Analisis Iseng Performa Ducati Lima Seri Awal Musim 2016, Mlempem dan Memble bin Apes!

image

MotoGP musim ini telah menyelesaikan 5 seri. Losail (Qatar) sebagai pembuka kemudian berturut-turut Termas de Rio Hondo (Argentina), Austin (Amerika), Jerez (Spanyol) dan Le Mans (Prancis). 5 seri, 3 pemenang, 2 tim. Qatar dan Prancis dikuasai Jorge Lorenzo (Yamaha), Austin dan Argentina menjadi milik Marc Marquez (Honda) dan Valentino Rossi (Yamaha) dominan di Jerez. Tidak ada nama Ducati dilist, kemana mereka?

Masih teringat kala musim 2015, saat motor Ducati menciptakan Desmosedici GP15. GP15 mengalami perubahan revolusioner menjadi motor balap dengan paket jauh lebih baik dibanding sebelumnya membuat seluruh komponen tim Bologna optimis, kemenangan minimal satu seri bisa dilakukan! Target yang boombastis, namun tetap masuk akal, mengingat dominannya Honda dan Yamaha.

image

Awal musim 2015 optimisme makin memuncak kala Andrea Dovizioso meraih runner up 3 kali beruntun di 3 seri awal. Qatar, Austin dan Argentina. Kemenangan sudah di depan mata. 4 seri, 5 seri, 10 seri masih belum menang bahkan hingga seri ke-18 alias pamungkas kemenangan masih di luar jangkauan. Target failed, namun optimisme dengan performa Desmosedici GP15 masih membumbung tinggi.

Memasuki musim 2016, target kemenangan tetap dicanangkan, bahkan dinaikkan menjadi minimal 2 seri. Entah apakah target tersebut dibuat setelah mengukur kemampuan diri dan lawan atau hanya sekedar menjadi pelecut semangat tim. Regulasi baru dan ban baru di musim ini membuat Ducati makin optimis setidaknya bisa meraih kemenangan di seri-seri awal ketika Honda dan Yamaha masih mencari setup motor yang pas. Maklum, regulasi baru dengan perangkat elektronik sama buatan Magneti Marelli sudah menjadi bagian Ducati sejak 2015, artinya mereka punya modal lebih dulu dibanding pesaing. Adaptasi Ducati tentunya lebih baik dari pada Honda dan Yamaha yang harus meriset motor dari nol, tentu saja ini pemikiran Ducati.

image

Tidak tanggung-tanggung, ketika tim lain menurunkan 4 motor, 2 pabrikan dan 2 satelit, Ducati turun dengan line up 8 motor. 2 motor tim utama yang menggunakan Desmosedici GP16 dan 6 motor lainnya versi tahun lalu. Jelas, ini sebuah keinginan untuk menang yang tidak main-main. Makin banyak motor yang turun di lintasan, makin banyak data yang bisa didapat, makin besar kemungkinan menemukan setelan motor yang sempurna. Bagaimana hasilnya?

Kacau! Lima seri pembuka musim ini Ducati sama sekali tidak punya taji (eh jangan ding, kejam banget sebab di Qatar  mereka masih oke tuh). Hanya dua podium yang berhasil diraih, podium dua dari Dovi di seri pembuka dan podium tiga dari Iannone di Austin. Selebihnya susah payah untuk sekedar finish. Keinginan menang di seri-seri awal dengan asumsi Honda dan Yamaha belum in dengan regulasi baru gagal total. Jangankan menang, menyentuh garis finish saja susahnya kayak pup tapi kurang serat, sereeeet. Tercatat duo Andrea masing-masing telah 3 kali Do Not Finish. Dovi gagal finish beruntun di Austin, Jerez dan Le Mans. Iannone di Qatar, Argentina dan Le Mans. Ada apa dengan Ducati musim ini?

Apakah performa GP16 melempem? Tidak juga. Top speed mereka unggul, akselerasi paling oke dibanding Yamaha dan Honda, setidaknya itu yang dikatakan Marquez, artinya dari sisi teknis motor tidak ada masalah (kecuali ngebulnya GP16 Dovi di Jerez). Bolehlah Ducati berasumsi masalah ada di pembalapnya. Jadi tidak heran mereka begitu ngotot memboyong pembalap juara sekelas Jorge Lorenzo.

Silahkan simak perbandingan performa Dovi dan Iannone musim 2015 dan musim 2016 berikut:

Andrea Dovizioso
Qatar 2015: 20 poin; 2016: 20 poin
Argentina 2015: 20 poin; 2016: 3 poin
Amerika 2015: 20 poin; 2016: 0 poin
Spanyol 2015: 7 poin; 2016: 0 poin
Prancis 2015: 16 poin; 2016 0 poin

image

Total poin 2015: 83 poin; 2016: 23 poin lost 60 point

Andrea Iannone
Qatar 2015: 16 poin; 2016: 0 poin
Argentina 2015: 13 poin; 2016: 0 poin
Amerika 2015: 11 poin; 2016: 16 poin
Spanyol 2015: 10 poin; 2016: 9 poin
Prancis 2015: 11 poin; 2016 0 poin

image

Total poin 2015: 61 poin; 2016: 25 poin lost 36 point

Kedua pembalap mengalami penurunan performa yang cukup tajam dalam 5 seri awal musim ini, terutama Andrea Dovizioso. Iannone juga tidak lebih baik. What’s wrong dengan duo Andrea? Dewi fortuna menjauh? Bisa jadi, tapi kecerobohan juga ikut berperan. Kita bisa lihat di Argentina. Podium 2 dan 3 yang sudah di depan mata musnah akibat kesalahan Iannone yang memaksa masuk dari sisi dalam Dovi di tikungan terakhir last lap sebelum finish.

Apakah kita bisa berasumsi bahwa dua pembalap Ducati tidak cukup kuat menanggung beban juara? Silahkan, itu juga masuk akal. Makanya mereka gaet Lorenzo, itu adalah cara selanjutnya untuk meraih kemenangan. Motor hebat harus di tangan pembalap juara!

Advertisements

4 Comments

  1. Dovi sebetulnya pembalap hebat, cuma kurang beruntung saja. Ingat musim 2012 dia pakai M1 satelit bisa 6 kali naik podium

Comments are closed.