Mimpi Itu Bernama Suzuka Endurance!

Impian negeri ini untuk menyaksikan pembalap kebanggaan berlaga di ajang sekelas MotoGP terus dipelihara walau masih belum juga menemukan bakat sekelas berlian. Sempat muncul Doni Tata hingga terakhir nama Rafid Topan mencoba peruntungan di kelas bawah MotoGP, namun hingga akhir karir mereka hanya sebatas penggembira. Prestasi masih jauh dari yang diharapkan. Namun, kini mimpi itu kembali menyeruak. Alasannya adalah Suzuka Endurance; Suzuka 4 Hours dan Suzuka 8 Hours!

Yup, di kedua ajang balap ketahanan tersebut ada nama Indonesia yang mewarnai. Bahkan, di Suzuka 4 Hours, keterlibatan pembalap Indonesia bukan sebatas penggembira namun sukses menjadi yang tercepat dan terkuat. Betul, dua pembalap muda Rheza Danica dan Irfan Ardiansyah yang tergabung dalam tim Astra Honda Racing Team (AHRT) berhasil menjuarai balapan ketahanan 4 jam itu menyisihkan puluhan pembalap dunia lainnya. Irfan dan Rheza sukses melahap 580 km lintasan Suzuka selama 4 jam tanpa melakukan kesalahan. Bendera merah putih berkibar tertinggi di Jepang.

Tidak kalah mentereng apa yang diberikan Dimas Ekky Pratama bersama timnya Satu Hati Honda Team Asia di balapan ketahanan yang lebih ekstrem lagi, Suzuka 8 Hours. Walau bukan yang tercepat secara overall, namun Dimas mampu menjadi pembalap Honda tercepat di ajang yang dimenangi pembalap MotoGP Pol Espargaro dkk dari tim Yamaha Racing.

Dimas Ekky Pratama dan Muhammad Zaqhwan Zaidi (Malaysia) finis di urutan kedelapan setelah melalui 212 putaran dan melakukan delapan kali pit stop. Mereka start dari urutan ke-11. Hebat bukan. Balapan 8 jam hanya dengan 2 pembalap (satu pembalap lainnya Wilairot mengalami cedera) mampu bertahan sekaligus yang tercepat bahkan dari pembalap Honda sekelas Nicky Hayden dan Michael van der Mark!

Raihan Irfan, Rheza dan Dimas memang bukan di level MotoGP, namun kemenangan dan prestasi mereka menghadapi pembalap-pembalap level dunia merupakan pembentukan mental juara yang bagus. Mental tidak mau kalah dengan yang lain. Apalagi mereka sudah meraihnya di usia belia. Dimas berusia 24 tahun, bahkan Irfan dan Rheza masih 16 dan 17 tahun. Usia yang sangat ideal untuk terus bermimpi berlaga di MotoGP.

Mereka sudah on the track untuk menuju MotoGP, sudah seharusnya mereka terus mengasah skill dan kemampuan di level kompetisi yang lebih tinggi dan konsisten. Eropa menjadi destinasi yang pas. Honda atau Pemerintah harus mulai serius mengarahkan mereka ke MotoGP dengan memberi support sepenuhnya. Biaya memang tidak akan sedikit, namun hal itu akan terbayar seluruhnya ketika di starting grid MotoGP (minimal Moto3 atau Moto2) ada nama mereka.

RA iri dengan kesuksesan Malaysia menempatkan tidak hanya satu atau dua pembalap di Moto2 dan Moto3. Bahkan pembalap negeri jiran itu tidak hanya sekedar numpang mentas, seorang Khairul Pawi bahkan sudah dua kali merebut podium tertinggi. Dengar-dengar pemerintah Malaysia sangat total mensuport para pembalapnya untuk berlaga di kompetisi dunia sekelas MotoGP. Mereka memang belum mempunyai wakil di kelas MotoGP, namun jalan ke arah sana sudah mereka buka lebar-lebar.

Mereka bisa, kita harusnya lebih bisa lagi!

Advertisements

Comments are closed.