"Tahun Depan Rio Akan Bantu Ayahnya di Kantor Kiky"… Sedih Bro!!!

Aksi Rio Haryanto di GP China 2016

Sebenarnya agak sedih juga pas baca sumber artikel ini. Tentang nasib Rio Haryanto di Formula One (F1). Sedih tapi tidak terlalu kaget juga. Rio Haryanto bakal keluar dari dunia gemerlap F1 musim depan.

Sedih sebab talenta seperti Rio harus tersia-siakan karena harus keluar dari dunia yang RA yakin menjadi impiannya sejak lama, Formula One. Oke, di musim perdananya di F1 2016 hasil akhirnya tidak sesuai harapan, banyak yang mencibir juga. Namun, untuk seorang pembalap muda, debut pula, yang datang dari negara dengan tradisi F1 sangat minim (kecuali sebagai penonton) bisa menembus dunia itu plus beberapa kali bisa finish di balapan bukanlah hasil yang buruk. Lumayan, kecuali jika brosis memandangnya dari sisi Nico Rosberg, Lewis Hamilton atau pembalap lain yang memang sudah matang di F1. Pasti tidak akan ada bagusnya seorang Rio!

Sedih karena bakat dan keinginan yang besar untuk mengharumkan nama negaranya di kancah internasional justru tidak mendapat sokongan penuh dari pemerintah. Dana, komponen utama mengarungi F1 bagi seorang pay driver, menjadi handicap terbesar Rio. Padahal, dibanding biaya pilkada yang mencapai triliunan rupiah, 15 miliar yang dibutuhkan Rio kala itu hanyalah butiran debu. Sayang, Pertamina yang memang berhasrat mensupport Rio secara penuh terbentur kendala birokrasi dan sejenisnya. Kemenpora juga terbentur masalah serupa. Jadi punya pikiran buruk, apakah pemimpin negeri ini tidak suka putra terbaiknya berprestasi, namun di sisi lain justru royal dengan hal-hal yang justru tidak jarang menimbulkan keresahan di masyarakat.

Nasionalismenya tidak berbalas

Tidak kaget karena memang selama ini dana yang dimiliki Rio untuk mengarungi semusim penuh F1 sangat terbatas. “Dikeluarkan” dari status sebagai pembalap reguler Manor Racing di pertengahan musim dan turun status menjadi pembalap cadangan adalah kesimpulan dari semua kesulitan Rio selama ini. Status Rio sebagai pay driver memang mengharuskan Ia menyetor sejumlah dana ke tim yang dibelanya. Tidak memalukan, sebab beberapa pembalap tenar saat ini juga pernah melakukannya saat awal-awal karirnya. Sebut saja nama Niki Lauda, seorang legenda F1, Fernando Alonso sang dua kali juara dunia hingga legenda F1 paling kesohor, Michael Schumacher. Bedanya, ketiga pembalap tadi disupport penuh para sponsornya yang tidak lain berasal dari negerinya sendiri. Pascal Maldonado bisa juga dimasukkan ke dalam jajaran pembalap seperti Rio. Hanya, Maldonado didukung penuh perusahaan minyak nasional terbesar di negaranya, Venezuela plus sang Presiden Hugo Chavez! Ingat, dukungannya tidak hanya formalitas ucapan pemberi semangat saja, tapi langsung action memerintahkan perusahaan dalam negerinya mengeluarkan dana. Rio bernasib jelek untuk urusan satu ini.

Michael Schumacher memulai karir hebatnya di F1 sebagai Pay Driver di tim Jordan tahun 1991

F1 musim 2017 tinggal beberapa bulan saja. Peluang Rio untuk kembali berada di balik kockpit mobil jet darat makin tipis. Saat ini hanya ada empat kursi kosong untuk bisa diperebutkan. Mercedes terus mencari pengganti Nico Rosberg yang pensiun, namun jelas di kursi ini pay driver kecil peluangnya untuk masuk, mereka membutuhkan pembalap matang dan berprestasi. Peluang ada di Sauber (1 kursi) dan Manor (2 kursi) tapi dengan kondisi saat ini Rio tidak lagi disupport Pertamina (terkendala deadline pembayaran dari tim yang tidak bisa diikuti Pertamina) akhirnya peluang Rio makin tipis saja. Kalau bisa dibilang 0,01% untuk kembali ke F1. Logikanya, saat masih didukung Pertamina saja masih kesulitan dana apalagi saat tidak ada lagi perusahaan plat merah nasional itu di belakangnya.
Bahkan, kabar dari otomania makin miris saja. Tahun depan Rio “hanya” akan bekerja membantu sang ayah di perusahaan Kiky, demikian yang terlontar dari mulut sang Ibu, Indah Penywati. Kalau ukurannya RA sih kerja di perusahaan sekelas Kiky jelas sebuah keberuntungan, namun untuk seorang Rio Haryanto yang sudah dicetak untuk menjadi pembalap, jelas hal itu sebuah kekecewaan. Tapi, life must go on, hidup harus terus berjalan. Apapun yang dilakukan Rio saat ini dan ke depan, sejarah telah mencatat bahwa dialah Indonesia pertama, merah putih pertama, garuda pertama yang bisa menembus dunia balap roda 4 paling prestisius di kolong jagad, Formula One. Ya, dialah Rio Haryanto. Ikut bangga denganmu, bro! (karismauyy)

Tahun depan talenta muda ini “hanya” akan kerja kantoran
Advertisements

1 Trackback / Pingback

  1. Nico Rosberg Juara Dunia, Tapi Pembalap Terbaiknya Adalah Lewis Hamilton! | rideralam.com

Comments are closed.