Ketika Brotherhood Menjadi BAPERHOOD, Suek…


Ketika seorang wanita curhat tentang ulah celubsapedah yang menurutnya sangat merugikan dan meresahkan. Curhatnya di media sosial sekelas mukabuku akhirnya mendapat respon dari mereka yang mengaku celub sapedah di negeri antah berantah sana, karena si wanita yang berprofesi sebagai tukang cuap-cuap itu memang berdomisili di negeri itu. Sayangnya respon yang diberikan sangat lebih. Bukannya koreksi diri malah meminta si wanita cuap-cuap minta maaf, pakai surat pernyataan bermaterai pula. Semoga tidak ada persekusi di sini.

Padahal kalau membaca curhatan wanita cuap-cuap tersebut, tidak ada yang salah. Kalaupun beliau menyebut ‘celub sapedah‘ di dalam kalimatnya, itu mungkin memang persepsi beliau ketika mengalami kejadian tidak mengenakkan di jalan raya dengan banyak sapedah yang sedang karnaval mungkin. Dianggaplah itu sebagai celub sapedah. Kenapa tidak menyebut langsung nama celub sapedahnya? Pengalaman sih kalau ketemu rombongan peturing sapedah di jalur pantura sinibondo, sungguh luar biasa jika bisa tahu nama celub sapedahnya ketika mereka ngebut kayak setan (setan koq ngebut). Paling banter bisa kita tahu jenis motornya. Apalagi ini wanita cantik berprofesi mulia itu yang secara asumsi pengetahuan tentang sapedah masih kalah dari pria-pria macho di luar sana (umumnya lho ya).

Jadi, ketika beliau menyebut rombongan peturing sapedah di jalan raya sebagai celub sapedah, siapa yang bisa menyalahkan? Lalu, ketika mereka yang mengaku celub sapedah merasa tersinggung dengan curhatan si wanita cuap-cuap, patut dipertanyakan kondisi mental dan pikirannya. Bahkan sampai mendatangi si wanita itu agar meminta maaf di atas materai pula, situ sehat cong?

Ngaku anak celub sapedah yang katanya menjunjung tinggi slogan BROTHERHOOD tapi koq baperan. Situ BAPERHOOD kali ya? Slogan koq dijunjung, lakoni lah…

Yang menarik adalah di akhir curhatan si wanita cuap-cuap muncul kalimat menarik:

Tak suka? Abaikan…
Tak peduli? Okelah…
Tersinggung? Ngerasa ya…
Protes? Hayuukk…

Jadi benar apa yang ditulis beliau setelah melihat respon mereka yang mengaku sebagai celub sapedah itu. Saia mah senyum-senyum sajah…

Pernah membaca opini seorang rekan blogger yang juga sebagai manajer di sebuah perusahaan air minum dalam kemasan, kurang lebihnya bapak satu anak itu berpendapat begini:

Anak-anak celub sapedah ketika melakukan kegiatan sosial semacam baksos, kelakuannya sangat sopan dan menyenangkan. Tapi, itu hanya terjadi ketika mereka tidak sedang di atas sapedah. Sebaliknya kelakuan berbalik 180 derajat ketika mereka melaju di atas sapedahnya, (pak manajer tolong koreksi kalau salah kutip ye…).

Jadi, jika ada anak yang ngakunya celub sapedah kemudian tersinggung dengan curhatan si wanita cuap-cuap lalu membalas seolah-olah ingin meyakinkan bahwa kelakuan mereka memang baik dengan memberi contoh kegiatan sosial mereka selama ini seperti baksos di tempat bencana, pemberian bantuan kepada korban bencana atau melakukan donor darah misalnya, ya kurang tepat juga. Lha wong si wanita cuap-cuap itu melihat kelakuan orang-orang celub sapedah ketika lagi karnaval di jalan raya, malah dikasih contoh pas lagi diem. Kalau mau membantah, bantahlah dengan memperbaiki kelakuan di jalan raya. Ngontel normal, tidak usah ngebut seolah-olah besok kiamat, hormati hak pengguna jalan lain jangan merasa yang punya jalan kemudian bisa seenaknya. Jadi, intinya berlakulah layaknya pengguna jalan yang lain saat di atas aspal, bukan karena rame-rame bisa seenaknya gebar-geber onthel seenak udel e. Sekolahmu kurang jauh, bro!

Bisa?

Advertisements

1 Comment

Comments are closed.