Puas Dengan Genza, Kangen Dengan Sensasi Motorsport… Verza Berapaan Ya?

image

Sejak Oktober tahun lalu rutinitas harian RA ditemani si bongsor NMax. Namanya Genza seperti keinginan istri karena nama anak kami ada kata Genza-nya. Genza menggantikan Envilan yang kurleb setahun lebih menemani. Selama 7 bulan bersama Genza, bisa dibilang nyaris tidak ada rasa tidak puas (kecuali shock batunya itu ya, abaikan saja bawaan orok itu). Genza perfect so far, tentu saja perfect versi RA. Namun, akhir-akhir ini koq di pikiran selalu muncul keinginan melihara motorsport lagi ya…

Sekali lagi bukan karena Genza tidak memuaskan, namun lebih ke keinginan sebagai selera. Sensasi engine brake, tuas kopling, akselerasi yahud hingga bunyi rantai yang menciptakan nada-nada sumbang heuheuheu… Memang ngangenin. Oh iya satu lagi, riding position naked sport bikin nagih. Riding position Genza sih full santai, pas banget buat jalan-jalan sore bersama istri, namun kalau lagi riding sendiri heemm… Sportbike masih lebih ngangenin.

Dulu, salah satu alasan ganti Envilan dengan Genza adalah karena kami (RA dan istri) termasuk big size, jadi butuh moyor dengan dimensi lebih besar. NMax non ABS lah pilihannya, selain bodi bongsor, harga juga masih masuk budget. Namun, sekarang ketika si kakak sudah berumur hampir 2 tahun dan tengah senang-senangnya naik motor, Genza menjadi sulit untuk digunakan membawa anak kecil. Awalnya sempat enak dengan meletakkan si kakak Rafif duduk di atas tangki bensi Genza dengan alas kain atau bantal, namun kini beranjak makin mengerti dengan situasi, dia jadi ogah lagi duduk di sana. Sekarang lebih suka duduk se-jok dengan ayahnya. Otomatis, RA jadi bergeser ke belakang untuk duduk. Membiarkan Rafif duduk di belakang sendirian sangat beresiko.

image
Jagoan RA nih

Alhasil, susah lho bawa anak usia nanggung (kecil gak, besar juga gak. Belum ngerti apa-apa juga gak, paham semua juga gak) duduk di depan kita yang nyetir. Apalagi kalau mamanya ikutan bonceng di belakang, mepet-mepet semua duduknya. Belum tangan kiri sering nahan atau megang si kecil agar tidak jatuh. Sebenarnya ada solusi yakni dengan membeli kursi untuk anak kecil khusus motor matik, namun penambahan perangkat gitu koq bikin RA was-was. Entah, gak sreg saja…

Semua kondisi di atas membuat pikiran ini makin sering mengkhayal untuk memelihara satu lagi motor batangan dengan tangki di depan. Rasanya, lebih mudah membawa anak kecil duduk depan kita dengan ditahan tangki dibanding duduk di jok matik. Memang, selama anak kecil naik motor pasti berbahaya, tapi hei… Inilah fakta dan kenyataan sehari-hari sebagian besar masyarakat Indonesia (cek ileh data dari mana tong). Jadi, kita cari yang terbaik dari kondisi tidak ideal yang dihadapi. Siapa sih yang ingin buah hatinya celaka. Gak ada bro, kecuali orang tua durhaka terhadap anaknya.

Beberapa kali juga mamanya Rafif manas-manasi situasi. “Yah, motor itu bagus ya” (sambil nunjuk New CB150R) asyeemm…. “Yah, itu motor apa ya, koq bagus?” (pas R25 tetangga lewat) njiiirrr….

image

Masalahnya, dana belum ada untuk pengadaan motor baru atau seken. Apalagi duit gaib lagi seret hihihi… Ngejar sektor riil dulu kalau kata teman-teman di Jatimotoblog. Btw, di pikiran ini koq pengen Verza ya? Hahahaahhaa… Efek realistis dengan kehidupan yang serba belum berkecukupan. Cari yang murah-murah saja yang penting gak rewel…

Advertisements

3 Comments

  1. Verza asik ko kalo buat bawa bocah, dkasi bantal, bisa tidur di tangki juga dia ..soalnya kontur tangkinya gak aneh2
    Kakak aja kebawa tuh anaknya umur 4 sama 5 thun

Comments are closed.