Ketika Mulut Lebih Disayang Daripada Otak

Sebenarnya ide ini sudah lama ingin RA tulis, sebab sering banget ketemu di jalanan. Sebuah kondisi dimana biker pakai penutup hidung dan mulut (masker) namun tanpa helm. Sayang, selalu kesulitan untuk mengabadikannya dalam sebuah gambar. Alhasil, artikel ini tanpa gambar sendiri, hanya comot dari mbah gugel.

Paling sering ditemukan pengendara motor model begitu itu anak-anak muda pencari identitas diri (anggap saja abegeh) namun sesekali juga ditemui ibu-ibu muda. Macan ternak gitu, mama cantik anter anak. Entah apa yang mereka pikirkan, lebih melindungi mulut dan hidung namun membiarkan kepala, termasuk otak di dalamnya, dalam kondisi tanpa pengaman.

[display-posts category=”sekitar-kita” posts_per_page=”4″]

Oke, debu bisa diminimalisir masuk melalui mulut atau hidung dengan menggunakan masker, namun apakah itu sebanding jika membiarkan tempurung di bawah kulit dan rambut dibiarkan tanpa pengaman alias helm. Padahal dengan helm fullface seluruh area wajah dan kepala lebih aman terlindungi. Atau, kalau memang fullface bikin ribet, mbok ya lebih prioritaskan helm dibanding masker. Syukur-syukur kalau pakai masker dan pakai helm, jauh lebih aman melindungi tubuh.

Ketika ngobrol dengan teman tentang fenomena di atas, komentarnya menarik. “Itu tandanya orang-orang itu lebih sayang mulut agar bisa bergosip dibanding otaknya untuk berpikir”. Hemmm… masuk akal juga, mereka lebih sayang mulut dibanding otak.
-RA-

Advertisements

Comments are closed.