Di Indonesia Itu, Pembalap Gak Penting…

image

Hari ini blogsphere lagi ramai bahas hasil Indospeed (IRS). Ada kelas 150 cc, 250 cc dan 600 cc. Seperti yang sudah-sudah, kalau ada balapan di Indonesia yang paling diingat itu bukan siapa pemenangnya tapi motor apa yang menang. Duh, di sini pembalap itu nomor dua, motor nomor satu. Gak percaya?

Coba deh baca blog teman-teman yang bahas IRS 2016, pasti judulnya tak jauh dari menyebut jenis motor yang menang atau atpm mana yang mendominasi. Mengapa bisa begitu? Permintaan pasar sih. Di sini ini banyak fansboy merk motor yang begitu mendewakan merk itu. Sampai-sampai kalau bukan merk itu, gak bakal beli. Sehingga saking fanatiknya, ketika ada yang membahas kekurangan merk itu, langsung dibantah yang beginilah, begitulah, gak ada produm yang sempurna lah, bla bla bla… Makanya, ketika ada adu kebut bernama balap nasional, yang ditunggu adalah apakah motor merk pujaan menang gak ya, gak peduli siapapun pembalapnya. Oleh karena itu, tidak salah jika judul artikel balap nasional mesti akan lebih menonjolkan merk motornya dibanding siapa pemenangnya.

Misalkan, di kelas 150 cc. Coba ditanya siapa yang menang? Jawabnya lama. Coba ditanya motor apa yang menang? Dari seluruh podium-pun pasti hafal merknya apa. Nasib pembalap yang dicuekin. Yamaha R15 mendominasi kelas 150 cc, R25 sapu bersih podium, Honda makin kuat di kelas 600 cc. See…

Seru ya? Padahal, di ajang balap motor nomor wahid di kolong jagad ini, merk motor menjadi nomor dua setelah nama pembalap. Marc Marquez, Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, Andrea Iannone seluruh nama itu akan dikenang sebagai pembalap MotoGP dengan skill ciamik, baru setelah nama-nama itu nama pabrikan dikenal kemudian. Bandingkan dengan nama berikut Rezha Danica, Rey Ratukore, Irwan Ardiansyah, pada kenal?

Apakah faktor tersebut menjadi penyebab selalu kurang bersinarnya pembalap-pembalap Indonesia di kancah balap dunia? Wallahualam…

Advertisements

10 Comments

Comments are closed.