Knalpot Purbalingga: Kepalsuan Dari Ketidakpedulian!

ktm indonesia

Purbalingga? Pecinta otomotif, khususnya roda dua, pasti langsung terbayang dengan knalpot, bagian dari motor yang tidak saja punya peran fungsional namun juga sisi kosmetik. Yup, Purbalingga, sebuah kota di Jawa Tengah telah mendunia namanya berkat statusnya sebagai sentra produksi knalpot. Mendunia tidak hanya dari sisi positif namun juga negatif.

 

Patung Orang Sedang Membuat Knalpot ciri khas Purbalingga (gambar brilio.net)

Positifnya, knalpot-knalpot buatan home industry Purbalingga sudah merambah ke dunia internasional. Seperti yang dialami seorang pembuat knalpot, Muhadjirin. Tidak tanggung-tanggung Muhadjirin pernah menerima pesanan knalpot dari produsen otomotif raksasa, Mercedes, dari Jerman seperti dikutip dari kontan.co.id (14/6/2011).

Namun, akhir-akhir ini seiring makin massive-nya penyebaran internet ke pelosok-pelosok, mulai timbul masalah. Knalpot-knalpot produksi mereka dengan mendompleng merk luar dengan santainya dipromosikan di web-web atau situs jual beli online dan otomatis semua pihak, termasuk produsen aslinya, akan melihat itu. Alhasil, beberapa produsen knalpot Purbalingga mendapat teguran, somasi hingga dilaporkan secara hukum oleh produsen knalpot kenamaan dunia. Pasalnya, mereka menggunakan brand knalpot resmi tanpa izin alias ilegal.

Sebut saja brand-brand seperti Brocks Performance, Austin Racing, Kawahara Racing hingga Yoshimura dan Akrapovic pernah merasakan bagaimana geramnya label mereka dipakai produsen asal Purbalingga.

Sebenarnya sangat disayangkan kejadian serupa terus berulang. entah apakah para produsen itu tidak pernah jera karena fulus mengalir terus atau ketidak-tahuan mereka soal HAKI atau hak paten merk dagang sehingga kejadian terus berulang.

Dikutip dari semarangpedia.com (27/9/2017) disebutkan bahwa Sentra produksi knalpot Usaha Kecil Menegah (UKM) di Kabupaten Purbalingga hingga kini masih dikelola secara konvensional mulai dari sistem produksi hingga pemasaran. Ini bisa menjadi tanda awal minimnya perhatian pemerintah daerah setempat, baik perhatian secara fisik yakni peningkatan alat produksi hingga edukasi mengenai hak paten merk dagang.

Padahal, dari data yang dikutip dari pikiran-rakyat.com (17/9/2015) pada tahun 2015 telah terdapat 173 unit usaha dengan tenaga kerja yang diserap sebanyak 837 orang. Dan dipastikan akan terus meningkat seiring makin populernya moda transportasi sepeda motor.

knalpot Purbalingga saat mengikuti pameran di Singapura (gambar republika.co.id)

Sungguh sangat disayangkan jika potensi besar kanlpot Purbalingga tercoreng gara-gara ketidak-pedulian pemerintah daerah yang abai memberikan edukasi kepada produsen knalpot di wilayahnya tentang pentingnya merk dagang. Sehingga, masih sering dijumpai knalpot Purbalingga yang memakai brand paten dunia yang ujung-ujungnya akan bermasalah dengan hukum.

“Sewaktu saya berada di EICMA 2015 Milan, Italy dan diskusi dengan bos knalpot SC Project, ada 2 kata yang keluar dari mulut beliau yang membuat saya kaget. 2 kata tersebut adalah “knalpot Purbalingga”. Singkat cerita, beliau menerangkan semua produsen knalpot Eropa sudah tau mengenai produsen yang berada di Purbalingga dan mereka telah diskusi langkah yang perlu di lakukan.” ujar Ron Rossi seperti dikutip dari roda2blog.com (29/7/2016).

Lihat, bagaimana begitu terkenalnya Knalpot Purbalingga ke mancanegara yang sayangnya lebih ke arah negatif.

Memang, tidak semua produsen knalpot Purbalingga mendompleng nama tenar produsen knalpot dunia. Masih banyak produsen lokal yang percaya diri dengan merk-nya sendiri seperti Jeffelin, Java, DRC, HRS dan sebagainya. Dan memang sudah seharusnya mereka bangga dengan produknya sendiri toh secara kualitas bisa dibandingkan dengan merk luar.

Padahal omset mereka per-bulan bisa mencapai 100 juta Rupiah dengan memproduksi knalpot lho. Seperti yang dialami Muhadjirin, pemilik pemilik Jet Hot Auto Muffler Purbalingga dilansir dari tribunnews.com (4/3/2013).

Sayang bukan jika potensi sebesar itu tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Bagaimana mungkin koar-koar “cintai dan pakailah produk-produk dalam negeri” jika yang koar-koar tak peduli perkembangan dan kemajuan industri kecil dan menengah di dalam negeri. Sekali lagi, kepedulian tidak hanya dalam bentuk finansial tapi juga harus disertai edukasi kepada produsen.

Advertisements

1 Comment

Comments are closed.