Antara Nyali Suzuki dan Peran Orang Tua, Nasib Satria Injeksi Yang Makin Tak Bernyali!

image

Cukup menarik membaca judul berita di KompasOnline hari ini, Senin (13/6) yang berbunyi “Ke Mana Nyali Suzuki Satria?”. Lumayan menohok Suzuki yang di awal peluncuran si ayago injeksinya itu sangat pede bisa diterima masyarakat. Bahkan tagline yang diusung juga sedikit menantang lawan “Tantang Nyalimu”. Bagaimana hasil dari optimisme itu? Empat bulan pasca peluncuran, inilah hasilnya…

Januari 2016 : 2.981 unit
Februari 2016 : 10.065 unit
Maret 2016 : 3.120 unit
April 2016 : 1.765 unit
Mei 2016 : 1.208 unit

Kita lihat dulu totalnya 19.139 unit. Sangat jauh dari target yang dibebankan ke si injeksi. Kala itu Suzuki optimis Satria Injeksi akan menguasai 40% market hyper-underbone atau sekitar 20 ribu unit per-bulan. Yup, tiap bulan setidaknya 20 ribu unit Satria Injeksi akan berpindah ke tangan konsumen. Namun, jika melihat data di atas jangankan tiap bulan, dalam 5 bulan saja masih tidak sanggup mencapai angka 20 ribu unit.

Dan target itu sepertinya akan semakin jauh dari kenyataan melihat tren penjualan (distribusi) Satria Injeksi dalam 4 bulan terakhir. Sejak booming di Februari Satria Injeksi ternyata segera setelah berganti bulan demi bulan terus memgalami kemerosotan. Dari 10 ribuan unit menjadi hanya seribuan unit perbulan. Suzuki bukannya berbenah, malah terkesan membiarkan. Tak ada promo gebyar yang terlihat di media-media. Seolah-olah lepas produk, biarkan terjual apa adanya. Laku syukur, gak laku ya biarin.

Ke mana nyali Suzuki untuk memperjuangkan satu dari dua produk terlarisnya itu selain Address? Ternyata, bekal motor terkencang di kelasnya saja tidak cukup untuk menguasai. Tren permintaan ayago yang semakin menurun kala masih sendirian bermain dengan Satria FU karbu seperti diabaikan. Saat ini, konsumen mayoritas menginginkan motor yang enak dikendarai, cukup bisa buat ngebut, fitur melimpah dan bisa bawa keluarga. Bebek bukan lagi pilihan utama, matik menjadi idola baru.

Sedangkan ayago adalah segmented banget. Paling-paling penggunanya adalah abege-abege yang masih mencari identitas ke-aku-annya. Itupun, mereka tidak punya kuasa full menentukan pilihannya. Masih ada orang tua yang menentukan. Nah, di sini ada fenomena menarik yang diungkap oleh atasaspal.com bahwa ada orang tua yang justru berusaha menghindarkan buah hatinya dari motor Satria injeksi ini. Bukan soal modelnya yang jelek tapi justru karena kelebihannya di kecepatan. Para orang tua khawatir kecepatan satria injeksi yang superior akan mempermudah anaknya celaka. Mau protes atau tidak terima dengan alasan itu, ya itilah fakta di lapangan.

Dari situ seharusnya Suzuki mulai gencar memberikan edukasi tentang kelebihan Satria Injeksi ke calon konsumennya. Ini penting jika melihat satu kasus di atas. Bisa jadi alasan yang dikemukakan para orang tua itu berangkat dari ketidaktahuan mereka tentang Satria Injeksi dan motor-motor ayago lainnya. Gak lucu kan kalau kelebihan si kuda besi justru membunuh dirinya sendiri.

Advertisements

12 Comments

  1. Nahh bener juga ya, disatu sisi power mumpuni jadi daya gedor, tpi di sisi lain menjadi momok menakutkan bagi para orang tua yg kemudian berimbas pada pelarian ke produk lain

Comments are closed.