Usai Malaysia, Giliran Singapura Stop Gelar F1… Waduh, Makin Suram Nih!

image

image

Ajang balap mobil paling terkenal di antero jagad, Formula One atau disingkat F1 makin tergerus kepopulerannya. Indikasinya adalah beberapa negara penyelenggara mulai memikirkan untuk tidak lagi menyediakan tempat dan waktu untuk F1 di negeri masing-masing. Terdekat dengan Indonesia, Malaysia sudah menyatakan tidak akan memperpanjang kontrak dengan konsorsium F1 yang akan berakhir 2018 nanti.

Jumlah penonton yang terus merosot, musim 2016 ini bahkan menjadi yang terendah sejak F1 pertama kali diselenggarakan di Sepang tahun 1999 silam, menjadi alasan utama penghentian kerjasama. Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Khairy Jamaludin, mengatakan bahwa biaya mahal penyelenggaraan F1 tidak sebanding lagi dengan pemasukannya sembari menyebutkan jumlah biaya sekali menyelenggarakan F1 yakni 300 Juta Ringgit setahun yang tidak bisa kembali sejumlah itu.

Selain itu, ketiadaan pembalap lokal Malaysia yang menembus kockpit mobil-mobil F1 juga menjadi alasan lain.

Setelah Malaysia, Singapura juga akan menghentikan penyelenggaraan F1 di negerinya. Jika Malaysia masih di tahun 2019 benar-benar stop jadi tuan rumah, Singapura justru akan memulainya musim depan alias tahun 2017.

Bernie Ecclestone yang pertama kali mengatakan keengganan Singapura melanjutkan kontrak dengan pihak F1. Ecclestone menyebut Singapura sudah mendapat apa yang diinginkannya dari pagelaran F1 di negeri mungil itu.

“Singapura tiba-tiba telah menjadi lebih dari sekadar Bandara untuk disinggahi ke atau dari suatu tempat. Sekarang mereka percaya mereka telah mencapai tujuannya dan mereka tidak ingin menggelar grand prix lagi”, ujar Ecclestone.

Sejak pertama kali menggelar ajang F1 tahun 2008, Singapura memang telah memberi nuansa baru. Salah satunya adalah night race alias balapan malam yang digelar di sirkuit jalan raya.

Kabarnya, masih menurut Ecclestone, selain Malaysia dan Singapura yang 99% tidak akan melanjutkan kontrak dengan F1, beberapa negara lain juga tengah bimbang untuk melanjutkan kerjasama. Sebut saja Kanada, Brazil dan Jerman yang tengah dipertanyakan komitmennya.

Wah, jika tidak ada perubahan signifikan dari balapan F1 termasuk regulasi, sponsorship dan lainnya, bisa jadi F1 akan makin kalah populer dari MotoGP. Pembatasan budget tim selama semusim dengan maksud agar tim-tim kecil bisa bersaing adalah salah satu penyebab merosotnya popularitas F1.

Masih ingat di akhir 90an popularitas MotoGP justru masih di bawah F1. Rivalitas Ferrari dan McClaren (kala itu masih berkolaborasi dengan Mercedes), khususnya Michael Schumacher vs Mika Hakkinen atau Schummi vs David Coulthard hingga Schummi vs Kimi Raikkonen sangat menarik untuk disaksikan. Walaupun Schummi mendominasi, namun tontonan 70 lap balap jet darat terasa tidak membosankan layaknya saat ini.

Tapi, ada baiknya juga nih Malaysia dan Singapura undur diri, berarti Indonesia punya peluang untuk menjadi penyelenggara balap F1 ke depannya, tentu saja setelah kita punya sirkuit yang grade A. Semoga saja ketika itu sudah tercapai, greget F1 sudah kembali seperti masa jayanya dulu. Bakal dijual berapa juta ya tiketnya nanti?

Credit: dapurpacu

Advertisements

7 Comments

  1. jaman-jaman kerennya F1 tu
    1998 = Hakkinen vs Schumacher
    1999 = Hakkinen vs Schumacher
    2000 = Schumacher vs Hakkinen
    2001 = Ferrari vs McLaren vs Williams
    2002 = Montoya outperformed Ralf
    2003 = Fernando Alonso & Suzuka GP
    2004 = Dominasi Ferrari
    2005 = Fernando Alonso & nggak ganti ban
    2006 = Schumacher pensiun
    2007 = Kimi Raikkonen & McLaren’s clash
    2008 = Lewis Hamilton & Sebastian Vettel.

    setelah itu F1 SAMPAH.

  2. sebenernya yang di lombakan di F1 itu apa sih? klo LeMans dan DTM ketahuan, RnDnya bisa di aplikasikan ke mobil jalanan, sampe Hybrid, bahan bakaEco Freindly seperti Ethanol ada, malah ada kelas berbasis mobil jalanan lagi di dua laga itu. F1? klo motor jelas, mau motogp, mx, apalagi superbike sedikit atau banyak ada yang di aplikasikan ke motor masal, setidaknya ke motor gede mereka. F1?

    klo regulasinya F1 di rubah jadi bentuknya harus menyerupai mobil supercar dengan kokpit bisa untuk 2 orang tapi pembalapnya bisa milih nyetir di sisi kiri atau kanan (preferable driver seperti lemans), mungkin lebih rame dan sponsor punya banyak tempat untuk nempel stikernya di mobil karena faktor kedekatan emosional menurut saya berpengaruh…

    seperti jaman peugeot 206 di WRC, walaupun konsumen tau mereka di kibulin karena mesinnya gak 2000 cc turbo awd kek mobil rally, tetep aja 206 adalah mobil laris di Indonesia, begitu juga Lancer, walaupun yang di Indonesia hanya FWD tetep aja di beli karena ada faktor tu mobil di pake di balap, WRC, touring, hillclimb dsb, apalagi yang namanya Pajero…, walau beda versi yang di lombakan ama yang di jual…

    Klo Motor? jangan tanya, modal merek sama walau metik atau bebek tapi klo di kasih livery balap aja langsung punya nilai tambah yang aduhai…

  3. endonesah fokus di motogp dulu saja..
    yg penting popularitas endonesa bs naik dulu, menaikkan kunjungan wisatawan asing..
    jadi hemat2 dulu sajalah..

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*