Ketika Poncharal Mengambil Resiko, Hafizh Syahrin Orangnya!

ktm indonesia

Salah satu kejutan yang terjadi menjelang bergulirnya musim balap 2018 adalah keputusan Tech 3 menggaet Hafizh Syahrin. Mengejutkan karena Syahrin belum punya pengalaman sama sekali di kelas premier. Selain itu, yang digantikannya adalah Jonas Folger, pembalap Jerman yang sempat finish runner up di Sachsenring musim sebelumnya. Lalu, pertanyaan yang terus menyeruak ke permukaan adalah “mengapa Syahrin?”.

Sebelum memutuskan merekrut Syahrin, Tech 3 telah lebih dulu memberikan trial untuk pembalap lain menggunakan Yamaha YZR-M1. Sebut saja bintang World Superbike berdarah Indonesia dari tim PATA Yamaha, Michael van Der Mark atau eks rider MotoGP yang kini juga berkompetisi di WSBK asal Kolombia, Yonny Hernandez. Tapi, semuanya mentah ketika sang bos Herve Poncharal mengetuk palu memilih Syahrin. Koq bisa?

Jujur nih, RA berpikir Syahrin direkrut karena ada titipan sponsor di sana. Ya, Syahrin kan punya dukungan kuat CEO Sirkuit Sepang, Razlan Razali, tapi rupanya tidak. Ternyata Poncharal yang sangat menginginkan sosok Syahrin untuk mengendarai YZR-M1. Wow…

Alasan perekrutan Syahrin adalah murni soal karakter Poncharal yang senang mengambil resiko. Seperti yang dikatakannya kepada laman resmi kejuaraan seperti dimuat di motorsport.com (27/3/2018).

“Almarhum Ralf Waldmann sering berkata, ada garis tipis antara nol dan pahlawan. Ketika Anda memilih pembalap, selalu ada unsur risiko. Saya suka orang yang mengambil risiko dan saya juga melakukannya. Dalam persaingan, Anda harus menyukai tantangan – jika tidak, Anda berada di tempat yang salah,” ujar Poncharal.

Bahkan, menurut Poncharal pihak sponsor yang mensupport Tech 3 harus diyakinkannya soal Syahrin ini. Maklum, nama Syahrin bagi mereka adalah nothing. So, Poncharal menyebut dirinya harus bekerja keras meyakinkan para sponsor agar bisa menerima Syahrin.

Satu hal lagi, ternyata Poncharal tidak begitu saja tiba-tiba menyodorkan nama Syahrin. Layaknya scout, pemilik tim memang harus jeli melihat dan membaca potensi pembalap tidak terkenal. Dan itu dilakukannya sejak musim lalu. Syahrin dilihatnya punya potensi ketika pemuda 24 tahun itu berduel dengan Xavi Vierge di Moto2 musim lalu. Tapi ternyata saat Poncharal melihat potensi Syahrin, sejatinya pria berkebangsaan Prancis itu justru tengah mengikuti perkembangan Xavi. Lucky banget ya…

Dan, akhirnya ketika musim telah berjalan, Syahrin tampil impresif di Qatar dengan finish ke-14 alias meraih 2 poin, Poncharal mengaku bahagia dengan keputusannya itu.

“Sekarang saya benar-benar bahagia. Saya tidak mengatakan dia akan tercepat, tapi dia melakukannya dengan baik. Saya suka memilih pembalap yang tidak terlalu dikenal,” tutup Poncharal.

Apa yang bisa kita petik dari cerita indah Syahrin di atas? Tentu, Syahrin bisa menjadi role model bagi pembalap muda Indonesia saat ini. Mimpi menembus MotoGP bukanlah sekedar khayalan. Pemuda negeri jiran yang secara fisik dan ras sama dengan Indonesia bisa, seharusnya kita juga bisa. Pemerintah harus jeli membaca ini. Syahrin bisa seperti saat ini tidak lepas dari dukungan pemerintah Malaysia lewat Sepang International Circuit (SIC) Manajemen.

Langkah awal Indonesia untuk menciptakan pembalap-pembalap muda berkualitas tentu saja bisa dengan cara segerakan bangun sirkuit baru sekelas MotoGP, “paksa” Dorna untuk menjadikan kita tuan rumah (dan sayangnya kita yang masih mencla-mencle ketika Dorna justru sudah menginginkannya). Rekrut pembalap-pembalap muda tanah air seperti Mario Aji misalnya di bawah manajemen yang serius di bawah komando langsung pemerintah.

Jika dana menjadi masalah, paksa atpm-atpm seperti Honda, Yamaha , Kawasaki atau Suzuki untuk patungan membiayai mereka. Mosok gak mau, sudah nyari duit di sini koq tidak mau membantu. Biarkan para atpm itu menjadi sponsor dibalik layar, bukan sebagai pelaku pembinaan pembalap seperti saat ini yang ujung-ujungnya menjadikan pembalap sebagai marketing produk-produk mereka (eh bagian ini koreksi kalau RA salah ya).

Kita rindu dengan prestasi anak bangsa, cak!

Advertisements

1 Comment

  1. sebenernya kang kalo soal balapan, nggak perduli nasionalismenya siapa kang, yang penting sponsor dulu, baru nasionalisme. dan bagi sponsor adalah seberapa menjual pembalap yang dipilih, modal harus balik, bahkan harus kembali berlipat2.

Comments are closed.