Damainya Rossi Dan Marquez Hingga Kapan Stoner Turun Gunung?

image

MotoGP musim ini telah menyelesaikan 7 dari 18 seri yang direncanakan. Minggu depan, seri kedelapan akan diselenggarakan di Assen, Belanda. Keseruan dipastikan akan tersaji. Di awal musim, sebelum seri perdana di Losail Qatar bergulir, laman crash.net menyajikan 6 keseruan yang layak ditunggu di musim 2016. Bagaimana hasilnya setelah 7 seri berlalu?

Crash menyebut ada 6 keseruan yang layak ditunggu di MotoGP 2016 yakni:

1. Bagaimana hubungan Rossi dan Marquez?
2. Akhir dari era open class
3. Bisakah Honda perbaiki mesinnya?
4. Menanti aksi berikutnya dari Suzuki?
5. Gebrakan Redding dan Ducati
6. Stoner turun gunung?

Nah, brosis pasti sudah bisa menjawab sendiri keenam hal yang paling ditunggu di MotoGP 2016. Tidak ada salahnya RA juga akan membahas hasil keenam hal itu hingga 7 seri perdana musim ini.

Pertama, bagaimana hubungan Rossi dan Marquez? Mungkin inilah yang paling ditunggu dari MotoGP 2016 selain siapa juara dunianya. Musim 2015 menjadi starting point hubungan Rossi dan Marquez yang makin memburuk. Insiden Sepang Clash menjadi puncak perseteruan keduanya. Dua pembalap hebat dua generasi dengan basis massa yang sangat besar berseteru. Akankah selamanya menjadi musuh sebenarnya? Hingga seri Catalunya, tepat sebelum race tampak tidak ada peningkatan hubungan keduanya. Sejak seri pertama keduanya masih kaku walau tidak lagi mengumbar perang urat syaraf. Namun, kecelakaan fatal Luis Salom di FP2 Moto2 Catalunya menjadi titik balik hubungan keduanya. Usai race yang dimenangkan Rossi, Marquez kedua, tiba-tiba pemandangan menyejukkan mata tersaji. Rossi datangi Marquez di parc frame dan menyalaminya. Pemandangan yang paling ditunggu-tunggu para rossifumi dan seluruh fans MotoGP di dunia terpampang nyata. Rossi dan Marquez sepakat “perdamaian” mereka demi Luis Salom. Musibah membawa berkah!

Kedua, akhir dari era open class. Benar, MotoGP musim 2016 menjadi tonggak sejarah baru MotoGP. Keputusan Dorna memaksa seluruh tim menggunakan perangkat elektronik yang sama dari Magnetti Marelli membuat seluruh tim memulai riset motor dari nol. Kedudukan seluruh tim sama dalam hal perangkat ECU. Otomatis era open class hilang. Namun, tetap saja gap antara tim pabrikan dan non pabrikan masih ada. Movistar Yamaha dan Repsol Honda masih mendominasi, bahkan tim satelit mereka sulit bersaing layaknya musim lalu. Justru Ducati dan gerombolan tim satelitnya sempat menyeruak ke depan. Namun, justru tim factorynya yang mlempem. Tapi, terlepas semua hasil di lintasan keputusan Dorna menyeragamkan ECU menghasilkan balapan yang seru, apalagi faktor ban Michelin yang baru, makin membuat para pembalap dan tim berpikir dan bekerja ekstra keras menaklukkan lintasan. Penonton hepi nih…

Ketiga, bisakah Honda perbaiki mesinnya? Nah, ini yang lumayan menarik. Mesin RC213V yang liar di musim sebelumnya menjadi lebih jinak dikendalikan. Namun, konsekuensinya justru fatal. Akselerasi menjadi berkurang, sesuatu yang harus disesali seorang Marc Marquez kala hanya kalah 0,019 detik dari Yamaha M1 Lorenzo di Mugello. Hanya kalah di trek lurus terakhir sebelum garis finish. Padahal, biasanya akselerasi RC213V cenderung paling bagus diantara motor MotoGP lainnya. Namun, Honda harus berterima kasih kepada Marc Marquez. RA yakin, tanpa peran Marquez dua dua kemenangan sejauh ini di Austin dan Argentina sulit terwujud dengan kondisi motor under acceleration.

Keempat, menanti aksi berikutnya dari Suzuki. MotoGP musim ini (setidaknya hingga seri ketujuh) menasbihkan Suzuki sebagai tim dengan progress salah satu yang terbaik. Ketika di musim lalu duet Aleix Espargaro dan Maverick Vinales cukup mengejutkan sempat beberapa kali finish 6 besar, musim ini podium telah berhasil direngkuh. Podium ketiga Vinales di Le Mans menjadi podium pertama Suzuki di MotoGP sejak 2008. Vinales juga makin konsisten mampu bertarung dengan pembalap papan atas. Pemasangan seamless gearbox di GSX-RR sangat membantu mengatasi kelemahan Suzuki musim lalu yang selaku kalah akselerasi dari Honda, Ducati dan Yamaha. Power GSX-RR juga sudah mumpuni bersaing dengan motor pabrikan lain, sesuatu yang hanya mimpi musim lalu. Yang jelas, Suzuki dan Vinales menjadi buah bibir musim ini.

Kelima, gebrakan Redding dan Ducati. Faktor kelima ini sebenarnya muncul ketika di pre season November lalu, laju Redding bersama tim barunya Octo Pramac Racing sempat menjadi yang tercepat saat tes privat di Jerez. Jelas, menjadi yang terkencang saat nyaris seluruh tim ikut tes akan memunculkan optimisme baru, rasa penasaran baru sejauh apa progress Redding dan Ducati musim nanti. Sayang, sepanjang 7 seri pertama ini justru antiklimaks dialami Scott Redding. Jangankan menjadi yang tercepat atau setidaknya bertarung di barisan depan, kegagalan justru menghiasi Redding. Tercatat 3 kali masing-masing di Argentina, Prancis dan Italia Redding gagal finish. Posisi terbaiknya hanya finish keenam di Austin dan kesepuluh di Qatar. Seri Spanyol (Jerez dan Catalunya) finish di luar 15 besar. Jelas, siapapun yang menunggu kiprah Scott Redding musim ini akan kecewa dengan capaian pembalap Inggris itu. Namun, tim satelit Ducati justru secara umum mengalami peningkatan performa. Hector Barbera, Eugene Laverty, Michael Pirro hingga Danilo Petrucci menjadi kuda hitam musim ini.

Keenam, Stoner turun gunung? Jawabannya belum! Banyak pengamat memprediksi Ducati akan memberikan jatah wild card untuk balapan kepada eks juara dunianya itu saat seri Philip Island nanti dimana di trek ini Stoner mendapat julukan King of Philip Island karena selalu menang saat masih aktif membalap. Kita tunggu saja hingga akhir musim nanti, kapan dan dimana Stoner akan turun gunung atau jangan-jangan hanya akan menjadi test rider murni saja. Yang jelas hingga seri ketujuh Catalunya, Stoner masih belum muncul untuk bersaing dengan Rossi, Marquez, Lorenzo dan pembalap lainnya di lintasan.

Nah, itu tadi enam hal yang paling ditunggu di MotoGP 2016. Sebagian besar sudah bisa tersaji, ada yang positif namun ada juga yang justru dibawah ekspektasi. Sebenarnya satu hal lagi yang menarik untuk ditunggu selain kapan dan dimana Stoner turun gunung, yakni bagaimana hubungan Rossi dan Lorenzo setelah Rossi berdamai dengan Marquez. Demi tontonan dan sumber berita yang melimpah, sebaiknya Rossi dan Lorenzo tetap begini saja hubungannya. #menyeringai #tertawasinis

Advertisements

Comments are closed.