“Pemudik Meninggal Bukan Karena Macet, Tapi Penyakit!”, Waduh Koq Bisa? 

Kematian pasti akan menghampiri siapapun yang hidup. Banyak penyebab orang meninggal dunia seperti karena kecelakaan, tua hingga disebabkan karena penyakit. Yang pasti, Allah SWT akan mencabut nyawa hambanya yang bernyawa dengan berbagai cara. Nah, apa hubungan kalimat pembuka di atas dengan ‘kasus’ terkini tentang kematian 12 pemudik akibat macet horor di Brebes dalam arus mudik tahun ini?

Seperti yang pernah ditulis di blog ini tentang tragedi macet di Brebes, Jawa Tengah saat berlangsung arus mudik lebaran 2016, ada 12 pemudik yang harus meninggal dunia sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari kemacetan parah hingga berpuluh-puluh jam lamanya. Sontak, banyak pihak langsung menanyakan kinerja pemerintah dalam menghadapi agenda rutin mudik-balik. Padahal, beberapa bulan sebelumnya saat libut natal 2015 dan tahun baru 2016 tanda-tanda kemacetan parah sudah terlihat, namun nyatanya di arus mudik Juli ini malah semakin parah. Pemerintah seperti tidak belajar dari kejadian sebelumnya. Tidak ada jalan keluar yang bisa diberikan hingga akhirnya nyawa menjadi taruhannya. Lalu bagaimana tanggapan pemerintah tentang kejadian ini!?

Pihak yang paling bertanggung jawab dengan kelancaran arus mudik dan balik lebaran adalah Kementerian Perhubungan. Namun, komentar sang menteri rasa-rasanya bukan memberikan ketenangan atau solusi mengatasi kemacetan yang masuk kategori horor itu. Menhub Ignstius Jonan justru menyalahkan penyakit sebagai penyebab kematian korban. Seperti kutipan dari Detikcom berikut:

“Orang meninggal bisa dengan cara macem-macem. Kalau ada yang mengutip ada yang meninggal karena macet kok saya baru tau ini seumur hidup saya? Begini, kalau tidak mengidap penyakit sebelumnya, saya kira enggak akan meninggal,” ujar Menhub Ignasius Jonan di sela menghadiri open house di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (6/7).

What the he*ll?!?!

Bagaimana mungkin setingkat menteri yang jelas sudah mengenyam pendidikan tinggi bisa berkata begitu. Memang benar, penyakit bisa menyebabkan kematian. Namun, perlu diingat juga penyakit bisa muncul karena ada pencetusnya atau penyebabnya. Bisa saja seseorang memang punya penyakit bawaan, namun penyakit itu tidak akan responsif jika kondisi lingkungan baik-baik saja. Nah, ini dengan macet hingga 20 jam, jangankan yang punya penyakit bawaan, yang sehat saja bisa jadi akan drop kondisinya.
Seperti yang dikatakan Kadis Kesehatan Kabupaten Brebes Sri Gunadi bahwa kondisi stress akibat mengalami kemacetan hingga 20 jam akan membuat kondisi seseorang drop.

“Karena mungkin yang jelas sudah punya penyakit bawaan, kemudian diikuti perjalanan yang begitu bikin stres orang lebih dari 20 jam ke atas dari Jakarta sampai Brebes,” ujar Sri

Logikanya begini, oke si A punya penyakit bawaan. Dia tetap mudik dengan harapan dalam 10 jam bisa sampai kampung halaman kemudian istirahat cukup untuk memulihkan kondisinya. Namun, ternyata di jalan macet menyebabkan perjalanan menjadi 30 jam, ternyata sebelum sampai kampung si A sudah meninggal akibat penyakitnya muncul selama menunggu traffict lancar kembali. Masihkah menyebut kemacetan tidak dapat menyebabkan kematian? Pak menteri… Oh pak menteri… Empatimu itu lho kemana. Andaikan kejadian di atas terjadi di Jepang, saya jamin anda akan mengundurkan diri. Tapi, sayangnya ini Indonesia… Negara yang pejabatnya seringkali tidak mau mengakui kesalahannya.

Minal Aidzin wal Faidzin…

Advertisements

3 Comments

Comments are closed.