Legenda MotoGP Ini Sebut Valentino Rossi Memang Pembalap Agresif…

Randy Mamola sebut Valentino Rossi pembalap agresif

Nampaknya apa yang terjadi antara Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi di MotoGP San Marino kemarin juga menjadi perhatian mantan pembalap MotoGP, dan salah satu legenda MotoGP asal Amerika Serikat, Randy Mamola. Mamola menyebut seorang pembalap MotoGP memang harus agresif dan Valentino Rossi termasuk di dalamnya. Mamola juga menyebut jika Lorenzo menyalahkan Rossi atas manuvernya, maka Ia juga harus menyalahkan Dani Pedrosa yang menjadi pemenang di Sirkuit Marco Simoncelli itu. Lho koq?

Suasana konferensi pers pasca race San Marino

Lorenzo melakukan protes kepada rekan setimnya karena dianggapnya terlalu agresif saat menyalipnya, namun Rossi secara langsung menolak tuduhan itu. Kejadian adu mulut dua pembalap Movistar Yamaha itu terjadi saat press cenference pasca race, Minggu (11/9).
Setelah Carlo Pernat angkat suara dengan menyebut Lorenzo sebagai penjahat MotoGP, Randy Mamola nampaknya juga gerah untuk tidak bersuara. Pembalap yang pernah membela Suzuki, Honda dan Yamaha itu menganggap Lorenzo salah telah menyalahkan rekannya. Jika itu pendapat Lorenzo, maka Ia juga harus menyalahkan Dani Pedrosa yang memenangi race usai menyalip dirinya dan Rossi.

Seorang pembalap apalagi sekelas MotoGP memang harus agresif sebab pembalap tidak boleh memiliki mental “mengalah” saat race berlangsung.

“Apa yang dilakukan Rossi saat overtaking Lorenzo memang sebuah aksi yang agresif. Namun, hal itu memang harus dimiliki seorang pembalap top MotoGP saat ini,” ujar Mamola seperti dikutip dari Okezone yang dilansir Motorsport, Kamis (14/9).

“Jika Lorenzo menyalahkan Rossi atas aksinya tersebut, maka Ia juga harus menyalahkan Dani Pedrosa yang juga melakukan overtaking kepada dirinya dan Rossi untuk menjadi pemenang di San Marino,” tutup Mamola.

Wew… Makin terdesak saja nih si Lorenzo. Banyak orang yang menganggap opininya soal manuver Rossi terlalu berlebihan. Nampaknya, Lorenzo memang terbiasa dengan sebuah balapan yang menurut pikirannya serba bisa dikontrolnya. Jadi, ketika ada sesuatu “di luar prediksinya” terjadi di lintasan, dan dianggap merugikannya, maka Ia akan cenderung berkeluh kesah dan protes. Sebuah sikap dan mental yang harus segera dihilangkan dari diri Lorenzo yang membuatnya makin tidak populer di kalangan pemerhati MotoGP. Boleh jadi dengan insiden ini, Ducati lah yang ketar-ketir sebab mulai musim depan sifat dan karakter Lorenzo tersebut akan menjadi menu harian mereka hehehehe

Randy Mamola

Mamola dilahirkan di San Jose, California 10 November 1959. Ia memulai karir MotoGP di kelas 250 cc tahun 1979 saat bergabung dengan Bimota-Yamaha. Debut di kelas premier 500 cc juga terjadi di tahun yang sama saat menggeber mesin RG500 Suzuki dan sempat menjadi runner up di seri Finlandia dan Prancis. Di klasemen akhir, pembalap berjuluk Baby Kenny, merujuk pada kemiripannya dengan style balap Kenny Roberts Senior, berada di posisi 8 dengan 29 poin. Mamola bersama Suzuki hingga 1983. Sepanjang 5 tahun bersama Suzuki, Mamola memenangi 8 seri kelas 500 cc dan prestasi tertingginya menjadi runner up kejuaraan di musim 1980 dan 1981.

Tahun 1984, Mamola hijrah ke HRC Honda untuk menunggangi NS500 dan NSR500. Di musim debutnya tersebut Mamola langsung berada di posisi kedua klasemen akhir swtelah memenangi 3 seri. Dua musim bersama Honda, Mamola mengoleksi 4 kemenangan.

Tahun 1986, Mamola hengkang ke Yamaha bergabung dengan tim Lucky Strike-Yamaha untuk dua musim. Prestasi tertingginya menggeber YZR500 adalah kembali menjadi runner up di tahun 1987. Dua tahun di Yamaha, Mamola mengoleksi 4 kemenangan.

Tahun 1988 Mamola pindah lagi ke tim Cagiva. Tiga musim menunggangi GP500, Mamola mengalami penurunan prestasi. Posisi klasemen tertingginya hanya di peringkat 12 pada musim debutnya bersama tim asal Italia itu dan terus menurun. Tahun 1991 Mamola tidak bergabung dengan tim manapun alias menganggur sebelum bergabung dengan tim Budweiser-Yamaha tahun 1992.

Sayang, di musim itu prestasi Mamola cenderung sudah mentok dan hanya mengakhiri kompetisi di posisi 10 dengan 45 poin saja. Selepas musim tersebut, Mamola memutuskan pensiun.

Contact me on:
Whatsapp +628 77 1 2727 000
Email karis.nsz@gmail.com
LinkedIn Karisma Perdana
Fanspage Facebook rideralam

Advertisements