Komponen-Komponen Yang Membuat R25 & MT25 Harus Direcall

image
Yamaha R25 terkena recall

Tulisan kali ini lebih sebagai arsip pengetahuan RA saja bro, jadi akan ada paragraf full copas dari sebuah media online. Yakni soal recall dua jenis motor seperempat liter Yamaha, R25 dan MT25. Komponen apa saja sih yang membuat ‘si kembar beda baju’ harus dilakukan penarikan kembali oleh pabrikan?

Berikut kutipan penuh dari KompasOto yang dipublish Selasa, 21 Juni 2016, cekidot:

Bearing  (R25 dan MT25)

Pada produk ini, permasalahan yang dialami ada pada desain bearing pada tutup rumah kopling, di mana desainnya tidak cukup kuat untuk menahan beban saat pengoperasian kopling. Kemungkinan terburuknya, bearing bisa rusak dan sepeda motor akan terkndala ketika digunakan, seperti misalnya sulit memindahkan gigi tranmisi.

Perbaikannya, bearing dengan spesifikasi baru digunakan untuk mengganti yang lama. Di mana dimensi bearing lama yang berukuran 24 akan berubah menjadi ukuran 28.

Gear pompa oli (R25 dan MT25)

Sebenarnya yang bermasalah bukan pompa oli secara keseluruhan, tetapi hanya pada bagian gear oil pump-nya saja (roda gigi resin di oil pump). Kendalanya, komponen tersebut memiliki relief valve yang kurang tepat, sehingga menyebabkan tekanan oli tidak tersirkulasi dengan baik.

Kemungkinan terburuk dari masalah ini, gear pompa oli bisa pecah, dan menyebabkan pelumasan mesin terganggu. Perbaikannya yaitu dengan mengubah desain relief pada bagian pompa oli.

Selang Rem (Khusus MT 25)

Khusus MT 25, ada perbaikan yang sifatnya menambahkan, khususnya pada front brake house. Salah satu komponennya (selang rem) itu posisinya bergesekan dengan radiator, bisa jadi dikarenakan proses pemasangan melintir, sewaktu produksi.

Deskripsinya, posisi selang rem depan telalu dekat dengan radiator, dan ini bisa menyebabkan selang rusak karena tergesek dan bisa juga membuat fungsi pengereman teganggu. Perbaikan dilakukan dengan penambahan pengikat khusus pada selang rem depan.

image
Gear oil pump yang bermasalah
image
Selang rem MT25 terlalu dekat dengan radiator

Jadi tahu, berarti ada 3 komponen MT25 dan 2 komponen R25 yang bermasalah. Bearing, gear pompa oil dan khusus MT25 pengikat selang rem. Kali aja ada rejeki nemplok hingga bisa beli salah satu dari keduanya, jadi pengetahuan semacam ini diperlukan sekali.

Yang menarik untuk dibahas dari kasus recall R25 dan MT25 ini selain pertama kali di Indonesia ada kampanye recall terbuka dari sebuah pabrikan, juga soal sebuah lembaga khusus yang bisa menentukan apakah sebuah produk harus direcall atau tidak. Di Indonesia lembaga semacam ini tidak ada, kalaupun ada tidak terdengar kinerjanya. Di Amerika sana ada yang namanya NHTSA.

image
Beberapa varian yang harus direcall

Kasus recall R25 dan MT25 pertama kali disuarakan di Jepang sana. Pihak otoritas setempat mengumumkan bahwa kedua produk kuda besi itu harus dilakukan penarikan kembali karena ada beberapa komponen motor yang bermasalah. Akhirnya, Yamaha Pusat di Jepang mengumumkan recall, dan mau tidak mau Yamaha Indonesia juga harus melakukan hal yang sama. Maklum, kedua produk itu dibuatnya di sini. Pertanyaan selanjutnya adalah andaikan Yamaha Jepang belum menemukan kerusakan komponen dua kuda besi (belum lho ya padahal memang ada misalnya) apakah Yamaha Indonesia akan menemukan kerusakan itu lebih dulu dan segera mengajukan recall ke Yamaha Jepang sebagai pusat mereka?

RA koq yakin hal itu tidak akan terjadi. Ya menemukan kerusakan lebih dulu, ya melakukan recall. Mengapa, karena di sini tidak ada lembaga atau badan pemerintah yang konsisten melakukan pengujian sebuah produk demi keselamatan konsumen. Atau lembaga yang menerima pengaduan dari konsumen terkait permasalahan teknis sebuah motor dan punya kekuasaan untuk menentukan recall atau tidak terhadap kasus tersebut. Tidak ada… Jika anda menyebut YLKI, nonsens! Hanya lembaga tempat mengadu, tak lebih!

image
MT25 juga direcall

Jadi, pabrikan tidak punya lembaga kontrol atas produk-produk yang telah dihasilkan dan digunakan di masyarakat. Akibatnya, andaikanpun ada kerusakan teknis atau cacat produksi sebuah produk yang berpotensi membahayakan konsumen, mana mau pabrikan bertanggung jawab. Pun ketika konsumen menuntut kejelasan, akhirnya pabrikan akan menyebutnya sebagai human error. Konsumen lemah posisinya di hadapan produsen.

Inilah Indonesia!

Advertisements

Comments are closed.