AISI Nilai Motor Listrik Tidak Cocok Di Indonesia, Dasar Kacung!

Menarik sekaligus miris saat membaca sebuah berita di detikoto tentang motor listrik di tanah air. Menarik sebab topiknya tentang motor listrik yang ternyata Honda juga mulai melakukan uji coba motor listriknya yang setara 50 cc motor konvensional, miris karena seperti ada sebuah “misi” untuk mengganjal kreativitas anak negeri.

Di berita tersebut disebutkan komentar AISI (Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia) yang mengatakan bahwa motor listrik tidak cocok di Indonesia. AISI melalui Gunadi menyebut infrastruktur di Indonesia belum memadai serta jarak tempuh motor listrik yang sangat pendek. Bahkan Gunadi menyebut pengadaan motor listrik akan membutuhkan biaya sangat mahal sebab harus menciptakan infrastruktur listrik di banyak tempat. (silahkan klik di sini untuk berita lengkapnya).

Entah, apa yang ada di otak para petinggi AISI ini. Ketika anak negeri ini hendak melangkah maju dengan berinovasi selangkah di depan, mereka justru kontraproduktif dengan membuat sebuah opini yang melemahkan semangat. Apakah AISI takut jualan mereka akan tersaingi dengan adanya motor listrik? Kalau jawabannya iya, sorry to say AISI sangat picik pikirannya.

Betul, core mereka adalah bisnis. Bisnis tetap bisnis, mencari keuntungan sebesar-besarnya. Kalau perlu mematikan kompetitor sebelum mereka berkembang. Dan, ini nampaknya yang tengah mereka lakukan dengan motor listrik ini. Mereka lupa bahwa yang mereka “perjuangkan” selama ini di organisasi bernama AISI adalah kepentingan asing. Kepentingan para ATPM asing yang terus mengeruk rupiah demi rupiah negeri ini untuk di bawa ke negeri asal ATPM tersebut. Mereka lupa bahwa mereka adalah warga negara Indonesia yang lahir, besar dan mungkin mati juga di negeri ini. Mereka melupakan identitas kebangsaannya hanya demi gelontoran rupiah pembela asing. Jadi, wajar ketika ada kreativitas anak negeri mulai muncul dan menghadirkan ancaman bisnis, mereka langsung kembangkan opini negatif. Tujuannya cuma satu agar negeri ini tidak bisa mandiri, tidak bisa maju dan terus menjadi kacung di negerinya sendiri. Mereka tidak sadar kalau mereka telah menjadi kacung asing selama ini.

Beberapa waktu lalu, dunia otomotif roda dua tanah air dikejutkan dengan inovasi Garasindo dan ITS yang ternyata telah menghasilkan purwa rupa motor listrik komplit yang mereka beri nama GESITS. Tanpa disangka-sangka calon motor listrik produksi mereka telah dipamerkan di IIMS 2016 Mei lalu sudah dalam paket siap produksi massal dan siap jual. Tentu saja ini sebuah kebanggaan. Namun, ternyata di sisi lain ini juga adalah ancaman besar bagi pelaku bisnis motor konvensional saat ini. Bisa ditebak merekalah yang disebut gerombolan AISI.

Sungguh tidak habis pikir bagaimana mungkin mereka bisa mengambil kesimpulan bahwa motor listrik tidak cocok di Indonesia hanya gara-gara katanya infrastruktus listrik di sini tidak ada. Men… Dulu ketika motor-motor Jepang pertama masuk di mari apa iya SPBU sudah ada sebanyak saat ini? Mikiirr…. Lagipula, apa susahnya hanya ngecharge sebuah motor listrik ketika di rumah kita masing-masing sudah tersambung jaringan listrik PLN? Mikiirrr…

Jangan-jangan mereka belum tahu kalau GESITS diklaim bisa menempuh jarak 80-100 km untuk sekali charge batere lithium yang hanya butuh waktu 1,5-3 jam pengisian sampai full. Masih cari alasan apa? Kurang jauh apa 80-100 km motoran? Mikiiirrr…

Jangan-jangan ketika salah satu anggota mereka memperkenalkan motor listriknya waktu itu hanyalah akal-akalan agar masyarakat bisa dibodohi. Mereka menyebut motor listrik punya jangkauan tempuh pendek. Ya iyalah sebab yang mereka jadikan acuan dan patokan adalah motor listrik “si EVI” yang hanya setara 50 cc motor konvensional. Tidak heran kalau kesimpulan mereka begitu, motor listrik kecil jarak tempuh hanya 34 km full charging 3,5 jam. Penggiringan opini masyarakat agar menilai motor listrik tidak cocok di mari. Kalian memang kejam… Dengan negeri sendiri kalian tega membiarkannya tetap jadi kacung asing. Apa bedanya dengan pengkhianat bangsa?

Pantas saja ketua Garasindo mencak-mencak dengan komentar AISI tersebut.

Berikut curahan hati CEO Garansindo Muhammad Al Abdullah:

Yth Bapak Ketua dan para pejabat AISI.

Membaca komentar para pejabat AISI (Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia) di beberapa media, terkait sepeda motor listrik, dan juga mencermati manuver yang dilakukan baik dari salah satu anggota AISI maupun secara kumulatif, izinkan kami memberikan saran.

Sebaiknya para pejabat dan anggota AISI tidak perlu panik atas respons masyarakat yang begitu besar antusiasmenya kepada sepeda motor listrik, akan lebih bijaksana dan elegan apabila AISI bisa berlapang dada untuk menerima kenyataan bahwa masyarakat Indonesia sudah cukup cerdas untuk sadar akan kemajuan teknologi dan kesadaran atas pencemaran polusi yang sudah sangat rawan.

Maka akan percuma apabila AISI terus berusaha melawan arus karena hanya untuk kepentingan bisnis sesaat. Sadar, terima dan dukunglah:

1. Indonesia sudah sangat membutuhkan sepeda motor listrik dan tidak bisa dibendung.
2. Dukung kemampuan anak bangsa untuk bisa memaksimalkan keahliannya.
3. Bantu pemerintah kita untuk mewujudkan ekonomi mandiri
4. Berbuat lah suatu hal yang bisa anda banggakan untuk anak dan cucu atas peranan anda memajukan bangsa dan tanah air Indonesia kita.

Salam hormat dan merdeka!

Oke, mungkin kalian yang pro AISI akan beropini “ah itu karena Garasindo sudah investasi besar-besaran agar balik modal”. Oke, anggap saja opini kalian memang benar, Garasindo telah investasi besar di proyek GESITS. Tapi, coba kita berpikirnya dalam kerangka kebangsaan, nasionalisme dan masa depan. Andaikan GESITS sudah diproduksi dan dijual massal, tentu saja ini akan menjadi semacam katalis bagi kreator dan inovator anak negeri untuk berlomba-lomba menelurkan ide-idenya sehingga akan makin banyak produk-produk buatan anak negeri yang akhirnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Andaikanpun GESITS nanti gagal dalam perjalanannya (semoga saja tidak) tetap saja itu akan menjadi sebuah lecutan semangat bahwa kita juga bisa menciptakan produk yang fungsinya sama dengan produk current milik asing, hanya saja perlu penyempurnaan.

Ayolah, bangun kalian para petinggi AISI. Kalian ini hidup, bernafas, makan dan beol di negeri sendiri, negeri Indonesia tempat kalian dilahirkan. Mengapa hanya demi gelontoran rupiah dari pihak asing kalian membutakan mata dan hati kalian. Bangun bro… Kalian belum merdeka tuh!

Contact me on:
Whatsapp +628 77 1 2727 000
Email karis.nsz@gmail.com
LinkedIn Karisma Perdana
Facebook Fanspage rideralam

Advertisements

3 Comments

Comments are closed.