Klaim Top Speed Tanpa Menyebut Parameter Ini, Berbahaya!

ktm indonesia

image

Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama muncul di benak RA, apalagi setiap ada produk baru yang dirilis, pertanyaan itu kembali menggema. Sebab, selama ini yang disampaikan hanyalah hasil jadinya, tanpa menyebut parameter secara lengkap. Apa sih?

Semua tentang top speed. Setiap motor pasti punya top speed atau kecepatan puncak yang bisa diraih oleh motor itu. Nah, produsen-produsen motor di tanah air ini nyaris selalu menyertakan keterangan top speed dalam setiap peluncuran produk barunya. Misal motor X ketika diuji internal bisa mencapai top speed 120 kpj, atau motor XX saat dilakukan dynotest bisa mencapai 130 kpj dan saat diukur top speed di sirkuit bisa mencapai 135 kpj on speedo.

Yup, itulah parameter yang sering kita baca atau kita ketahui dari informasi sebuah top speed, sebab memang informasi itu saja yang diberikan oleh produsen kepada calon konsumennya. Alhasil, bisa ditebak banyak adu komentar, adu argumen hingga adu jotos hanya gara-gara top speed yang sebenarnya masih abu-abu atau bahkan bisa dibilang gelap. Ada satu parameter penentu top speed yang sering luput dari perhatian produsen untuk diinformasikan kepada calon pembelinya. Yakni parameter manusianya alias pengendaranya atau testridernya.

Berapa berat si testrider, berapa tinggi badannya hingga seperti apa gaya ridingnya saat mencapai apa yang disebut top speed. Jelas ini faktor yang sangat penting dan krusial. Bobot rider sangat menentukan laju kuda besinya. Tinggi badan rider juga menentukan hambatan angin yang menerpanya dan gaya riding si rider juga akan mempengaruhi hasil top speed.

Sebagai contoh saja RA sendiri. Saat pertama memiliki New Scorpio Z (sipio) kecepatan paling tinggi yang bisa RA capai di jalan raya adalah 115 kpj. Menurut RA ini sudah sangat kencang. Dan ternyata, beberapa informasi dari peluncuran Sipio top speed NSZ bisa mencapai 130an kpj. Apakah mereka bohong? Tidak bisa dibilang begitu, sebab 130an kpj yang diklaim tidak disebutkan ridernya seperti apa. Sedangkan, RA dengan TB 190 cm dan BB 100 kg hanya mentok di 115 kpj. Jadi, top speed mana yang benar? Relatif adalah jawabannya, tergantung si rider. Bisa jadi, dengan rider berbeda yang lebih expert berkendara dengan bobot dan tinggi sama dengan RA bisa mencapai 120an kpj misalnya. Lebih shock lagi saat baca-baca forum sipio dengan beragam komentar yang bikin ngilu. Yang katanya si NSZ mereka bisa 140 kpj dengan gas belum mentok lah atau bisa ngejar ninja 250 lah bla bla bla.… Pada hebat semua.

Jadi, poinnya adalah sebelum kita paham dan tahu betul parameter yang digunakan untuk mengukur top speed sebuah motor, tidak usah percaya dulu angka-angka yang disajikan dengan klaim sebagai top speed.

Kepada produsen, ada baiknya mulai memasukkan keterangan rider yang digunakan untuk mencapai klaim top speed mereka. Atau, jika memang itu menyusahkan, tidak usahlah menyajikan info top speed, cukup power dan torsi saja. Toh, dengan memberikan info top speed asal, akan membuat si pembeli mencoba-coba mencapai klaim top speed itu dan biasanya di jalan raya seperti yang RA lakukan. Berbahaya…

Advertisements

9 Comments

  1. Tester biasanya memiliki berat badan dan ukuran rata rata orang dimari… sehingga bisa ditarik kesimpulan secara logika saja…. biasanya lo… kan RA ukurannya diatas rata rata…

    :mrgreen:

    *kabuuuuur

  2. menyelesaikan masalah?? gampang, turunin aja berat badan ente yg ga standar….. no offense…cma saran…syukur didengerin…kan biar kalo ngetes bisa lbh fair… cmiiw

    • Bukan itu poinnya, tapi informasi yg disampaikan untuk mencapai top speed itu yg penting. Kalau semua suruh nurunin BB hanya agar sesuai dengan top speed klaim pabrikan, enak amat didikte mereka. Sorry ya hehehe…

Comments are closed.