Hebat! Para Pembalap Ini Mengaku Puas Walau Gagal Raih Hasil Maksimal, Alasannya Keren!

Andrea Dovizioso menjadi pembalap paling berbahagia dengan kemenangannya di seri pembuka MotoGP Qatar akhir pekan lalu. Wajar, menang. Namun, ternyata ada beberapa pembalap yang tetap mengaku puas walau mereka berakhir di gravel atau finish di luar ekspektasi, bahkan finish di barisan belakangpun serasa juara. Karena mereka merasa telah tampil maksimal dan menemukan ‘sesuatu’ yang selama ini masih miss. Berikut rideralam.com mencoba merangkum komentar atau pernyataan beberapa pembalap dengan kondisi seperti di atas.

Johann Zarco

Mungkin, jika kita yang mengalami seperti Zarco, rasa kecewa jelas sangat besar. Bayangkan, 17 lap terus memimpin, hanya tinggal 5 lap lagi untuk menciptakan sejarah kemenangan pertama sepanjang karirnya di kelas premier, eh akhir-akhir balapan posisinya terus melorot gara-gara performa ban depan yang drop. Alhasil, pembalap Tech 3 itu harus puas finish ke-8. Kecewa jelas iya, tapi Zarco tetap merasa senang.

“Saya menyelesaikan balapan di posisi delapan dengan masalah teknis, saya pikir saya bisa bahagia tentang itu. Saya menikmati bahwa saya memimpin perlombaan, dan melakukan balapan dengan cara ini, ketika semuanya akan baik untuk semua balapan, saya akan berjuang untuk kemenangan,” ujar Zarco tetap positif (motorsport.com, 18/3/2018).

Jorge Lorenzo

Nasib Lorenzo sebenarnya lebih buruk dari Zarco. Tidak saja harus menyelesaikan lomba lebih dini akibat crash di lap 12, namun Lorenzo juga berpotensi mengalami kecelakaan fatal setelah rem Desmosedici GP18 yang dikendarainya kehilangan fungsi rem total. Lorenzo mengalami hal itu di tikungan 4, motor terus melaju kencang di gravel menuju dinding pembatas, beruntung Lorenzo masih bisa melompat dari motor untuk menghindari tabrakan fatal.

“Saya sangat beruntung karena itu (crash)  tidak terjadi di tikungan pertama karena jika terjadi pada 300 kpj, ceritanya akan berbeda. Saya beruntung tapi hari ini kami mendapat nol poin. Saya rasa saya bisa bertarung jika saya tidak mengalami masalah rem untuk bertahan di grup depan. Saya tak tahu, semuanya mungkin saja, bahkan memenangi balapan, finis ketiga atau kelima,” ungkap Lorenzo perihal performanya di Qatar (motorsport.com, 19/3/2018).

Maverick Vinales

Vinales adalah juara Qatar tahun lalu. Tapi, musim ini Ia sangat bermasalah di tempat yang sama. Sejak latihan bebas hingga kualifikasi Vinales tidak pernah bisa tampil optimal. Bahkan, Ia harus masuk kualifikasi pertama setelah di kombinasi waktu FP1-FP3 hanya menduduki posisi 12. Di kualifikasi keduapun Vinales belum tampil sesuai keinginan. Ia harus start dari posisi 12. Di awal-awal race-pun, pembalap yang akan di Yamaha hingga 2020 itu terus tercecer di belakang, di luar top 10. Walaupun akhirnya finish keenam, secara umum Vinales kehilangan kecepatannya di Losail. Walau begitu, Ia mengaku telah menamukan ‘sesuatu’ yang bisa menjadi bekal di Argentina.

“Jadi saya benar-benar marah, tetapi dengan cara yang sama saya sangat senang karena tim tidak pernah menyerah dan akhirnya, dengan kesabaran, kami menemukan set-up yang benar-benar bagus. Sesuatu yang saya suka. Sejujurnya, jika Anda menyelesaikan balapan seperti itu, Anda ingin akhir balapan selanjutnya digelar akhir pekan depan. Saya cukup termotivasi,” kata Vinales (crash.net, 18/3/2018).

Alex Rins

Performa pembalap Suzuki Ecstar ini sebenarnya lumayan. Sejak sesi latihan bebas hingga balapan, Rins mampu konsisten di depan. Bahkan, Ia sempat bertarung dengan Andrea Dovizioso dan Danilo Petrucci. Rins mengaku mudah saja mengikuti Dovi di belakangnya, artinya masih bisa mengimbangi. Sayang, Ia mengeluhkan performa rem yang buruk. Akibatnya, sama dengan Lorenzo di lap 12 Rins mengalami crash saat tengah bertarung dengan Petrucci memperebutkan posisi 6. Tapi, walau terjatuh Rins merasa puas karena GSX-RR sangat kompetitif dan menemukan keseimbangan di seluruh sektor.

“Apa yang saya lihat dalam balapan adalah bahwa kami benar-benar kompetitif di tikungan cepat dan saat keluar dari tikungan lambat. Secara umum kami memiliki motor yang sangat stabil. Kami memiliki motor yang sangat seimbang. Hari ini kami kehilangan sedikit dalam pengereman tetapi di seluruh area, itu sempurna,” ungkap Rins tetap optimis (crash.net, 19/3/2018).

Marc Marquez

Bahkan seorang Marc Marquez yang di setiap balapan punya target menang saja cukup puas dengan hasil runner up di Qatar kemarin. Bukan tanpa sebab, karena Losail dalam sejarahnya memang selalu menjadi sirkuit yang tidak bersahabat bagi Honda. Musim lalu saja Marquez hanya finish keempat alias di luar podium. Padahal, Marquez sebenarnya punya kesempatan besar untuk menang kemarin. Pasalnya saat di putaran terakhir, tikungan terakhir Ia sempat unggul atas Dovi, namun akhirnya akselerasi prima Desmodovi membuatnya kembali ke posisi dua dengan gap tipis 0,027 detik saja. Nyaris…

“Saya benar-benar senang berada di tempat kedua di trek ini karena ini adalah salah satu yang paling sulit bagi saya di kalender, ”kata Marquez. “Sepertinya kita sudah memulai musim ini seperti yang kita selesai tahun lalu – déjà vu – di tikungan terakhir dengan Andrea masuk, melebar, dia masuk dan dia memenangkan perlombaan. Saya harap kedepannya akan berubah” (crash.net, 18/3/2018).

Hafizh Syahrin

Bagi pembalap seperti Rossi, Marquez, Dovi atau Vinales, finish di luar top 5 adalah bencana. Maklum, target mereka adalah juara dunia. Namun, bagi seorang rookie sekelas Syahrin, finish posisi 14 adalah istimewa. Serasa menang. Bagaimana tidak, datang dengan status rookie, persiapan di MotoGP paling singkat karena baru bergabung paling akhir dengan Tech 3, start dari posisi 16, Syahrin mencetak sejarah bagi Malaysia dan dirinya sendiri berhasil meraih 2 poin pertamanya di kelas para raja. RA jadi membayangkan bagaimana jika seorang Dimas Ekky atau Mario SA yang melakukannya, bakalan heboh luar biasa media-media di sini. Puja-puji setinggi langit bak telah juara dunia akan menghiasi headline news.

Jika membaca komentar-komentar para pembalap di atas, jadi bisa menilai bahwa hasil akhir bukanlah segalanya. Mereka senang dan puas atas hasil buruk yang dialaminya karena berbagai sebab. MotoGP Qatar barulah seri pertama dari 19 seri yang akan dilangsungkan musim ini. Jadi, walau hanya sedikit progress yang dialami di Qatar, tentu itu menjadi modal bagus menghadapi seri-seri berikutnya. Mereka telah menemukan ‘sesuatu’ baik pada motor maupun kepercayaan dirinya untuk mengarungi kompetisi yang panjang.

Bahkan, andaikan mau sedikit aware soal Dovi yang menang, maka rasa kuatir justru muncul. Bagaimana mungkin Honda dan Marquez yang selalu kesulitan di Qatar bisa kalah hanya dengan jarak sekejapan mata saja. Jangan-jangan di trek yang Honda kuat, bisa jauh tertinggal nih kita. Kira-kira begitu kali ya…

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*