Pol Espargaro Tentang Kesalahannya Bertahan Di Yamaha dan Ambisinya Bersama KTM

Pol Espargaro adalah juara dunia Moto2 tahun 2013. Bakatnya kemudian diendus oleh Yamaha dan segera direkrut pabrikan garpu tala di musim berikutnya. Namun, berhubung di tim utama masih diperkuat Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo, Pol kemudian “disekolahkan” ke tim satelitnya, Yamaha Tech 3. Asa Pol untuk menjadi rider utama Yamaha mulai dipelihara.

Debut Pol di kelas para raja cukup menjanjikan. Posisi ke-6 di klasemen akhir bisa dijadikan patokan bahwa seorang Pol cukup berkualitas. Yamaha tidak salah merekrutnya. Sayang, duet tim utama Rossi-Lorenzo ternyata maaih sulit untuk disingkirkan. Musim perdana berakhir manis, Pol mendapat tawaran dari Suzuki untuk bergabung. Suzuki memang berencana comeback ke MotoGP tahun 2015. Namun, Pol menolak dan masih menyimpan asa menjadi rider utama Yamaha.

“Setelah tahun pertama di Yamaha Tech 3, saya memiliki kesempatan pindah ke Suzuki dan saya berkata, ‘Tidak. Saya ingin bertahan di Yamaha’.

Sebuah keputusan yang akhirnya disesali Pol. Ia menyadari setahun kemudian bahwa Ia telah salah mengambil keputusan bertahan di Yamaha. Ia kemudian mengambil contoh sang kakak, Aleix, yang memilih pindah dari Forward Yamaha ke Suzuki, kemudian Maverick Vinales yang juga pindah ke Yamaha, akhirnya di musim 2016 Pol memutuskan cukup di Yamaha dan saatnya bertualang. Apalagi saat itu ada calon tim baru MotoGP menawarkan bergabung, KTM.

“Ketika KTM muncul, saya pun berkata, ‘Oke, saya tidak tahu apakah akan sama seperti di Suzuki. Lebih baik atau lebih buruk. Tapi tentunya itu tim pabrikan dan mereka memiliki semangat kemenangan”.

“KTM datang ke dunia MotoGP dengan proyek yang sangat bagus bersama Red Bull. Mereka menawari saya dan saya berkata: ‘Ya. Inilah yang saya inginkan. Inilah di mana saya ingin pegi”.

Kemudian kita semua tahu saat ini di musim 2017 ini seorang Pol Espargaro telah menjadi bagian dari proyek besar Red Bull KTM Racing yang menargetkan bertarung di level juara dunia dalam 3 tahun ke depan.

Seri pembuka di Qatar Pol dan rekan setimnya, Bradley Smith, memang gagal mendulang poin. Namun, keduanya sukses melaju hingga finish. Sebuah hasil yang tidak buruk-buruk amat untuk sekelas tim debutan.

Pol percaya KTM akan terus berkembang. Saat ini mungkin masih belum meraup poin, namun pengembangan mesin yang sangat cepat bisa saja di pertengahan musim mereka mulai bangkit dan bertarung untuk zona poin.

“Saya berharap untuk bertarung demi poin secepat mungkin. Itu akan sulit, tapi saya mempercayai KTM”.

Akhir pekan ini, Pol dan Bradley akan memulai petualangan kedua di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Argentina. Trek yang baru dan juga tantangan baru bagi pabrikan asal Austria itu. Tantangan juga bagi Pol Espargaro yang merasa KTM RC16 tunggangannya lebih cocok dengan karakter balapnya.

“Dengan KTM, saya merasa motor ini milik saya. Motor itu liar dan kuat di titik pengereman, serta saya suka mengerem terlambat ketika masuk ke tikungan. Saya suka cara mengendarai motor ini dan saya pikir itu sedikit lebih baik dibandingkan ketika saya mengendarai Yamaha,” tutup Pol.

-RA-

Credit: motogp.com, id.motorsport.com

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*