Hari Santri Nasional Di Mata Menpora Imam Nahrawi

image

Hari santri menjadi sebuah penghargaan besar santri di Indonesia terhadap perjuangannya membela tanah air. Santri, adalah bagian dari perputaran zaman yang terus berkreatifitas, inovasi dan kemampuan berdaya saing bagi siapa pun.

Hadratus Syeikh Kyai Hasyim Asyari mengajarkan membela Tanah Air hukumnya wajib. Maka santri turut andil menjaga kedaulatan Bangsa dan Negara. Dulu pasca kemerdekaan 17-8-1945, Santri dengan keyakinan total berjuang membela tanah air melawan penjajah yang berusaha merebut kemerdekaan. Surabaya adalah saksi dimana para Santri berkontribusi menjaga kedaulatan NKRI. Puncaknya 10 Nopember 1945 terjadi pertemuran melawan penjajah.

Generasi saat ini harus menauladani apa yang telah dilakukan oleh Santri Indonesia ketika itu. Lalu apa yg harus kita lakukan sekarang?

Tahun 2015 pengguna narkoba di Indonesia mencapai angka 5,9 Juta Jiwa. Angka yang tidak sedikit dan merusak mentalitas bangsa. Santri, mendapat dasar tidak hanya ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu agama, tentu memiliki dasar kuat untuk berantas peredaran Narkoba. Bappenas memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia tahun 2035 kisaran 305,5 juta. Lapangan kerja harus tercipta, Kewirausahaan Santri sebagai solusi.

Di dunia Olahraga, Liga Santri Nasional, berikan gambaran Santri merupakan bibit-bibit pemain sepak bola profesional. Santri punya daya saing. Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 menyatakan bahwa  “membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu ’ain bagi tiap individu”

22 Oktober dipilih sebagai untuk mengenang Resolusi Jihad yang dikeluarkan ulama NU di bawah komando KH Hasyim Asy’ari. Dipimpin KH Abbas dari Buntet Cirebon, Laskar Hizbullah aktif dalam pertempuran 27-29 Oktober yang menewaskan Jenderal Mallaby. Tewasnya Mallaby mengejutkan. Pemenang Perang Dunia kehilangan Jenderal pada pertempuran skala kota. Peristiwa 10 November yang menjadi Hari Pahlawan.

Sudah saatnya #HariSantriNasional digunakan untuk merefleksikan ulang makna jihad untuk situasi kontemporer ke-Indonesia-an kita hari ini. Etos jihad santri berdiri 3 pilar: Nahdlatul Wathan (kebangsaan), Tashwîrul Afkâr (ke-cendekia-an), dan Nahdlatut Tujjâr (kemandirian).

Pilar kebangsaan (Nahdlatul wathan) perlu dihidupkan di tengah faham fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar yang menggejala.

Pilar ke-cendekia-an (Tashwîrul Afkâr) diperkuat karena khazanah intelektual pesantren modal tak ternilai bagi kebangkitan Islam masa depan

Pilar kemandirian (Nahdlatut Tujjâr) harus disemai agar santri dapat memberi sumbangsih dalam penemuan-penemuan ilmiah, inovasi sains dan teknologi.

Jihad santri sekarang adalah perang kebodohan dan mengintegrasikan penguasaan ilmu duniawi dan ukhrawi. Supaya santri dapat menjawab tantangan zaman. Inilah peran penting santri di zaman sekarang. Mengajarkan Islam yg ramah, bukan Islam yang marah, Rahmatan lil Alamin.

Selamat merayakan #HariSantriNasional

Berdasar Kepres Nomor 22 Tahun 2015 #HariSantriNasional dirayakan tiap 22 Oktober!

Copas dan edit singkatan kata dari @Imam_Nahrawi

Contact me on:
Whatsapp +6287712727000
Email karis.nsz@gmail.com
FB Fanspage @rideralam

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*