, sekian belas tahun kemudian jadi tahu bahwa kejadian yang RA alami itu seharusnya tidak terjadi. Debt collector tidak boleh melakukan perampasan motor bermasalah, apalagi di jalan raya. Bikin susah orang saja… Adalah undang-undang Fidusia yang mengatur itu semua. Mengutip dari macantua, “dalam UU Fidusia tidak di benarkan merampas kendaraan dan bahwa yang berhak melakukan penyitaan adalah pengadilan dengan adanya proses pembayaran denda”

Bahkan, seorang rekan blogger di Malang yang juga juragan jamur, bikersoak, pernah mengulas UU Fidusia dengan gamblang. Sampai-sampai blognya meleduk sempurna, njengat bro. Silahkan ke tekape saja.

Heemm… Sebenarnya kemunculan debt collector memang seperti sebab-akibat. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Debt collector tidak akan ada kalau masyarakat tertib bayar hutangnya. Kredit motor sama dengan hutang, dan dalam hukum apapun hutang ya harus dibayar. Debt collector makin tumbuh subur seiring dengan makin nakalnya para kreditur motor. Namun, hal itu juga tidak lepas dari “nakalnya” pihak dealer yang terlalu mudah memberikan kredit, nakalnya surveyor yang tidak mensurvey calon kreditur dengan baik, pokoknya motor laku, beres! Sehingga muncullah kreditur hit & run. Kredit dengan sejumlah uang muka yang minim, 1-2 kali cicilan aman, ke-3 dan seterusnya mulai bermasalah sebab memanggil sejak awal sudah tidak berniat baik kredit motor. Maka, muncullah debt collector-debt collector di jalanan. Cangkrukan di warung kopi perempatan, sambil pegang “kitab suci” yang berisi list nopol motor bermasalah. Jika korban terlihat, uber deh... Rampas, perkara si korban ndlongop gak paham, nangis ketakutan dan sejenisnya bukan urusan si debt collector. Pokok e motor bermasalah didapat, urusan selanjutnya serahkan leasing.

Banyaknya kasus perampasan motor oleh debt collector akhirnya mengundang keprihatinan pihak kepolisian. Akhirnya, Kapolri memerintahkan untuk melakukan penanhkapan terhadap debt collector yang melakukan perampasan motor di jalan. Sebab, leasing tidak berhak melakukan pengambilan paksa motor karena status motor adalah hak milik terkait pasal perdata bukan pidana. Penyitaan harus dilakukan dengan tahapan melalui pengadilan dan denda sejumlah tertentu.

Makanya bro, kalau memang tidak atau belum mampu beli motor baru, tidak usahlah paksakan kredit. Dari pada setelah itu hidup lo bakal bermasalah. Mending kalau ada sejumlah dana tertentu yang masih kurang buat beli motor baru, carilah motor seken. Asal pintar memilih, banyak lho motor-motor seken dengan kualitas masih bagus di luar sana. Apalagi saat ini ATPM sangat “kurang ajar” dengan berondongan produk-produk baru yang hanya dalam hitungan bulan. Sehingga life cycle motor menjadi pendek. Baru setahun beli sudah jadi motor old hehehe

Advertisements

1 Comment

  1. Pernah denger klo sistem leasing itu sebenernya semacam sewa, jd kita sewa motor ke pihak leasing…bener kah?

Comments are closed.