Rekap Data AISI Maret 2016: Honda Dekati Monopoli, Vixion Tumbang, NMax Melejit!

Sejak Jumat kemarin kondisi badan drop, alhasil mood nulis ikutan down kayak Rossi pakai gaya down di Austin kemarin :D. Hari ini belum satupun artikel terbit, walau mulai recovery tapi mood nulis belum juga kembali normal. Ini baru mencoba produktif lagi. Yang lagi hangat adalah keluarnya Data AISI Maret 2016.

Ada 3 poin yang menarik untuk dibahas kali ini. Apa saja, yuk kita lanjut…

logo-honda.png.pngPertama, Honda telah mendekati angka “bahaya” bagi sebuah persaingan bisnis yaitu menguasai hampir 80% marketshare motor nasional. Tepatnya 78,14% atau sekitar 440.171 unit dari total distribusi motor di Maret 2016 yang mencapai 563.341 unit (naik 7,3% dari Februari 2016).┬áHampir monopoli nih…

Kedua, Vixion tumbang. Pertama kalinya di tahun ini distribusi Vixion harus mengakui keunggulan musuh bebuyutannya, CB150R. Setelah sempat unggul cukup signifikan di Januari dan Februari dengan gap belasan ribu, di Maret ini Vixion kalah dengan selisih 440 unit. Vixion dengan 8.213 unit sedangkan CB150R 8.653 unit. Pasar sudah jenuh dengan Vixion series? Bisa jadi, namun yang jelas pasar naked sport 150 turun semua.

nmax-rideralam.jpg.jpegKetiga, NMax melejit! Tren big skutik Yamaha NMax 155 makin diterima pasar. Tiga bulan pertama tahun ini NMax makin meningkat penjualannya. Bahkan, di Maret ini NMax melejit hingga nyaris 50%. Di Februari kemarin NMax terdistribusi hingga 13.999 unit, Maret ini meejit hingga 20.998 unit. Wow... apakah ini pelarian dari segmen sport 150? Kalau mengaca pada RA sendiri sih jawabannya iya. Vixion jual, ganti NMax hehehe… kebutuhan!

So, marketshare motor nasional memang semakin dinamis. Walaupun penambahan sarana dan prasarana jalan tidak secepat pertumbuhan motor, namun produsen terus menggerojok pasar dengan model-mode baru yang terus menggoda dompet konsumen. Hati-hati dengan keinginan, brosis!

Advertisements

5 Comments

  1. memang kapan dikatakan monopoli ataupun belum monopoli? keknya udah ya. tapi lantaran karakter pasar gak bisa diikuti ya wajar kalah saing, bukan karena ada politik yang tidak adil dan semacamnya. dan jika koleps maka gak jumlahnya signifikan pengaruh penganggurannya. biasanya eks karyawan dapat pesangon besar dan cepat cari alternatif pekerjaan lainnya.

Comments are closed.