Honda Mundur Dari Seri 1 IRS 250, Bagaimana Kalau Itu Salah Regulasi?

Lagi ramai dengan topik mundurnya Honda di seri 1 kejuaraan balap Indospeed Race Series (IRS) kelas 250 cc. Ada tiga alasan utama mengapa mereka memutuskan tidak ikut setidaknya di seri 1 yakni jadwal yang dimajukan, hasil uji dyno yang kalah jauh dan ketersediaan part racing di pasaran yang minim. Oke, kita bahas tapi dari sisi yang berbeda ya…

Berbagai opini bermunculan terkait keputusan Honda ini. Bagi pecinta Honda jelas pembelaan dilontarkan seperti memaklumi keputusan itu karena balapan memang butuh persiapan. Persiapan minim sama saja hanya untuk kalah. Di sisi seberang menyebut Honda takut dengan rival. Sebab jika kalah akan berimbas ke penjualan. Lalu, siapa yang benar? Tergantung posisi brosis di sisi yang mana.

Namun, yang perlu digarisbawahi di sini adalah walaupun Honda dengan CBR250RR nya absen di seri 1 IRS namun di level yang berbeda mereka justru tengah eksis di ajang balap tingkat Asia bernama ARRC (Asia Road Racing Championship) di kelas AP250. Bahkan, prestasinya tidak bisa dibilang jelek. Apa yang terjadi, mengapa Honda sangat siap di tingkat Asia namun justru keder di tingkat lokal?

Dari berbagai informasi yang RA baca, spesifikasi teknis motor di AP250 lebih menitikberatkan ke spesifikasi standar. Artinya ubahan di motor hanya “ala kadarnya” sehingga CBR250RR yang baru saja dilaunching punya cukup waktu untuk “sekedar” mengikuti aturan main AP250. Nah, berbeda di IRS 250 dimana konon katanya ini masuk kategori full race. Ubahan jeroan mesin bisa sampai habis-habisan (tentu saja masih tetap dalam koridor regulasi). Tentu saja, kondisi begini membuat tim baru dengan motor baru harus secepat mungkin beradaptasi dengan regulasi. Dan nampaknya Honda tidak benar-benar siap mengikuti balapan seri perdana. Akhirnya mereka putuskan mundur sementara, daripada maksa ikut trus kalah trus dibully habis-habisan. Kira-kira begitu kali yang mereka pikirkan walaupun dengan mundurpun sebenarnya arus bullying juga tidak kalah deras.

Yang jadi pertanyaan adalah IRS ini berkiblat kemana? Jika memang balap lokal sekelas IRS diposisikan sebagai kawah candradimuka pembalap-pembalap muda tanah air untuk kemudian bertahap naik ke level asia hingga akhirnya bermuara di internasional sekelas MotoGP, maka apa yang dilakukan panitia IRS bisa sedikit kita kritik.

Namanya pembinaan jelas berjenjang. Dan sudah sebuah keharusan jika ajang kompetisi di level terbawah mengacu pada regulasi di level di atasnya. Artinya, regulasi IRS ada baiknya mengacu pada regulasi ARRC. Sekali lagi, ini jika IRS dianggap jenjang di bawah ARRC. Nah, kasus Honda yang mundur dari seri pertama IRS 2017 gara-gara kesiapan yang minim bisa terjadi gara-gara regulasi yang tidak berkelanjutan alias tidak sinkron. IRS pilih jalan A, ARRC di jalur B. Gak ketemu.

Lucu jika pabrikan menjadikan ajang balap lokal sebagai jembatan menuju level di atasnya (Asia) padahal regulasi keduanya tidak sejalan. Akibatnya, jagoan di kelas lokal akan memulai dari nol lagi saat naik kelas ke level Asia. Makanya, ke depan jika memang ajang balap nasional hendak dijadikan batu loncatan ke level Asia kemudian dunia, ada baiknya regulasinya mengikuti level yang di atasnya, bukan malah bikin regulasi seenaknya sendiri yang tidak nyambung.

RA

*Mohon dikoreksi jika opini di atas salah. RA siap menghapus tulisan ini jika memang ada kesalahan fatal yang ada di dalam tulisan di atas.

Advertisements

8 Comments

  1. Balapan matic ama motoprix moped juga gak sesuai tuh, bubarin aja balapan di indonesia. Eh motoprix bebek jangan ding, honda udah turun soalnya

  2. Bukannya Arrc juga berubah2 regulasinya ya..
    Yg dulu pake barbel jg, cbr 300 yg diuntungkan…
    Kalo yg baru 2017 juga banyak diubah yg kasi keuntungan cbr250rr..
    Loby pabrikan kurang kuat kyknya buat balap lokal.. 😀

  3. intinya Honda takut aja mz bro, takut kalo kalah sama Yamaha dan Kawasaki di IRS, toh regulasi yg sekarang IRS juga kedua pabrikan yg berpartisipasi (Kawasaki dan Honda) juga kagak protest, dulu pertama kali saat R25 terjun juga sering kalah melulu, tapi Yamaha juga ngga protest, dulu di ARRC R25 disuruh kasih barbel 10 Kg, karna Hondut cuma punya jagoan silinder Jomblo, juga tetep dijalani, persoalan nanti pada saat Race menang atau kalah itu urusan belakangan, yang penting tetep ikut balapan dan berusaha untuk menang, apapun hasilnya nanti.

    Jadi intinya, (sebelumnya) marilah kita semua mencoba untuk menggunakan akal pikiran yang jernih, buang jauh2 pikiran ala Fans Boy dan Blogger Amvlop, disini kita bisa melihat bahwa Mungkin, Yamahalah yang sebenarnya punya spirit untuk ikut balapan, seorang fighter sejati, walaupun dengan belum punya pengalaman, walapun belum banyak racing part (dulu), walaupun belum ada dan belum lengkap data riset (dulu), walaupun “dihadang” dengan regulasi yg sifatnya “merugikan”, namun mereka tetap ikut balapan apapun resikonya, menang atau kalah itu urusan belakangan, berdampak dengan penjualan atau ngga itu urusan belakangan, yang penting ikut, kalaupun kalah no problem, yang penting bisa ikut balapan sambil riset terus berjalan, sekarang bisa dilihat hasilnya, R25 jadi mendominasi balapan kelas 250cc, itu adalah buah dari yang namanya kerja keras riset, kegagalan demi kegagalan, yang akhirnya berbuah manis. Berikutnya mari kita tengok Kompetitor terdekatnya, dulu karna gak punya jagoan dual silinder, regulasi diubah supaya yg dual dipasangi barbel, yg single minta jadi 300cc, sekarang minta supaya regulasi diubah, suspensi harus standar, jelas saja dia yg unggul lha wong shock standarnya aja udah Up Side Down, sekarang minta supaya regulasi diubah lagi supaya IRS spek korekannya diturunkan dg alasan bla..bla…bla…, ini dagelan namanya….hahaha….,

    Akhirnya dari semua itu bisa ditarik kesimpulan bahwa, (mungkin) apapun nama kejuaraan balapnya, jika Honda ikut terjun didalamnya, mereka harus ikut campur tangan dalam perubahan regulasi (yang lebih bisa menguntungkan mereka), jika regulasi tersebut dirasa tidak menguntungkan yg berdampak jagoannya jadi kalah dalam balapan, maka mereka akan mundur saja, atau bisa saja kita bilang, MENYERAH SEBELUM BERTANDING.

    kurang lebihnya ane mohon maaf, dan #semogapaham 🙂

  4. Sebenarnya sih wajar klo ada hubungnnya dengan imej produk..hehe
    tapi karena sdh kadung diblow up punya tenaga buas oleh para fansboy dan sebagian “bloger akhirnya jadi begini…kena bully rame2..
    wajar kan klo penikmat balap pengen tau buktinya..?

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*