Fenomena Banci Di Dunia Permotoran, Semua Gara-Gara Konsumen!

Brosis, salah satu tanda kiamat sudah dekat adalah makin banyaknya muncul laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki. Ini sudah sering kita jumpai di kehidupan sekitar kita. Banci bertebaran dimana-mana. Nah, untuk kasus yang berbeda di dunia roda tanah air akhir-akhir ini tengah marak kemunculan “bencong-bencong” motorcycle. Tanda “kiamat?” Jangan terlalu serius lah…

Jadi begini, banci yang dimaksud dengan tanda kutip itu adalah teknologi baru (anggap saja baru muncul di sini) hasil inovasi pabrikan untuk mengakomodir kebutuhan konsumen. Intinya, bencong ini ada karena tuntutan pasar. Apapula ini…

Masih hangat beberapa tahun silam ketika Honda (baca AHM) melakukan inovasi terhadap mesin CBR150R Thailand, kala itu Honda meluncurkan CBR150R baru yang dibuat secara lokal. Karena CBR150R Thai jatuhnya malah di harga jual, Honda melokalkannya agar harga jual kompetitif. Muncullah CBR150R lokal dengan mesin sama-sama DOHC. DOHC rasa baru yakni DOHC overstroke yang kemudian mereka sebut nearsquare.

Dengan DOHC overstroke alias nearsquare CBR150R lokal akhirnya mengikis kelemahan DOHC overbore yakni putaran bawah yang lemot. Dengan nearsquare, DOHC CBR150R lokal mampu bersaing sejak dari putaran bawah (lebih irit) dan tetap punya ciri khas DOHC yang kuat di putaran atas. Inovasi yang akhirnya digunakan di hampir semua produk sport Honda saat ini, khususnya di kelas 150cc. Dan terbukti laris, apapun bullyingnya.

Nah, kalau RA andaikan mesin DOHC ini laki-laki yang gagah, maka dengan nearsquare kegagahan si laki-laki dikurangi menjadi lebih gemulai. Cowok feminim nih bro.

Beberapa tahun kemudian, untuk kasus yang berbeda namun maksudnya sama dilakukan Yamaha. Yamaha selama ini identik dengan motor bermesin SOHC. Sudah pasti overstroke. Galak di putaran bawah, tapi nafasnya pendek di putaran atas. Sport 150cc Yamaha setia dengan tipe mesin ini. Banyak yang menyebut inferior dibanding DOHC namun masih laris juga.

Inovasi dilakukan untuk mereduksi kelemahan SOHC. Hadirlah teknologi VVA atau Variable Valve Actuation. Teknologi ini hadir pertama kali di big scooter NMax. Produk global ini dipersenjatai mesin SOHC khas biasanya namun sudah dicangkokkan teknologi VVA. Hasilnya luar biasa, performa NMax yang memiliki bobot lumayan heavy sama sekali tidak loyo. Putaran bawah oke, kitiran atas panjang.

Dan saat ini hingga ke depan RA memprediksi produk-produk anyar Yamaha khususnya di segmen di bawah 150cc akan menggunakan mesin ini. SOHC with VVA. Mengapa Yamaha melakukan itu?

Sama halnya dengan Honda meng-SOHC-kan mesin DOHC-nya, Yamaha meng-DOHC-kan mesin-mesin SOHC-nya adalah untuk memenuhi keinginan konsumen tanah air yang tidak pernah meninggalkan satu variabel ini setiap membeli motor, power besar namun efisien dalam konsumesi bahan bakar alias irit.

Jika SHOC ini cewek, maka VVA membuat si cewek lebih tomboy. Kelaki-lakian istilahnya.

Apakah ini tanda-tanda kiamat motor? Hahahaha… guyon kamuh, justru ini menjadikan dunia teknologi motor di tanah air makin berwarna. Kita sebagai konsumem harus terus “menekan” pabrikan untuk terus berinovasi mengembangkan teknologi-teknologi baru di setiap produk barunya. Jika saat ini “mesin banci” lagi tune in, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan akan ada teknologi baru hasil inovasi pabrikan lain. Ban tubeless mulai menggantikan ban dalam, keyless sudah mulai ramai, apa selanjutnya?

RA-

Advertisements

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*